Perempuan Percaya Laki-Laki Bisa Berubah karena Cinta, Psikolog Ungkap Akar Pola Hubungan Toksik

- Senin, 25 Mei 2026 | 02:15 WIB
Perempuan Percaya Laki-Laki Bisa Berubah karena Cinta, Psikolog Ungkap Akar Pola Hubungan Toksik

Banyak perempuan tetap meyakini bahwa laki-laki bisa berubah karena cinta, bahkan setelah mengalami perselingkuhan, kebohongan, penghinaan, atau perlakuan toksik dalam hubungan. Dari sudut pandang luar, fenomena ini kerap dianggap janggal. Tak sedikit orang yang langsung bertanya, mengapa masih bertahan? Atau, jika sudah berkali-kali disakiti, mengapa tidak pergi saja? Namun, realitas yang terjadi jauh lebih kompleks daripada sekadar persoalan tidak bisa move on atau terlalu mencintai. Ada proses emosional, pengalaman hidup, dan konstruksi sosial yang membentuk keyakinan bahwa cinta mampu mengubah seseorang.

Sejak kecil, perempuan sering tumbuh dengan narasi bahwa cinta identik dengan kesabaran dan pengorbanan. Dalam film, novel, lagu, bahkan sinetron, sosok perempuan yang tetap bertahan menghadapi laki-laki “bermasalah” kerap digambarkan sebagai pribadi yang setia dan berhati besar. Laki-laki dingin dipercaya akan luluh oleh kelembutan perempuan. Laki-laki nakal dianggap akan berubah jika menemukan perempuan yang tepat.

Contohnya dapat ditemukan dalam film Ada Apa dengan Cinta? Tokoh Rangga digambarkan dingin, tertutup, dan sulit dekat dengan orang lain, tetapi perlahan menjadi lebih terbuka berkat kehadiran Cinta. Dalam Twilight, Bella tetap bertahan dalam hubungan yang penuh risiko dan posesivitas karena percaya cintanya mampu mempertahankan Edward. Bahkan, dalam banyak lagu populer Indonesia, perempuan sering digambarkan setia menunggu dan memaafkan laki-laki yang menyakitinya demi mempertahankan cinta. Akibatnya, tanpa sadar, banyak perempuan tumbuh dengan keyakinan bahwa tugas mereka dalam hubungan adalah menyembuhkan dan memperbaiki laki-laki yang mereka cintai.

Padahal, hubungan bukanlah tempat rehabilitasi satu arah. Cinta memang bisa memberi dukungan emosional, tetapi cinta saja tidak cukup untuk mengubah seseorang yang tidak benar-benar ingin berubah. Dalam buku The Will to Change: Men, Masculinity, and Love karya Bell Hooks (2004), dijelaskan bahwa budaya patriarki membentuk laki-laki untuk menekan emosi, menghindari kerentanan, dan merasa harus dominan dalam hubungan. Karena itulah, banyak laki-laki tumbuh tanpa kemampuan emosional yang sehat untuk membangun relasi yang setara. Masalahnya bukan sekadar kurang dicintai, melainkan adanya pola sosial yang sudah tertanam sejak lama.

Sementara itu, banyak perempuan tetap berharap karena mereka sering jatuh cinta bukan hanya pada siapa laki-laki itu sekarang, tetapi pada kemungkinan tentang siapa dia “bisa jadi.” Mereka melihat sisi lembut yang kadang muncul sesekali lalu menjadikannya harapan besar. Ketika laki-laki toksik meminta maaf, menangis, bersikap romantis, atau berkata ingin berubah, perempuan sering merasa bahwa masih ada harapan. Mereka berpikir bahwa di balik semua sikap buruk itu ada laki-laki baik yang belum sepenuhnya muncul.

Contoh paling sederhana dapat dilihat dari hubungan yang penuh drama putus-nyambung. Misalnya, seorang perempuan sudah beberapa kali memergoki pasangannya berchatting dengan perempuan lain. Setiap ketahuan, laki-laki itu menangis, meminta maaf, mengaku khilaf, lalu berubah menjadi sangat perhatian selama beberapa minggu. Ia mulai memberi kabar terus-menerus, mengantar jemput, bahkan berkata bahwa hanya perempuan itu yang bisa membuat dirinya berubah. Pada fase seperti ini, banyak perempuan akhirnya luluh lagi karena merasa usahanya selama ini mulai membuahkan hasil. Mereka mulai percaya bahwa kesabaran dan pengorbanannya tidak sia-sia.

Namun, perubahan itu sering kali hanya muncul sementara sampai keadaan kembali tenang. Setelah laki-laki dimaafkan dan hubungan terasa aman kembali, pola lama pun terulang berbohong lagi, menghilang lagi, atau kembali mencari perhatian perempuan lain. Di sinilah hubungan toksik sering menjadi rumit. Hubungan seperti ini biasanya tidak selalu buruk setiap saat. Ada momen-momen manis yang membuat seseorang bertahan. Kadang pasangan sangat perhatian, sangat romantis, dan membuat perempuan merasa dicintai dengan luar biasa. Namun, di lain waktu ia bisa menjadi dingin, manipulatif, posesif, bahkan menyakitkan secara emosional. Pola tarik-ulur seperti ini justru membuat hubungan semakin sulit dilepaskan karena perempuan terus berharap versi “baik” dari laki-laki itu akan kembali lagi.

Dalam buku Attached: Are You Anxious, Avoidant or Secure? karya Amir Levine dan Rachel Heller (2010), dijelaskan bahwa banyak orang bertahan dalam hubungan tidak sehat karena terjebak pola emosional yang membuat mereka terus mencari validasi dan rasa aman dari pasangan. Ketika pasangan tiba-tiba memberi perhatian setelah sebelumnya menjauh, otak merespons itu sebagai harapan. Akibatnya, seseorang menjadi semakin terikat secara emosional meskipun hubungan tersebut membuatnya menderita.

Banyak perempuan akhirnya hidup dalam siklus menunggu perubahan. Hari ini disakiti, besok diberi perhatian kecil lalu kembali percaya. Mereka mengingat janji-janji pasangan lebih kuat daripada luka yang mereka alami sendiri. Ketika laki-laki berkata, “Aku janji berubah,” kalimat itu sering terdengar lebih besar daripada semua kebohongan sebelumnya. Harapan kecil menjadi alasan untuk bertahan lebih lama.

Lundy Bancroft dalam buku Why Does He Do That?: Inside the Minds of Angry and Controlling Men (2002) menjelaskan bahwa laki-laki manipulatif sering tahu kapan harus meminta maaf dan kapan harus menunjukkan penyesalan agar pasangannya tidak pergi. Mereka bisa sangat meyakinkan ketika takut kehilangan pasangan, tetapi penyesalan tidak selalu berarti perubahan karakter. Banyak orang salah membedakan antara rasa bersalah sesaat dengan perubahan yang benar-benar konsisten.

Di sisi lain, yang membuat keadaan semakin sulit adalah banyak perempuan merasa hubungan itu sepenuhnya menjadi tanggung jawab mereka. Ketika pasangan marah-marah, selingkuh, atau bersikap kasar, perempuan sering justru menyalahkan dirinya sendiri. Mereka mulai berpikir bahwa dirinya belum cukup sabar, belum cukup pengertian, kurang menarik, atau kurang mampu memenuhi harapan pasangan. Akibatnya, energi mereka habis untuk terus memperbaiki hubungan sendirian.

Padahal hubungan sehat tidak seharusnya membuat satu orang terus bekerja keras menyelamatkan hubungan sementara yang lain terus melukai tanpa usaha berubah. Sayangnya, budaya masih sering memuliakan perempuan yang bertahan. Perempuan yang tetap setia meskipun disakiti dianggap kuat dan tulus. Sebaliknya, perempuan yang memilih pergi kadang dicap egois, tidak sabaran, atau gagal mempertahankan hubungan. Tekanan sosial seperti ini membuat banyak perempuan merasa pergi dari hubungan adalah bentuk kegagalan moral.

Selain itu, rasa takut kehilangan juga memainkan peran besar. Banyak perempuan takut sendirian. Takut memulai ulang. Takut tidak menemukan pasangan lagi. Takut dianggap gagal oleh lingkungan. Dalam kondisi seperti itu, hubungan yang menyakitkan tetap terasa lebih aman dibanding ketidakpastian setelah berpisah. Akibatnya, mereka memilih bertahan sambil terus berharap pasangan akan berubah suatu hari nanti.

Bell Hooks dalam All About Love: New Visions (2000) menjelaskan bahwa banyak orang dewasa sebenarnya membawa luka kehilangan kasih sayang sejak masa kecil. Karena itu, ketika mereka menemukan seseorang yang memberi rasa dicintai, mereka akan berusaha mempertahankannya sekuat mungkin, bahkan ketika hubungan itu mulai menyakitkan. Banyak perempuan akhirnya tidak benar-benar bertahan karena bahagia, tetapi karena takut kehilangan rasa dicintai tersebut.

Masalahnya, cinta sering dipahami secara keliru. Banyak orang percaya bahwa jika cintanya cukup besar, maka pasangan akan berubah dengan sendirinya. Padahal perubahan tidak terjadi hanya karena dicintai. Perubahan membutuhkan kesadaran diri, tanggung jawab, dan kemauan nyata dari orang itu sendiri. Seseorang tidak berubah hanya karena pasangannya sabar menangis setiap malam.

Dalam Why Does He Do That? (2002), Lundy Bancroft menegaskan bahwa perubahan hanya mungkin terjadi jika seseorang benar-benar mengakui perilakunya dan secara konsisten berusaha memperbaikinya. Selama seseorang masih terus menyalahkan pasangan, keadaan, masa lalu, atau emosinya sendiri, perubahan biasanya hanya berhenti di janji.

Inilah kenyataan yang sering menyakitkan tidak semua orang mau berubah. Ada orang yang menikmati kontrol dalam hubungan. Ada yang merasa permintaan maaf sudah cukup tanpa perlu benar-benar memperbaiki diri. Ada juga yang hanya berubah sementara ketika takut ditinggalkan, lalu kembali mengulang pola yang sama setelah pasangannya bertahan.

Karena itu, banyak perempuan sebenarnya tidak kekurangan cinta. Mereka justru terlalu banyak memberi cinta kepada orang yang tidak mampu menghargainya secara sehat. Mereka diajarkan untuk memahami laki-laki, tetapi jarang diajarkan untuk melindungi dirinya sendiri. Mereka diajarkan bertahan, tetapi tidak diajarkan kapan harus berhenti menyelamatkan orang lain demi menyelamatkan dirinya sendiri.

Banyak perempuan tidak bertahan karena mereka lemah. Mereka bertahan karena sejak lama diajarkan bahwa cinta berarti menunggu, memaafkan, dan percaya pada perubahan. Padahal tidak semua orang berubah hanya karena dicintai dengan tulus. Ada laki-laki yang menangis setelah menyakiti, lalu mengulanginya lagi keesokan hari. Ada yang meminta maaf bukan karena sadar telah melukai, tetapi karena takut kehilangan seseorang yang selalu memaafkannya. Dan di situlah banyak perempuan perlahan kehilangan dirinya sendiri bukan karena kurang pintar, melainkan karena terlalu lama percaya bahwa cinta bisa menyelamatkan seseorang yang bahkan tidak ingin menyelamatkan dirinya sendiri.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar