Presiden Prancis, Emmanuel Macron, mengeluarkan kecaman keras terhadap serangan besar-besaran yang dilancarkan Rusia ke wilayah Ukraina, yang secara khusus menyasar warga sipil. Dalam pernyataan resminya, Macron juga mengecam penggunaan rudal balistik hipersonik Oreshnik, sebuah sistem senjata yang mampu membawa hulu ledak nuklir, dalam agresi militer tersebut.
Pernyataan itu disampaikan Macron melalui akun media sosialnya pada Minggu (24/5/2026). Dalam unggahannya, ia menilai serangan tersebut merupakan bukti nyata dari eskalasi serius dalam konflik yang telah berlangsung antara Rusia dan Ukraina. "Serangan Rusia terhadap target sipil di Ukraina terus berlanjut... Prancis mengutuk serangan ini dan penggunaan rudal balistik Oreshnik," tulis Macron, seraya menambahkan bahwa tindakan tersebut menandai "jalan buntu perang agresi Rusia."
Serangan yang memicu reaksi keras dari pemimpin Prancis itu terjadi pada Minggu pagi, ketika Rusia menghujani ibu kota Ukraina, Kyiv, dengan rentetan rudal dan drone. Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengonfirmasi bahwa Rusia menggunakan rudal hipersonik canggih Oreshnik dalam gempuran tersebut. Serangan ini terjadi tidak lama setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengancam akan membalas serangan pihak Ukraina di wilayah-wilayah yang diduduki Rusia.
Angkatan udara Ukraina melaporkan bahwa sebanyak 600 drone dan 90 rudal diluncurkan dalam serangan tersebut. Walikota Kyiv, Vitali Klitschko, menyatakan bahwa dua orang tewas di ibu kota dan 56 lainnya mengalami luka-luka. Sementara itu, kepala wilayah di sekitar Kyiv melaporkan dua korban jiwa tambahan dan sembilan orang terluka. Pertahanan udara Ukraina disebut berhasil mencegat 549 drone dan 55 rudal.
Dalam pernyataan yang diunggah di Telegram, Zelensky merinci dampak dari serangan tersebut. "Tiga rudal Rusia menghantam fasilitas penyediaan air, sebuah pasar terbakar, puluhan bangunan tempat tinggal rusak, beberapa sekolah biasa, dan dia (Putin) meluncurkan 'Oreshnik'-nya ke Bila Tserkva (di Ukraina tengah)," ujar Zelensky. Ia kemudian menambahkan dengan nada frustrasi, "Mereka benar-benar gila."
Rudal Oreshnik yang digunakan dalam serangan itu diketahui memiliki kemampuan meluncur lebih dari sepuluh kali kecepatan suara. Hingga saat ini, belum ada teknologi pertahanan yang dilaporkan mampu mencegat rudal jenis tersebut. Dampak dari ledakan di ibu kota terasa hingga ke bangunan tempat tinggal di dekat distrik pemerintahan yang ikut bergetar, sementara puluhan warga memilih berlindung di stasiun metro bawah tanah di pusat kota demi keselamatan.
Artikel Terkait
Pemerintah Mulai Pemberangkatan Jemaah Haji ke Arafah pada 8 Dzulhijjah, Imbau Patuhi Jadwal
9 Relawan WNI Misi Kemanusiaan Palestina Ceritakan Penyiksaan dan Pelecehan saat Ditahan Israel
DPR Targetkan RUU Satu Data Indonesia Rampung dan Disahkan pada Tahun Ini
Modus Manipulasi Data KPR Marak, Pengembang Nakal Dinilai Cemari Industri Perumahan dan Perbankan