Api kembali menjadi mimpi buruk bagi warga permukiman padat di Jakarta. Sebuah kebakaran besar meludeskan kawasan padat penduduk di Kemayoran, mengingatkan kembali pada persoalan keselamatan yang tak kunjung tuntas di ibu kota. Insiden yang terjadi pada Selasa malam sekitar pukul 21.00 WIB ini bermula dari area belakang permukiman, diduga akibat korsleting listrik yang dengan cepat menyambar struktur bangunan di sekitarnya.
Warga setempat sempat berusaha memadamkan api secara mandiri menggunakan tiga unit alat pemadam api ringan (APAR) milik RW setempat. Namun, api telah membesar dan menjalar begitu cepat sehingga upaya tersebut tidak membuahkan hasil. Karakteristik wilayah yang didominasi sekitar 250 bangunan semi permanen berbahan kayu dan material mudah terbakar lainnya membuat api semakin sulit dikendalikan. Kondisi ini memperparah situasi, mengingat kepadatan bangunan memungkinkan api merambat dari satu rumah ke rumah lain dalam waktu singkat.
Anggota Komisi A DPRD DKI Jakarta dari Fraksi Partai NasDem, Riano P. Ahmad, menyoroti pola kejadian yang terus berulang. Menurutnya, peristiwa serupa pernah terjadi di lokasi yang sama sebelumnya, namun langkah pencegahan yang optimal belum juga terlihat. Ia menilai kebakaran di kawasan padat penduduk seharusnya bisa diminimalkan melalui pemetaan wilayah rawan, edukasi kepada masyarakat, serta pengawasan ketat terhadap instalasi listrik.
“Hampir sebagian besar kasus kebakaran di Jakarta dipicu oleh korsleting listrik,” ujar Riano. Ia mendorong Pemerintah Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan sosialisasi pencegahan secara masif dan berkelanjutan kepada masyarakat.
Data dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mengungkap tiga persoalan utama yang menjadi akar kebakaran di permukiman padat. Pertama, jaringan listrik di wilayah tersebut sering kali melebihi kapasitas standar yang berlaku. Kedua, kualitas kabel yang digunakan tidak memenuhi Standar Nasional Indonesia (SNI), sehingga lebih rentan terbakar. Ketiga, perilaku masyarakat yang kurang bijak dalam pemakaian listrik turut memperbesar risiko kebakaran.
Menanggapi situasi ini, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mulai menyiapkan penataan kawasan pascakebakaran di Kemayoran. Staf khusus Gubernur DKI Jakarta Bidang Pembangunan dan Tata Kota, Nirwono Yoga, menyatakan bahwa saat ini penanganan masih difokuskan pada tanggap darurat. Ke depannya, akan dilakukan evaluasi dan pembenahan berbagai jaringan utilitas di kawasan tersebut, termasuk listrik, gas, dan air bersih, agar kawasan dapat ditata lebih baik dan lebih aman bagi warga.
Nirwono mendorong dilakukannya audit jaringan di kawasan padat penduduk. Hal ini didasarkan pada data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) DKI Jakarta yang mencatat bahwa 70 hingga 80 persen kebakaran di Jakarta dipicu oleh persoalan kelistrikan. Kebakaran di Kemayoran, dengan demikian, menambah daftar panjang insiden serupa yang terjadi di ibu kota.
Ketika mayoritas kasus kebakaran dipicu oleh masalah kelistrikan, upaya penanganan tidak boleh berhenti pada fase pemulihan pascabencana. Audit jaringan, penataan kawasan, dan edukasi kepada masyarakat merupakan langkah penting untuk menekan risiko kebakaran di masa mendatang. Tanpa adanya perbaikan yang menyeluruh, tragedi serupa akan berpotensi kembali terjadi.
Artikel Terkait
Keluarga Korban Perundungan di Taman Kramat Tolak Damai, Desak Proses Hukum Tetap Berjalan
SPMB Jateng 2026/2027 Berjalan Lancar, Petugas Antisipasi Kendala Teknis dan Perkuat Sistem Pendaftaran
Polisi Peru Samarkan Diri sebagai Maskot Piala Dunia untuk Bongkar Jaringan Narkoba di Lima
Polisi Tetapkan Pemuda Bawa Bom Molotov Saat Demo di Depan DPR sebagai Tersangka