China Usir Kapal Perang Belanda dari Perairan Paracel, Tuduh Langgar Kedaulatan

- Kamis, 28 Mei 2026 | 13:00 WIB
China Usir Kapal Perang Belanda dari Perairan Paracel, Tuduh Langgar Kedaulatan

Militer China mengumumkan telah mengusir sebuah kapal perang Angkatan Laut Belanda yang dituduh melanggar wilayah sekitar Kepulauan Paracel di Laut China Selatan, kawasan yang menjadi rebutan sejumlah negara. Kapal fregat De Ruyter disebut berulang kali menerbangkan helikopter yang dianggap melanggar wilayah udara China, sehingga pasukan Beijing memberikan peringatan verbal dan melakukan pengacakan elektronik untuk memaksa kapal tersebut meninggalkan area tersebut.

Pernyataan resmi militer China, yang dikutip oleh kantor berita AFP pada Kamis (28/5/2026), menegaskan bahwa tindakan Belanda secara serius melanggar kedaulatan teritorial China serta keamanan maritim dan udara. “Tindakan pihak Belanda secara serius melanggar kedaulatan teritorial China serta keamanan maritim dan udara, secara serius melanggar hukum internasional dan norma-norma dasar hubungan internasional,” demikian bunyi pernyataan yang dirilis pada Rabu (27/5) waktu setempat.

“China dengan tegas menentang tindakan tersebut dan telah memperingatkan pihak Belanda untuk segera menghentikan tindakan provokatif mereka,” tambah pernyataan itu.

Sementara itu, ketegangan di Laut China Selatan bukanlah isu baru. Beijing mengklaim hampir seluruh wilayah perairan tersebut, meskipun putusan pengadilan internasional pada tahun 2016 secara tegas menolak klaim tersebut. Sikap ini terus memicu ketegangan dengan negara-negara tetangga di kawasan Asia Tenggara.

Di sisi lain, Amerika Serikat, India, Jepang, dan Australia secara bersama-sama menyuarakan keprihatinan pada Selasa lalu atas situasi di Laut China Selatan dan Laut China Timur. Keempat negara tersebut, tanpa menyebut nama Beijing secara eksplisit, mengkritik “manuver-manuver berbahaya oleh pesawat militer dan tindakan memblokade dan mengganggu di Laut China Selatan.” Peringatan ini menambah daftar panjang kecaman internasional terhadap aktivitas militer China di kawasan yang strategis tersebut.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar