Bank Dunia Peringatkan Lonjakan Harga Pupuk 31 Persen pada 2026, Ancam Ketahanan Pangan Global

- Rabu, 29 April 2026 | 21:15 WIB
Bank Dunia Peringatkan Lonjakan Harga Pupuk 31 Persen pada 2026, Ancam Ketahanan Pangan Global
Berikut adalah hasil penulisan ulang artikel tersebut dengan gaya bahasa yang lebih manusiawi, natural, dan sesuai dengan instruksi yang diberikan.

Bank Dunia baru saja merilis laporan Commodity Markets Outlook terbaru. Isinya? Proyeksi harga pangan global bakal naik sekitar 2 persen secara tahunan pada 2026. Lalu, sedikit meningkat lagi di tahun 2027. Angka ini ternyata lebih tinggi dari perkiraan mereka sebelumnya.

Nah, kenapa kenaikannya tahun ini tergolong terbatas? Menurut Bank Dunia, pasokan biji-bijian global masih cukup melimpah. Stok ini sudah ada sejak awal periode guncangan. Jadi, tekanan harganya tidak terlalu liar.

"Kenaikan harga pangan yang diperkirakan tahun ini relatif moderat, karena pasokan biji-bijian global yang melimpah di awal guncangan, yang berasal dari produsen yang tersebar luas," begitu bunyi laporan yang dikutip pada Rabu (29/4) lalu.

Di sisi lain, ada satu kelompok yang diperkirakan bakal paling terpukul. Yakni minyak nabati dan semua produk turunannya. Kenapa? Karena bahan-bahan ini juga jadi bahan baku utama biofuel, si pengganti minyak bumi.

"Di bawah asumsi dasar, tekanan harga pangan terkait konflik diperkirakan paling terasa pada minyak nabati dan produk turunannya, yang sebagian merupakan bahan baku umum untuk biofuel sebagai substitusi minyak," tulis Bank Dunia.

Ambil contoh, harga minyak sawit dan minyak kedelai. Keduanya diproyeksikan melonjak sekitar 8 persen pada 2026. Cukup signifikan, bukan?

Namun begitu, kalau dibandingkan dengan krisis pangan tahun 2022, dampaknya kali ini dinilai lebih ringan. Waktu itu, gangguan terjadi di pusat produksi pangan dunia akibat pandemi COVID-19. Sekarang, situasinya berbeda.

"Dampak harga pangan kemungkinan lebih terbatas dibandingkan 2022, karena saat itu gangguan terpusat di wilayah produsen pangan utama, sementara kawasan Teluk memiliki peran yang lebih terbatas dalam perdagangan pangan," jelas Bank Dunia.

Harga Pupuk Melonjak, Gas Alam Langka Jadi Biang Kerok

Sekarang, bicara soal pupuk. Ceritanya jadi lain. Negara-negara yang terlibat konflik ternyata adalah pemasok utama pupuk dunia. Akibatnya, indeks harga pupuk diproyeksikan meroket hingga 31 persen secara tahunan pada 2026.

Penyebab utamanya? Gangguan pasokan gas alam. Bahan baku ini sangat krusial untuk produksi urea. Kalau gas alam macet, ya harga urea ikut jungkir balik.

"Kenaikan harga tahun ini terutama mencerminkan gangguan pasokan bahan baku yang menyebabkan lonjakan harga urea hingga 60 persen, yang sangat bergantung pada gas alam," tulis laporan tersebut.

Untungnya, kenaikan harga pupuk jenis lain, seperti potash, diperkirakan tidak setinggi itu. Sebab, kebutuhan gas alamnya memang lebih rendah.

Meski lonjakan harga pupuk tahun ini besar, levelnya sebenarnya masih di bawah rekor tahun 2008, 2021, dan 2022. Tapi masalahnya, kenaikan harga pupuk ini jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan harga pangan. Akibatnya, pupuk jadi semakin tidak terjangkau.

"Dengan kenaikan harga pupuk yang jauh melampaui harga komoditas pangan, keterjangkauan pupuk diperkirakan memburuk tahun ini ke level terburuk sejak 2022, sehingga menekan margin keuntungan pertanian," kata Bank Dunia.

Kalau konflik berkepanjangan, risikonya bisa lebih parah. Bukan tidak mungkin, hasil panen di berbagai wilayah bakal menurun. Ujung-ujungnya, ketahanan pangan global terancam.

"Jika gangguan terkait perang berlangsung lebih lama dari asumsi, harga pupuk yang lebih tinggi dapat menurunkan hasil panen di beberapa wilayah dan mengancam ketahanan pangan," tegas Bank Dunia.

Terakhir, soal indeks harga pertanian secara keseluruhan. Indeks ini mencakup minuman, pangan, dan bahan baku. Diproyeksikan bakal turun 6 persen pada 2026. Penurunan ini terutama didorong oleh harga komoditas minuman yang anjlok. Sementara untuk tahun 2027, indeks ini diperkirakan relatif stabil.

"Penurunan ini didorong oleh proyeksi penurunan tajam harga minuman, yang lebih dari mengimbangi penguatan harga pangan dan stabilnya harga bahan baku," pungkas Bank Dunia.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar