Gang Venus di Tambora Perlahan Berubah: dari Lorong Gelap Kini Mulai Terang Pasca Kebakaran Enam Tahun Lalu

- Minggu, 24 Mei 2026 | 13:35 WIB
Gang Venus di Tambora Perlahan Berubah: dari Lorong Gelap Kini Mulai Terang Pasca Kebakaran Enam Tahun Lalu

Di balik hiruk-pikuk Tambora, Jakarta Barat, terdapat sebuah gang sempit yang perlahan mengubah wajahnya. Gang Venus, yang selama ini identik dengan lorong-lorong gelap yang nyaris tak tersentuh cahaya matahari, kini mulai menampakkan sisi terang di siang hari. Transformasi ini bukanlah kebetulan, melainkan hasil dari kesadaran warga dan arahan pemerintah pasca tragedi enam tahun silam.

Letak persis Gang Venus berada di samping Masjid Az-Zahiriyah. Di pintu masuknya, gerobak-gerobak pedagang kaki lima berjejer rapi di sisi kiri dan kanan, menjadi pemandangan yang akrab bagi siapa pun yang melintas. Lebar gang ini hanya sekitar dua hingga tiga meter, dan terasa semakin sempit ketika dua motor berpapasan atau seorang pejalan kaki harus berbagi ruang dengan kendaraan bermotor.

Di sepanjang lorong, kehidupan warga berlangsung apa adanya. Beberapa orang terlihat duduk santai di depan rumah, sementara yang lain sibuk mencuci pakaian dan menjemurnya di ambang pintu. Tak jarang, aktivitas memasak pun dilakukan di luar ruangan kompor, tabung gas, dan meja ditata rapi di lorong gang, seolah-olah dapur telah dipindahkan ke ruang publik.

Kawasan ini terdiri dari empat rukun tetangga, yakni RT 1, RT 2, RT 12, dan RT 13. Semakin ke dalam, gang-gang kecil bermunculan dengan ukuran yang lebih sempit dan kepadatan yang lebih tinggi. Rumah-rumah di sini kebanyakan dibangun bertingkat hingga tiga lantai, dengan balkon yang menjorok keluar di atas gang. Balkon-balkon itulah yang dulu menjadi biang keladi minimnya sinar matahari, karena hampir menutupi seluruh ruang terbuka di atas jalan setapak. Beberapa warga bahkan memasang terpal untuk menambah naungan, membuat lorong semakin gelap.

Namun, situasi itu mulai berubah setelah kebakaran besar melanda kawasan tersebut enam tahun lalu. Tuti (44), warga RT 1 RW 3 yang telah tinggal di Gang Venus sejak kecil, menuturkan bahwa peristiwa itu menjadi titik balik. Pemerintah saat itu menyarankan agar bangunan tidak lagi dimajukan ke depan, demi memberi ruang bagi cahaya matahari masuk ke permukiman.

“Wilayah kemarin sempat gelap, kan, yang tanpa matahari. Tapi semenjak kebakaran enam tahun lalu, disarankan pemerintah untuk tidak boleh dimajukan. Akhirnya, alhamdulillahnya masyarakat mengerti. Udah gak kayak dulu,” ujar Tuti.

Meski begitu, Tuti mengakui bahwa masih ada beberapa sudut di Gang Venus yang tetap gelap. Hal itu, menurutnya, karena bangunan-bangunan di sana sudah terlanjur dibangun dan berhimpitan tanpa celah. “Ya itu sih masih, terutama belakang sini. Masih ada,” katanya.

Di sisi lain, bayang-bayang kebakaran belum sepenuhnya sirna dari ingatan warga. Tuti mengaku dirinya dan tetangga-tetangganya masih dihantui kekhawatiran yang sama. “Oh sangat khawatir, banget. Justru yang masih saya pikirkan sampai saat ini, bukan saya aja, warga ya. Itu yang kita takutin tuh kebakaran,” ungkapnya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Tuti menyebut bahwa kebakaran akibat korsleting listrik kembali terjadi di Tambora baru sebulan lalu, menghanguskan tujuh rumah. “Kemarin sempat kejadian kebakaran dari korsleting listrik, baru satu bulan,” jelasnya.

Sementara itu, Budi (40), warga pendatang asal Pandeglang, Banten, memiliki pandangan berbeda. Ia baru lima bulan mengontrak di Gang Venus dan mengaku tidak mempermasalahkan kondisi lingkungan sekitarnya. Menurutnya, harga sewa di sini tergolong murah dibandingkan tempat lain. “Murah di sini, kita bisa dapat di bawah Rp600 ribu buat sama istri,” kata Budi.

Budi juga menilai Gang Venus saat ini sudah cukup terang. Ia bahkan bisa menjemur pakaian di lantai atas rumah kontrakannya. “Terang segini mah. Kalau jemur baju bisa ini di atas biasanya,” ujarnya.

Perlahan namun pasti, Gang Venus menunjukkan bahwa perubahan tidak selalu harus datang dari proyek besar. Kesadaran warga dan arahan sederhana dari pemerintah mampu mengubah lorong gelap menjadi ruang yang lebih ramah cahaya meskipun tantangan seperti kepadatan bangunan dan risiko kebakaran masih menjadi pekerjaan rumah yang belum tuntas.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar