Menteri Pertahanan pemerintahan Taliban, Mullah Muhammad Yaqoob, kembali ke Kabul pekan lalu dengan membawa pesan keras bagi Pakistan setelah kunjungannya ke Moskow. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa negara tetangga yang kerap berseteru itu “tidak akan lagi berani” menyerang wilayah Afganistan dalam waktu dekat, merujuk pada perjanjian kerja sama militer-teknis yang baru saja ditandatangani di ibu kota Rusia tersebut. Yaqoob juga memastikan bahwa implementasi kesepakatan dengan Rusia akan segera dimulai.
Di sisi lain, Yaqoob berusaha meredam kekhawatiran komunitas internasional terkait kerja sama militer antara Taliban dan Rusia. Ia menekankan bahwa kesepakatan itu bukanlah pakta pertahanan atau keamanan, melainkan lebih berfokus pada perbaikan dan pemeliharaan sistem persenjataan buatan Rusia yang telah dimiliki Afganistan, termasuk helikopter dan sejumlah pesawat lainnya. Bahkan, ia menyebut kemungkinan kerja sama serupa juga dapat dijalin dengan Amerika Serikat, mengingat masih ada persenjataan AS yang tertinggal di Afganistan pasca penarikan pasukan NATO.
Pesan ganda ini tidak hanya menjadi bentuk penangkalan terhadap Pakistan, tetapi juga mencerminkan bagaimana Taliban dan pemerintah Presiden Rusia Vladimir Putin membingkai hubungan yang kian erat. Hubungan tersebut diposisikan bukan sebagai aliansi ideologis, melainkan kerja sama pragmatis yang memberikan keuntungan langsung bagi kedua belah pihak. Meski demikian, hingga kini rincian lengkap kesepakatan itu belum dipublikasikan.
Utusan khusus Rusia untuk Afganistan, Zamir Kabulov, menyatakan bahwa kerja sama tersebut berfokus pada perbaikan peralatan militer buatan Rusia dan berpotensi membuka jalan bagi kontrak pertahanan di masa mendatang. Namun, untuk saat ini, prioritas utamanya adalah memulihkan sistem persenjataan yang sudah dimiliki Afganistan. Sejumlah sistem persenjataan peninggalan era invasi Soviet pada akhir 1979 hingga satu dekade setelahnya masih bertahan dan digunakan hingga kini. Setelah 2001, Amerika Serikat dan NATO pun mengandalkan helikopter buatan Rusia, khususnya Mi-17, dalam membangun angkatan udara Afganistan karena pilot dan teknisi setempat telah terbiasa mengoperasikannya, serta dinilai sesuai dengan medan yang berat.
Pernyataan Yaqoob muncul di tengah meningkatnya ketegangan antara Afganistan dan Pakistan, yang ditandai dengan insiden saling serang lintas batas serta serangan udara di dalam wilayah Afganistan. Islamabad berulang kali menuduh Taliban melindungi militan Tehreek-e-Taliban Pakistan, namun tuduhan tersebut dibantah oleh pihak Kabul. Pemerintahan Taliban disebut tengah berupaya memperkuat kemampuan militernya sekaligus mengirimkan sinyal kepada Pakistan melalui pernyataan tersebut.
Sementara itu, Rusia dinilai memiliki kepentingan untuk memperkuat perannya sebagai faktor keamanan di kawasan Asia Tengah, di tengah memudarnya pengaruh Barat. Kantor berita negara Rusia, TASS, melaporkan bahwa Sekretaris Dewan Keamanan Sergei Shoigu menyatakan penolakannya terhadap rencana penempatan pangkalan Amerika Serikat atau NATO serta infrastruktur militer di Afganistan maupun negara-negara sekitarnya.
Abas Basir, mantan menteri dalam pemerintahan Afganistan sebelum Taliban kembali berkuasa, menilai hubungan antara Taliban dan Rusia bersifat “pragmatis dan berbasis kepentingan”, bukan sebagai aliansi politik yang sesungguhnya. Menurutnya, salah satu perhatian utama Rusia adalah kelompok Islamic State Khorasan (ISKP) serta risiko pemanfaatan wilayah Afganistan untuk mengganggu stabilitas Asia Tengah hingga mengancam keamanan domestik Rusia. Taliban yang selama ini memerangi ISKP dipandang Moskow sebagai “penyangga keamanan relatif”. Di sisi lain, Taliban memperoleh keuntungan berupa legitimasi politik di tingkat regional serta peluang ekonomi, termasuk dalam sektor perdagangan, khususnya impor energi dan gandum di tengah tekanan ekonomi. Basir juga menyoroti upaya Taliban untuk memperluas hubungan luar negeri guna menghindari ketergantungan pada satu atau dua aktor eksternal.
Analis keamanan dan politik Besmillah Taban menilai masih terlalu dini untuk menarik kesimpulan tegas mengenai isi kesepakatan antara Rusia dan Taliban. Hal ini tidak terlepas dari rekam jejak kedua pihak yang kerap membatasi informasi kepada publik. Taban juga menilai kunjungan Taliban ke Moskow dimanfaatkan untuk pesan domestik, sebagai upaya memaksimalkan nilai propaganda sekaligus meningkatkan moral internal setelah serangan Pakistan sebelumnya melemahkan kepercayaan di kalangan Taliban. Ia turut menyoroti dinamika lain yang berkembang pasca pernyataan Yaqoob. Setelah ia secara terbuka menekankan pentingnya kesepakatan tersebut, pejabat Rusia bergerak cepat meredam ekspektasi dengan menegaskan bahwa kerja sama yang ada saat ini bersifat terbatas, hanya mencakup perbaikan dan pemulihan peralatan militer peninggalan era Soviet.
Para analis menyebut kepentingan utama Rusia di Afganistan masih berfokus pada aspek keamanan, termasuk upaya membatasi peredaran narkotika melalui Asia Tengah. Jejak ekonomi Moskow di Afganistan dinilai masih terbatas, sehingga komitmen strategis jangka panjang belum terlihat jelas. Di sisi lain, Taliban menghadapi kebutuhan yang lebih mendesak. Peningkatan tekanan dari Pakistan serta penurunan kemampuan militer mendorong kelompok tersebut mencari sistem persenjataan yang siap digunakan, sekaligus mitra yang dapat menyediakan layanan pemeliharaan. Sejumlah pakar juga menyoroti tantangan dalam penggunaan peralatan militer buatan Amerika Serikat yang lebih baru, karena sulit dipertahankan tanpa ketersediaan suku cadang dan dukungan eksternal. Sebaliknya, peralatan asal Rusia dianggap lebih memungkinkan untuk tetap operasional jika jalur perawatan kembali dibuka.
Mantan diplomat Afganistan untuk Rusia, Ghaus Janbaz, menyatakan bahwa kesepakatan terbaru terkait persenjataan tidak semata bersifat teknis. “Ini mencakup kerja sama militer dan teknis, namun pada tingkat tertentu juga memiliki dimensi politik,” katanya. Janbaz juga menyoroti posisi Rusia sebagai salah satu negara yang secara resmi mengakui pemerintahan saat ini di Kabul. Ia menyebut, di tengah tekanan yang dihadapi Rusia akibat perang di Ukraina serta ketegangan dengan Eropa Barat, kawasan Asia Tengah dan koridor yang berbatasan dengan Afganistan menjadi semakin penting dalam perencanaan keamanan Moskow. “Afganistan juga berbatasan dengan negara-negara tersebut, dan ada kemungkinan ancaman muncul melalui Afganistan menuju negara-negara itu maupun Rusia, sehingga Rusia berupaya mengamankan jalur ini,” ujarnya.
Sejumlah pakar menilai menghangatnya hubungan Rusia dan Taliban merupakan bagian dari pergeseran geopolitik yang lebih luas di kawasan. Peneliti hubungan internasional Idrees Rahmani menyebut Afganistan kerap terseret dalam rivalitas kekuatan global akibat kelemahan struktural ekonominya. Tanpa ekonomi domestik yang kuat, pemerintah Afganistan cenderung bergantung pada pihak luar yang mampu menopang stabilitas negara, meski harus menghadapi konsekuensi dari pilihan tersebut. Rahmani juga menyoroti tumpang tindih ketegangan global, mulai dari rivalitas Amerika Serikat dan Cina, konflik Rusia dengan Barat terkait perang di Ukraina, hingga ketegangan India–Pakistan serta dinamika di Timur Tengah. Dalam konteks ini, Afganistan dinilai berisiko terombang-ambing di tengah perubahan tersebut.
Langkah Rusia mendekati Taliban dinilai mencolok jika dilihat dari konteks sejarah Afganistan. Invasi Soviet pada 1979 dan perang yang mengikutinya menjadi salah satu trauma besar bagi negara itu, memaksa jutaan orang mengungsi dan membentuk ulang kondisi sosial Afganistan selama puluhan tahun. Di tengah latar sejarah tersebut, Moskow kini memposisikan diri sebagai mitra keamanan bagi Taliban.
Artikel Terkait
Seniman Meksiko Sulap Tong Tequila Jadi Karya Seni Bernuansa Piala Dunia 2026
Saksi Sidang Korupsi Kepabeanan Akui Jadi Kurir Uang untuk Pejabat
Polres Ogan Ilir Dialog dengan Ojol dan Pengemudi Bentor Jelang Operasi Patuh Musi 2026
Pemerintah Bantah Program Komcad ASN Langkah Militerisasi, Tegaskan sebagai Amanat Konstitusi Bela Negara