Kombes Pol Eko Budhi Purwono, Direktur Pembinaan Masyarakat Polda Riau, punya cara sendiri untuk menyelamatkan hutan. Bukan cuma dengan sosialisasi biasa, dia turun langsung mengubah cara pandang warga. Ada yang dikasih edukasi, ada juga yang dilatih supaya nggak melulu bergantung pada hasil hutan.
Usaha kerasnya itu ternyata dilihat masyarakat. Sampai-sampai, namanya diusulkan untuk Hoegeng Awards 2026. Salah satu yang mendorong adalah Dody Rasyid Amin, penggerak lingkungan sekaligus Founder Subayang Festival Riau.
Menurut Dody, pendekatan Kombes Eko ini beda. Fokus utamanya memang mengubah pola pikir. Para pemuda di sana dikasih pelatihan, harapannya mereka punya penghasilan lain. Jadi nggak perlu lagi menggantungkan hidup pada hutan.
"Tempat saya ini suaka margasatwa, jadi ada 10 desa dalam kawasan hutan, nggak punya listrik, nggak punya jalan, nggak punya internet, jadi memang anak-anak di sini kesempatan untuk sekolah itu terbatas. Mendapat peluang kerja layak itu terbatas, itu banyak yang ilegal logging, mengambil hutanlah kan," kata Dody saat dihubungi, Senin (30/3/2026).
Dody sendiri warga asli Kampar Kiri Hulu, Kabupaten Kampar. Perkenalannya dengan Kombes Eko bermula dari Jambore Karhutla tahun 2025 yang digelar Polda Riau. Saat itu, acara cukup meriah, dihadiri Rocky Gerung dan Abdul Somad. Dody kebetulan jadi penata acara.
"Waktu itu acara itu dihadiri Rocky Gerung, Abdul Somad, waktu itu saya penata acara. Pak Dir hadir di situ dia melihat ada kebudayaan yang ditampilkan terus dia bertanya dengan saya 'Apa penghasilan orang sini, Bang?', saya sampaikan keadaan yang miris di situ, tentang peluang kerja," cerita Dody.
Di momen itu, Dody blak-blakan. Dia bilang ke Kombes Eko kalau ada beberapa desa di Kampar Kiri Hulu yang posisinya persis di tengah hutan. Masyarakat terpaksa menebang pohon karena memang nggak ada kerjaan lain.
"Saya mengusulkan 'bantulah, Pak, gimana mereka dikasih pelatihan apa, agar mereka bekerja ke luar, jadi pekerjaannya nggak melanggar hukum lagi'. Waktu itu ditanggapi," ujarnya.
Dody yang juga bagian dari WWF Riau ini punya kekhawatiran sendiri. Ketergantungan warga pedalaman pada hutan bisa berakibat fatal. Dia kasih contoh, tradisi setempat: setiap pasangan baru menikah biasanya membuka lahan hutan seluas 2 hektare.
"Jadi kalau 1 desa menikah 4 pasang saja, kali 10 desa berarti ada 40, kali 2 hektare. Berarti kemungkinan 80 hektare dalam 1 tahun pasti dibuka untuk pekerjaan baru. Jadi kalau nggak dialihkan mereka punya penghasilan lain, ya suaka margasatwa yang 140 ribu hektare saya rasa menunggu waktu saja," ucap dia.
Dody sadar, mengubah kebiasaan orang itu bukan perkara gampang. Butuh pendekatan yang pas. Nah, Kombes Eko menurutnya punya cara yang halus tapi mengena.
"Mengubah orang sini, mengubah gaya hidup itu nggak mudah. Jadi waktu itu (Kombes Eko) berkunjung ke sana, ada bawa sembako sambil menyampaikan ide itu. Ternyata ada respons dan sebagian dari anak-anak itu memahami bahwa ini ada kesempatan," ucap dia.
Hasilnya? Sekitar 60 pemuda setempat ikut pelatihan satpam. Beberapa di antaranya bahkan sudah mulai bekerja. Lumayan, kan?
"Sekarang sudah ada adik-adik itu yang udah bekerja. Ada juga sebagian yang belum, karena memang mengubah pola pikir mereka itu kan nggak bisa instan. Kalau ikut sendiri kan sekitar 3 jutaan biaya pendidikan, jadi sangat terbantu. Banyak juga anak-anak di sini yang kerja security sebelumnya, kalau daftar sendiri habis 5 juta, pendidikan, beli baju, ini gratis, dibantu, disalurkan lagi," jelasnya.
Para pemuda yang sudah dilatih ini nantinya bakal dijadikan Duta Green Policing. Harapannya, mereka bisa jadi agen perubahan di lingkungannya sendiri.
"Jadi adik-adik yang dididik itu dijadikan Duta Green Policing, jadi diharap mereka setelah dididik itu bukan hanya soal mendapat kerja, tapi juga membantu, menjadi duta di masyarakat menyampaikan pentingnya menjaga lingkungan," jelasnya.
Libatkan Siswa untuk Peduli Lingkungan
Nama Kombes Eko juga diusulkan oleh Ketua Persatuan Hijau Riau, Hengky Primana. Menurut Hengky, apa yang dilakukan Eko ini sejalan dengan program Kapolda Riau, Irjen Herry Heryawan.
"Kita lihatlah dedikasi dari Pak Eko ini. Beliau juga bisa punya pendekatan kepada siswa-siswa, dengan membentuk yang namanya Duta Green Policing, program Pak Kapolda Riau. Juga kita menilai program kreatif dan kegiatan positif yang dibuat beliau," kata Hengky.
Dalam program ini, Kombes Eko juga mengaktifkan peran masyarakat. Ada program siskamling yang dihidupkan lagi, plus penegakan hukum yang dibungkus dengan kearifan lokal. Contohnya, program Dubalang Batang Kuantan.
"Beliau bergerak di bidang lingkungan, pendidikan, beliau menjalankan tugas-tugas Binmas yang betul-betul dibutuhkan masyarakat, seperti dilakukan pembentukan Siskamling, Dubalang Batang Kuantan yang dibina oleh beliau, yang melibatkan masyarakat dalam menjaga kamtibmas," jelasnya.
Pendekatan Dubalang ini, kata Hengky, cukup efektif. Misalnya untuk menekan tambang emas ilegal di Kuantan Singingi.
"Di Kuantan Singigi itu yang dibentuk... kan terjadi penambangan emas ilegal di Kuansing oleh masyarakat, ketika aparat yang melakukan penindakan, masyarakat terkadang melakukan perlawanan seperti membajak mobil Kapolres waktu itu," ucap dia.
"Nah inisiasi Dubalang Batang Kuantan itu yang dibentuk bagaimana masyarakat jaga masyarakat, jadi masyarakat dibentuk untuk saling menjaga masyarakat. Menterjemahkan program yang diarahkan oleh Bapak Kapolda dalam Green Policing tadi," jelas dia.
Nggak cuma itu, program Green Policing juga menyasar anak sekolah. Para siswa dijadikan duta untuk mengajak masyarakat lebih peduli lingkungan.
"Beliau itu pernah mengatakan Green School Academy, itu mendatangkan seluruh anak-anak SMA, anak-anak OSIS. Jadi sekarang anak-anak OSIS itu pada bicara Green Policing semua. Jadi Ketua OSIS yang ada di Riau itu yang menjadikan Kamtibmas, menyuarakan lingkungan dan pendidikan lainnya," ucap dia.
Pendekatan Kombes Eko Ubah Pola Pikir Warga
Kombes Eko sendiri baru menjabat sebagai Dirbinmas Polda Riau sejak April 2025. Begitu dilantik, dia langsung coba menjawab persoalan yang ada di lapangan.
"Selama ini saya belum pernah langsung tugas di bidang Binmas. Ganti-ganti, saya megang internal, lalu lintas, Kapolres. Saya belajar zaman waktu di Kapolres, ternyata banyak sekali yang dikeluhkan masyarakat, kami belajar intinya dari masyarakat," kata Kombes Eko.
Sebagai Dirbinmas, dia mengandalkan jaringan Polres sebagai penggerak di lapangan. Dia juga menerjemahkan program Kapolda, terutama yang soal peduli lingkungan.
"Pak Kapolda justru yang memiliki inovasi untuk menyentuh masyarakat sesuai problem yang terjadi di masyarakat. Tipikal Riau ini daratan yang memiliki kekayaan luar biasa, baik minyak maupun yang ada di atasnya," ucap Eko.
"Beliau melihat ini sayang banget kalau Riau dibiarkan begitu saja. Maka berbagai macam analisis dan kajian beliau keluarkan menjadi sebuah konsep yaitu Green Policing, menyentuh lingkungannya. Permasalahannya alam yang sudah mulai bergeser keseimbangannya," imbuh dia.
Eko juga sempat menyinggung sejarah. Riau, katanya, punya hubungan erat dengan Kerajaan Siak yang dulu berjaya dan ikut berperan dalam kemerdekaan.
"Bahkan Riau sendiri, kalau kita lihat sejarahnya, sampai kerajaan Siak membantu pemerintah RI, Raja Siaknya dengan 13 juta Gulden untuk membantu pemerintahan dan memerdekakan itu," ujar dia.
Tapi sayangnya, keseimbangan alam Riau sekarang mulai goyah. Eko menyoroti kerusakan yang terjadi.
"Melihat dari potensi lain, minyak, sawit, tetapi ada pergeseran nilai yang menggeser fungsi lahan. Ya kalau kita sebut alam Riau sudah mulai tidak seimbang, rusaklah bahasanya. Dari 5 juta hektare, tinggal 1,5 juta lagi," ucap dia.
Kondisi ini yang bikin Kapolda Riau prihatin. Salah satu solusinya, ya, mengubah pola pikir masyarakat.
"Spirit itu beliau kemukakan, kita jangan lagi merusak hutan, kalau kita memperbaiki hutan juga setengah mati, maka kita buka mindset masyarakat dari semua kalangan. Terutama pola pikir anak-anak yang masih memiliki masa depan, yang memiliki Riau ini," ujar dia.
Atas arahan itu, Kombes Eko pun menggandeng pemerintah daerah, swasta, sampai tokoh agama seperti Ustad Abdul Somad. Kolaborasi ini kemudian melahirkan Jambore Karhutla 2025 di Desa Gema, Kampar Kiri Hulu.
"Akhirnya semenjak setelah Jambore Karhutla, itu adalah milestone menggebrak pemikiran. Permasalahan yang paling menjejak di Riau adalah janganlah kita memberikan udara kotor bagi kita sendiri termasuk negara yang ada di sebelahnya," jelasnya.
Usai jambore, Kombes Eko nggak langsung cabut. Dia malah ngobrol dengan warga, termasuk Dody Rasyid Amin.
"Keberadaan kemah di sana secara strategis mengingatkan masyarakat sana jangan main kayu lagi. Bang Dody sudah memikirkan ini. Dia memberikan sebuah kanal kegiatan sehingga pemuda tidak bergantung lagi aktivitas yang berhubungan dengan hutan," kata Eko.
Dia dengar sendiri, masih banyak warga yang menebang hutan untuk bertahan hidup. Kebiasaan ini, menurutnya, harus diubah.
"Kajiannya adalah hutan ini mulai tergerus sedikit-sedikit. Kenapa masyarakat tinggal di situ? Karena memang dari tahun 1.700 sudah ada masyarakat di sana sejak zaman kerajaan. Mereka masyarakat tua yang bergantung pada wilayah hutan," kata Eko.
Berikan Pelatihan Satpam ke Pemuda
Setelah mendengar keluhan itu, Kombes Eko berdiskusi dengan internal Polda Riau dan Baznas. Hasilnya, para pemuda dikasih pelatihan satpam.
"Kami melakukan pendekatan dengan Baznas untuk pendanaan, saya bicara dengan kawan-kawan di internal, kita minta satu pusdik untuk menyiapkan diri untuk mencoba satu model memperkenalkan sebuah profesi yang tidak harus mereka menjadi itu, setidaknya mereka mengenal pemerintahan bahwa negara sedang turun, negara menyentuh," ucap dia.
Pelatihan ini masuk dalam program Jelajah Rakyat untuk Riau (Jalur) Polda Riau. Tahap pertama di Agustus 2025, diikuti 50 orang pemuda.
"Pak Kapolda memiliki program Jalur, menyentuh, menyapa, memberikan imbauan, mengajak dan mengingatkan. Kedatangan kami ke sana untuk memberikan bantuan untuk desa di ujung sana, nggak banyak, paket kami siapkan, beras, gula, minyak dan seterusnya," ujar dia.
Awalnya, warga sempat curiga. Mereka pikir kedatangan polisi untuk menangkap pelaku pembalakan. Tapi setelah komunikasi, akhirnya mereka terbuka.
"Di dalam program pendidikan satpam, yang kita didik sikap mental, berpikir, kemudian menjadi pribadi yang lain, sedikitnya mereka bergeser. Kami didik persis di tepi Sungai Subayang," ucap dia.
"Ada yang sudah bisa keluar dari desa itu sendiri, namun tidak harus keluar, tapi nanti suatu saat anak yang keluar ini menjadi motivator buat desanya, 'eh dulu saya udah dididik di sini, sama pemerintah, tidak berbiaya' nanti dia secara snow ball, nanti bisa mengajak adiknya, kawan-kawannya, yuk joint di sana," jelasnya.
Sekilas Tentang Green Policing
Green Policing ini program andalan Kapolda Riau. Intinya, menggabungkan penegakan hukum dengan perlindungan lingkungan. Kombes Eko yang bertugas menjalankannya di tengah masyarakat.
"Niat Green Policing adalah kembali menghijaukan, tetapi kebesertaan kebersamaan masyarakat untuk menjaga itu, tidak paham kalau kita bicara saja, tapi mereka harus kita masuk melalui memperkenalkan dan kebersamaan bersama pemerintah, sehingga mereka menjadi agent betul, untuk dirinya dan masyarakat sekitarnya, 'nggak usah lagi, Bang, udah menjadi paru-paru dunia yang Indonesia punya'," ujar dia.
Di lapangan, Eko sadar pekerjaan ini nggak mudah. Tapi dia terus menggandeng berbagai pihak.
"Kita menggerakkan wilayah termasuk anggota kami, termasuk pejabat yang ada di Polda, Direktorat Intel, Direktorat Kriminal Khusus. Berbicara Green Policing tidak hanya menanam dan meningkatkan kesadaran ekologis, tapi ada permasalahan tindak pidana yang sudah dilakukan oleh masyarakat, mereka atas dasar kebutuhan perut membabat hutan, atau membersihkan lahannya membakar, itu yang tidak kita berikan untuk ada terus. Kita menggunakan tangan-tangan krimsus, tangan-tangan Polres, penyidik, Polres, semua digerakkan," ucap dia.
Sebagai Dirbinmas, Eko mengaku terus mensosialisasikan program Jalur dan Green Policing. Mulai dari sekolah sampai ajakan menanam pohon.
"Saya masuk di program Jalur, Green Policing, untuk memperkuat dan mengingatkan terus, dan kami mendata itu berapa banyak pohon yang sudah ditanam setiap harinya, berapa sekolah yang sudah disentuh," ujar dia.
Dia pun melihat dampaknya. Polusi udara akibat kebakaran hutan di tahun 2025, katanya, sudah berkurang drastis.
"Tahun 2016 saya masih di Sumatera Barat, asap yang dari Riau itu nyampai di Padang, bahkan nyampai di Agam waktu saya jadi Kapolres, udara kotor. Tahun 2025 saya tidak menemukan Pekanbaru tercemar, itu aja dulu, udah cakep itu," pungkasnya.
Artikel Terkait
Mantan Kapolres Bima Kota Didik Putra Kuncoro Resmi Jadi Tersangka Pencucian Uang Kasus Narkoba
KSPSI Pilih Dialog dan Solusi Konkret, Bukan Demo, dalam Peringatan May Day 2026
Mantan Finalis Puteri Indonesia Tersangka Malapraktik Facelift Ilegal, Korban Cacat Permanen
Wamendagri Dorong Aglomerasi Sektoral untuk Percepat Atasi Banjir, Macet, dan Sampah di Perkotaan