Mirah M Fahmid Dorong Transisi Energi Terbarukan Demi Ketahanan Ekonomi Masyarakat

- Selasa, 09 Juni 2026 | 11:05 WIB
Mirah M Fahmid Dorong Transisi Energi Terbarukan Demi Ketahanan Ekonomi Masyarakat

Perhatian terhadap pengembangan energi terbarukan kian menguat di berbagai negara, tak terkecuali Indonesia. Sumber energi bersih tidak hanya dinilai mampu menekan emisi karbon dan menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga diyakini dapat memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat melalui sistem energi yang lebih berkelanjutan serta tidak mudah terpengaruh gejolak pasar global.

Di tengah langkah Indonesia mengakselerasi transisi energi, Anggota DPD RI asal Nusa Tenggara Barat, Mirah M Fahmid, menilai bahwa peralihan dari energi fosil ke energi terbarukan juga harus dikaji dari sisi manfaat ekonominya. Pandangan tersebut ia sampaikan dalam program Sekar Agni Negeri yang digagas oleh sebuah media nasional.

“Jadi green energy atau blue energy atau apapun namanya itu ya. Kalau blue energy itu kan lebih ke kelautan ya. Kalau green energy pokoknya kita berusaha mengubah yang dari fosil menjadi energi-energi terbarukan lainnya. Itu sama aja konsepnya dengan tadi Net Zero Emission (NZE),” ujar Mirah dalam wawancara yang disiarkan pada Kamis, 4 Juni 2026.

Menurutnya, transisi energi dilakukan untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil yang menghasilkan emisi karbon tinggi dan berpotensi merusak lingkungan. Oleh karena itu, penggunaan energi yang lebih bersih dan berkelanjutan perlu terus didorong.

Ia menilai manfaat energi terbarukan tidak hanya dirasakan dari sisi lingkungan, melainkan juga berdampak langsung pada kehidupan ekonomi masyarakat. Ketergantungan terhadap energi fosil, kata dia, membuat masyarakat rentan terhadap gangguan pasokan maupun lonjakan harga akibat faktor eksternal.

“Kalau kita masih bergantung terhadap energi fosil itu. So misalnya kayak nelayan misalnya tadi butuh diesel. Tapi kalau misalnya stok dieselnya nggak ada. Akhirnya harganya jadi tinggi karena stoknya menipis. Akhirnya nelayan jadi tidak mampu membeli. Akhirnya nanti endingnya adalah dia tidak mampu melaut. Akhirnya tidak mampu memberi makan keluarganya dan segala macam,” katanya.

Mirah menjelaskan bahwa gejolak pasokan energi global dapat menimbulkan efek berantai hingga ke level rumah tangga. Kenaikan harga bahan bakar, misalnya, berpotensi meningkatkan biaya produksi dan mengurangi kemampuan masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi sehari-hari.

“Jadi banyak hal-hal itu akhirnya dari hal besar, yang rasa-rasanya kok kayaknya ini nggak langsung nyambung ke diri kita. But anyway itu sangat berimpak bahkan di level sangat mikro seperti itu, level kepala keluarga. Apalagi kalau misalnya harga dieselnya naik, bahan bakarnya naik, yang melaut jadinya susah. Jadi banyak sekali multiplier effect yang negatif jadinya yang terjadi,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong pengembangan energi bersih yang lebih terjangkau dan berkelanjutan. Salah satu contohnya adalah pemanfaatan energi surya yang dipadukan dengan teknologi penyimpanan energi agar dapat digunakan secara optimal.

“Jadi energi yang bersih misalnya kita punya pembangkit listrik tenaga surya yang apung misalnya. Jadi kita bikin dia terapung kecil aja gitu ya. Tapi kalau tenaga surya itu kan harus diimbangi dengan baterai. Karena matahari hanya mampu memberikan energinya hanya sekian jam yang optimal. Berarti itu kan kita harus storage, kita harus simpan energi itu agar bisa dipakai di malam harinya,” jelas Mirah.

Menurutnya, perkembangan teknologi penyimpanan energi membuka peluang pemanfaatan energi terbarukan yang lebih luas bagi masyarakat. Ke depan, teknologi tersebut bahkan berpotensi membantu kelompok masyarakat seperti nelayan untuk mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil.

“Nanti kita harus beli baterainya. Nanti baterainya kan ada yang ukurannya kecil. Mungkin nanti ada teknologi apa, akhirnya nelayan melaut pakai sumber energinya dari baterai. Jadi banyak peluang yang bisa dikembangkan dari energi bersih ini,” katanya.

Di samping mendorong pengembangan energi terbarukan, Mirah juga aktif mengawal konsep transisi energi berkeadilan yang memperhatikan dampak ekonomi daerah serta kesiapan masyarakat menghadapi perubahan menuju ekonomi hijau. Ia mendorong pemerintah daerah, khususnya di NTB, untuk menyiapkan pengembangan green jobs atau lapangan kerja hijau.

Lebih lanjut, ia mengatakan generasi muda perlu dibekali keterampilan yang relevan agar dapat mengambil peluang dalam industri energi terbarukan maupun sektor ekonomi berkelanjutan lainnya. Dengan demikian, transisi energi tidak hanya berkontribusi pada pengurangan emisi, tetapi juga membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat.

Kiprah Mirah M Fahmid menjadi salah satu potret kontribusi perempuan Indonesia dalam mendorong pembangunan ekonomi berkelanjutan melalui sektor energi. Melalui program Sekar Agni Negeri, kisah perempuan-perempuan inspiratif dari berbagai bidang yang memberikan dampak positif bagi masyarakat dan bangsa terus diangkat ke permukaan.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar