Tokoh Adat Papua Yasinta Moiwend Tuding Dijebak Tanpa Izin dalam Film Kontroversial Pesta Babi

- Minggu, 24 Mei 2026 | 18:30 WIB
Tokoh Adat Papua Yasinta Moiwend Tuding Dijebak Tanpa Izin dalam Film Kontroversial Pesta Babi

Seorang tokoh masyarakat adat Papua, Yasinta Moiwend, mengaku telah dijebak dan diperdaya hingga tanpa sepengetahuannya menjadi bagian dari film kontroversial berjudul Pesta Babi. Perwakilan masyarakat adat Malind Merauke, Papua Selatan, ini menegaskan bahwa tidak pernah ada tawaran resmi atau permintaan izin kepadanya untuk berperan dalam produksi film tersebut. Oleh karena itu, ia mendesak agar peredaran film itu segera dihentikan.

Yasinta mengungkapkan kekagetannya saat mengetahui dirinya muncul dalam film tersebut. “Saya kaget, ditampilkan saya di Film. Apa saya boneka atau ukiran Asmat, ditampilkan tanpa sepengetahuan saya dan izin saya. Saya kecewa sekali,” ujarnya dalam sebuah pernyataan video yang diterima pada Minggu (25/5/2026). Ia menambahkan bahwa dirinya tidak pernah diwawancarai atau memberikan izin untuk pembuatan film itu. “Saya tidak wawancara, mereka yang buat, mama tidak tahu. Mama tidak kasih izin, untuk buat film itu, saya sumpah demi Tuhan, tidak tahu jam berapa mereka buat film Pesta Babi itu,” lanjutnya.

Kisah ini bermula ketika Yasinta bersama kelompok masyarakat adat Marind diajak oleh seorang pria bernama Aris untuk menyuarakan penolakan terhadap pembukaan lahan oleh pemerintah di Papua. Namun, di balik ajakan tersebut, ia merasa telah dimanfaatkan. Tanpa disadarinya, keterlibatannya dalam berbagai kegiatan justru diarahkan untuk mendukung produksi film Pesta Babi.

Yasinta juga mempertanyakan penggunaan foto-fotonya yang muncul di poster film tersebut. Gambar dirinya, menurut dia, telah dijadikan ikon tanpa pemberitahuan atau izin. “Akhirnya saya sudah terlanjur viral di mana-mana sampai mereka sudah buat film Pesta Babi tanpa izin dari saya, tanpa sepengetahuan dari saya. Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH,” katanya.

Kekecewaan Yasinta semakin bertambah karena ia tidak mendapatkan imbalan apa pun dari hasil produksi film tersebut. Ia mengaku telah melakukan enam kali perjalanan pulang pergi Merauke–Jakarta dan tiga kali Merauke–Makassar, tetapi tidak pernah diberi tahu tujuan sebenarnya dari perjalanan itu. “Saya diajak ke Jakarta 6 kali. Di atas pesawat saya panik, ini mau apa. Sampai Jakarta, mereka ajak saya demo kamisan, minta saya bersuara menolak PSN (Proyek Strategis Nasional). Karena terpengaruh, saya ikut saja, tetapi sekarang, saya sadar, saya tidak mau ikut tolak PSN lagi,” jelasnya.

Selama perjalanan tersebut, Yasinta mengaku tidak pernah menerima bantuan atau uang yang berarti. Ia bahkan menyebutkan bahwa telepon selulernya yang rusak belum juga diganti oleh pihak yang mengajaknya bepergian. “Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp 2 juta, Rp 1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH pusaka,” ungkapnya.

Dengan tegas, Yasinta meminta agar film Pesta Babi dihentikan peredarannya. “Saya dijebak, dimanfaatkan oleh mereka. Jadi saya minta Film Pesta Babi untuk dihentikan. Tidak ada izin dan sepengetahuan saya. Harus dihentikan film itu,” pungkasnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler