Di tengah hiruk-pikuk politik menjelang pemilu, dua tokoh mencuri perhatian dengan gaya pencitraan yang kontras. Keduanya sama-sama ingin dekat dengan rakyat, tetapi caranya berbeda jauh.
KDM, misalnya, gencar memproduksi konten yang menampilkan dirinya membantu orang-orang miskin: penjual cobek, penjaja tisu, hingga ojek online perempuan yang menjadi single parent. Penyajiannya dramatis, dengan iringan musik yang menyentuh, mimik wajah penuh empati, dan tak jarang air mata mengalir. Adegan berakhir dengan kebahagiaan saat lembaran rupiah berpindah tangan.
Di sisi lain, Anies memilih jalan yang lebih rasional. Ia merintis program pembangunan jembatan di berbagai daerah pelosok. Bagi yang berpikir logis, program ini luar biasa. Jembatan menghubungkan dua desa yang sebelumnya terisolasi, membantu ratusan orang, dan menggerakkan perekonomian setempat. Warga pun bisa menghemat bensin karena tak perlu memutar jauh untuk ke desa sebelah atau pusat kecamatan.
Pertanyaannya, dari dua model pencitraan ini, mana yang lebih berdampak? Mana yang lebih membekas di hati dan menyentuh perasaan?
Survei menunjukkan bahwa pemilih Indonesia lebih banyak bertindak berdasarkan dorongan emosional daripada pertimbangan rasional. Ini menjadi catatan penting bagi para calon pemimpin: rakyat mungkin lebih mudah tergerak oleh tontonan yang mengharu-biru daripada oleh program yang manfaatnya baru terasa dalam jangka panjang.