9 Relawan WNI Misi Kemanusiaan Palestina Ceritakan Penyiksaan dan Pelecehan saat Ditahan Israel

- Minggu, 24 Mei 2026 | 20:35 WIB
9 Relawan WNI Misi Kemanusiaan Palestina Ceritakan Penyiksaan dan Pelecehan saat Ditahan Israel

Sembilan warga negara Indonesia yang menjadi relawan dalam misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla 2026 akhirnya tiba di Tanah Air setelah mengalami penangkapan dan penyiksaan oleh tentara Israel. Salah seorang di antara mereka, Herman Budianto Sudarson, tak mampu menahan tangis saat menceritakan pengalaman pahit yang dialami selama dalam tahanan.

Peristiwa haru itu terjadi di Bandara Soekarno-Hatta, Minggu (24/5/2026), ketika para relawan menggelar konferensi pers seusai mendarat. Herman membenarkan bahwa dirinya dan sejumlah rekannya mendapat perlakuan kasar selama ditahan oleh otoritas Israel.

“Banyak sekali yang mengalami cedera-cedera berat, rusuk patah ada sekitar 40 orang, patah tangan, patah kaki, patah hidung, ada yang ditembak dan seterusnya,” ujar Herman dalam pernyataannya.

Ia melanjutkan, tidak hanya kekerasan fisik, tetapi juga terjadi pelecehan seksual yang dialami oleh para tahanan, baik laki-laki maupun perempuan. Menurut Herman, mereka diperlakukan layaknya hewan selama proses penahanan berlangsung.

“Bahkan banyak juga kasus-kasus pelecehan seksual yang diterima oleh baik laki-laki maupun perempuan ketika proses yang panjang tersebut. Belum lagi hal-hal lain terkait dengan kondisi ketika kita ada di penjara dan seterusnya, diperlakukan seperti hewan,” tuturnya.

Meski mengalami penyiksaan berat, Herman tidak serta-merta menganggap dirinya sebagai relawan yang paling berjasa bagi perjuangan Palestina. Pada titik inilah ia menangis.

“Ya tapi semua ini insyaallah tidak menjadikan kami menjadi orang yang merasa paling berjasa, hanya yang sangat kecil sekali yang kami lakukan untuk Palestina. Karena saudara kita yang di Palestina jauh lebih menderita dibandingkan dengan kami,” ucapnya sambil terisak.

Sementara itu, relawan lain bernama Rahendro Heruwibowo menceritakan pengalaman serupa. Ia mengaku sempat dipukul, diinjak, hingga disetrum oleh tentara Israel. Rahendro baru dilepaskan setelah ia berteriak sekencang-kencangnya.

“Saya dipukul kepala, sudah saya tidak tahu berapa kali. Terus badan depan, belakang, dan saya jatuh juga sempat diinjak. Terakhir saya disetrum sehingga akhirnya saya teriak cukup kencang, baru mereka akhirnya melepaskan,” ucapnya.

Rahendro menambahkan, setelah dibawa ke daratan Israel, mereka langsung dimasukkan ke dalam bilik-bilik yang tampaknya telah disiapkan khusus untuk penyiksaan. Sepanjang perjalanan dari satu tempat ke tempat lain, ia mengaku terus mendapat perlakuan kasar.

“Seperti yang saya bilang, selama perjalanan dari satu tempat ke mana itu penuh treatment-treatment, penyiksaan yang kayak misalkan diborgol ini kenceng banget diborgolnya, terus sama dia dimainin gitu. Jalan, nunduk, jatuh, ditendang. Seperti itu kurang lebihnya,” jelasnya.

Kedatangan kesembilan relawan tersebut disambut hangat oleh keluarga dan kerabat di Terminal 3 Bandara Soekarno-Hatta sekitar pukul 16.25 WIB. Mereka terlihat mengenakan keffiyeh, syal khas Palestina, sebagai simbol solidaritas. Para kerabat membentangkan spanduk dan mengibarkan bendera Palestina, disertai sorak-sorai saat para relawan keluar dari gedung terminal.

Penangkapan sembilan WNI ini bermula ketika pasukan Israel mencegat sejumlah kapal bantuan kemanusiaan Global Sumud Flotilla pada Senin (18/5) lalu. Kapal-kapal tersebut dicegat secara bertahap, sehingga sejumlah relawan ditangkap. Seluruh relawan, termasuk sembilan WNI, akhirnya dibebaskan pada Kamis (21/5) waktu setempat dan diterbangkan ke Turki menggunakan pesawat sewaan otoritas setempat.

Para WNI yang ditangkap melaporkan mendapat perlakuan tidak manusiawi, termasuk kekerasan fisik seperti pemukulan dan setrum. Berdasarkan laporan Global Peace and Conflict Initiative (GPCI), berikut nama kesembilan WNI yang menjadi korban: Herman Budianto Sudarson, Ronggo Wirasanu, Andi Angga Prasadewa, Asad Aras Muhammad, Hendro Prasetyo, Bambang Noroyono, Thoudy Badai Rifan Billah, Andre Prasetyo Nugroho, dan Rahendro Heruwibowo.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar