Asosiasi Museum Indonesia (AMI) menilai penguatan museum harus menjadi bagian integral dari strategi nasional untuk menjawab krisis identitas dan karakter bangsa. Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial yang cepat, museum tidak lagi dipandang sekadar gudang penyimpanan benda bersejarah, melainkan sebagai ruang pembelajaran yang vital dalam menjaga jati diri bangsa.
Ketua Umum AMI, Putu Supadma Rudana, menegaskan bahwa pembangunan bangsa tidak bisa hanya bertumpu pada aspek ekonomi dan politik semata. Menurutnya, kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam membangun karakter dan kepribadian nasional. “Esensi pembangunan bangsa harus dibangun dari kebudayaan. Museum menjadi institusi yang merumahkan, mengkaji, merawat, dan menyampaikan kekayaan peradaban itu kepada generasi berikutnya. Karena itu museum memiliki posisi yang sangat strategis,” kata Putu dalam Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi X DPR RI.
Saat ini, Indonesia memiliki 516 museum. Dari jumlah tersebut, 373 museum telah terdaftar dan sekitar 289 di antaranya telah menjalani proses standardisasi serta evaluasi. Putu menilai, hadirnya kembali Direktorat Sejarah dan Permuseuman setelah terbentuknya Kementerian Kebudayaan pada 2024 menjadi momentum penting untuk memperkuat tata kelola museum secara nasional. Namun, ia mengakui bahwa sebagian besar museum di Indonesia masih dikelola oleh pihak swasta, yayasan, dan perorangan. Mereka menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan pendanaan hingga dukungan sarana dan prasarana yang belum memadai.
“Banyak tokoh dan masyarakat yang mendonasikan tenaga, pikiran, bahkan hartanya untuk membangun museum agar artefak dan karya budaya bangsa tidak seluruhnya keluar negeri dan tetap bisa dinikmati oleh anak bangsa. Museum dibangun bukan untuk profit, tetapi untuk manfaat dan peradaban,” ujarnya.
Putu menekankan perlunya memaknai ulang museum sebagai institusi yang hidup dan relevan dengan kebutuhan masyarakat modern. Museum, menurut dia, dapat menjadi ruang untuk memahami sejarah, memperkuat identitas budaya, serta membangun kesadaran kebangsaan, terutama di kalangan generasi muda. “Museum bukan tempat yang diasingkan atau ditinggalkan. Museum adalah pencapaian luhur sebuah bangsa. Museum adalah soko guru bangsa, rumah tertinggi kebudayaan, rumah abadi peradaban, rumah inspirasi, rumah narasi mulia Nusantara, dan rumah peninggalan luhur bangsa,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa cita-cita Indonesia sebagai bangsa yang berkepribadian dalam kebudayaan masih menjadi pekerjaan besar. Penguatan museum, lanjutnya, menjadi krusial untuk menjaga kesinambungan nilai-nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman. “Bangsa yang besar harus menjadikan kebudayaan sebagai lokomotif pembangunan jati diri dan kehidupan berbangsa. Di berbagai negara maju, kebudayaan menjadi penggerak berbagai sektor pembangunan,” ujarnya.
AMI juga mendorong kebangkitan kembali gerakan nasional “Ayo Kunjungi Museum Pertama”. Gerakan ini bertujuan agar museum menjadi destinasi awal masyarakat saat mengunjungi suatu daerah. Langkah itu dinilai dapat memperkuat pemahaman terhadap sejarah, nilai budaya, dan identitas lokal sebelum masyarakat mengunjungi destinasi wisata lainnya.
Di sisi lain, AMI menyoroti belum adanya Undang-Undang Permuseuman yang secara khusus mengatur museum di Indonesia. Meskipun Indonesia telah memiliki Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya dan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan, posisi museum dalam kedua regulasi tersebut dinilai masih terbatas. “Rumahnya belum ada. Kita punya regulasi cagar budaya dan pemajuan kebudayaan, tetapi belum memiliki Undang-Undang Permuseuman. Karena itu penguatan regulasi menjadi kebutuhan mendesak,” kata Putu.
AMI mengusulkan revisi terhadap regulasi kebudayaan yang ada, penguatan dukungan bagi museum swasta, serta pembentukan badan khusus yang menangani museum, cagar budaya, dan pemajuan kebudayaan secara terintegrasi. Sebagai visi jangka panjang, AMI mengusung konsep “Negeri Beribu Museum”. Konsep ini mencakup pembangunan museum di situs cagar budaya, museum pahlawan, museum tokoh bangsa, museum keraton Nusantara, hingga Museum Agung Peradaban Nusantara. “Harapan kami, Indonesia tidak hanya kuat secara ekonomi dan politik, tetapi juga menjadi bangsa yang berkepribadian kuat dalam kebudayaan. Karena budaya memiliki kekuatan untuk menyatukan, memberi inspirasi, dan menjaga keberlanjutan peradaban bangsa,” ujar Putu.
Artikel Terkait
Tim Gabungan Temukan 32 Potongan Tubuh di Hari Kelima Pencarian Ledakan Biak, Sterilisasi Capai 75 Persen
Pemuda di Pematangsiantar Dorong Penjaga Warung hingga Tewas karena Tersinggung Perkataan Korban
Penguatan Museum Dinilai Strategis Atasi Krisis Identitas Bangsa di Tengah Globalisasi
Presiden Prabowo Berhentikan Silmy Karim sebagai Wamen Imipas Usai Jadi Tersangka Korupsi