Di tengah gencarnya kampanye FIFA tentang keberlanjutan dan sepak bola hijau, Piala Dunia 2026 justru berada di ambang sebuah rekor yang kontradiktif. Turnamen yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko itu diprediksi menjadi edisi dengan dampak lingkungan terbesar sepanjang sejarah.
Berbeda dengan asumsi umum yang menyoroti stadion atau fasilitas pertandingan, sumber utama permasalahan justru terletak pada skala geografis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Untuk pertama kalinya, turnamen ini akan diselenggarakan di tiga negara dengan bentangan wilayah yang sangat luas.
Sejumlah studi memperkirakan Piala Dunia 2026 dapat menghasilkan lebih dari sembilan juta ton emisi karbon dioksida. Angka fantastis itu sebagian besar disumbang oleh aktivitas penerbangan massal selama turnamen berlangsung.
Format baru dengan 48 tim turut memperparah persoalan. Jumlah pertandingan melonjak drastis dari 64 menjadi 104 laga. Konsekuensinya, pergerakan pemain, ofisial, media, sponsor, dan jutaan suporter juga meningkat secara eksponensial.
Amerika Serikat sebagai tuan rumah utama memiliki wilayah yang sangat luas. Banyak kota penyelenggara dipisahkan oleh ribuan kilometer, membuat perjalanan udara menjadi pilihan yang hampir tidak bisa dihindari. Seorang suporter yang setia mengikuti timnya dari fase grup hingga babak akhir berpotensi melakukan perjalanan lintas benua beberapa kali hanya dalam waktu beberapa minggu.
Kritik juga muncul terhadap lokasi stadion yang banyak berada di kawasan pinggiran kota dengan akses transportasi publik yang terbatas. Akibatnya, penggunaan kendaraan pribadi diperkirakan melonjak signifikan selama turnamen. Persoalan ini bahkan sempat memicu protes karena tarif menuju stadion dibanderol berkali-kali lipat dibandingkan tarif harian normal.
Sementara itu, bagi banyak pengamat lingkungan, kondisi ini menunjukkan kontradiksi yang mencolok antara kampanye hijau FIFA dengan realitas di lapangan. Meskipun FIFA terus menggaungkan komitmen keberlanjutan, skala perjalanan yang harus ditempuh jutaan orang selama turnamen dinilai sulit dikompensasi hanya melalui program offset karbon atau kampanye ramah lingkungan.
Kritikus menilai Piala Dunia 2026 menjadi contoh nyata bagaimana ekspansi turnamen dan pemilihan lokasi yang sangat luas justru meningkatkan jejak karbon secara signifikan. Ketika sepak bola berusaha tampil sebagai industri yang lebih hijau, turnamen ini justru berpotensi dikenang sebagai ajang dengan dampak lingkungan terbesar yang pernah dihasilkan dalam sejarah olahraga tersebut.
Artikel Terkait
AS Luncurkan Serangan Balasan ke Iran sebagai Respons Penembakan Helikopter Apache di Selat Hormuz
Herdman Sesali Penyelesaian Akhir Kurang Tajam meski Timnas Indonesia Kalahkan Mozambik 1-0
Ribuan Guru Blokir Akses ke Stadion Azteca Jelang Pembukaan Piala Dunia 2026
Presiden Miliki Hak Prerogatif Perpanjang Usia Pensiun Kapolri, Wamenkum Tegaskan