Badan intelijen Amerika Serikat lagi sibuk mempelajari sesuatu. Mereka coba menerka bagaimana reaksi Iran kalau Presiden Donald Trump tiba-tiba mengumumkan kemenangan sepihak. Padahal perangnya sendiri masih berkecamuk, sudah dua bulan lamanya.
Perang ini jelas jadi beban politik buat Gedung Putih. Makin hari makin berat.
Dua pejabat AS yang minta namanya dirahasiakan sama satu sumber lain yang paham betul soal ini, bilang gini. Komunitas intelijen lagi mengerjakan analisis itu bareng beberapa masalah lain. Semua atas permintaan pejabat senior pemerintahan. Isinya kurang lebih begini: mereka pengin paham implikasinya kalau Trump benar-benar menarik diri dari konflik ini.
Nah, di sini ada kekhawatiran. Sejumlah pejabat dan penasihat Trump khawatir kalau perang ini berlarut-larut, Partai Republik bisa kalah telak di pemilu sela akhir tahun nanti. Jadi tekanan politiknya nyata.
Meski begitu, belum ada keputusan final. Trump bisa aja sewaktu-waktu balik lagi, meningkatkan operasi militer. Tapi kalau dia memilih deeskalasi cepat, tekanan politiknya bisa agak reda. Setidaknya untuk sementara.
Di sisi lain, ada risiko lain. Iran bisa jadi makin berani. Mereka mungkin membangun lagi program nuklir dan rudalnya. Ancaman buat sekutu-sekutu AS di kawasan juga bisa meningkat. Jadi ini semacam tarik-ulur yang rumit.
Kapan analisis komunitas intelijen selesai? Tidak ada yang tahu pasti. Tapi sebelumnya mereka sudah sempat menganalisis kemungkinan reaksi para pemimpin Iran terhadap deklarasi kemenangan AS. Mungkin itu jadi titik awalnya.
Artikel Terkait
Mantan Kapolres Bima Kota Didik Putra Kuncoro Resmi Jadi Tersangka Pencucian Uang Kasus Narkoba
KSPSI Pilih Dialog dan Solusi Konkret, Bukan Demo, dalam Peringatan May Day 2026
Mantan Finalis Puteri Indonesia Tersangka Malapraktik Facelift Ilegal, Korban Cacat Permanen
Wamendagri Dorong Aglomerasi Sektoral untuk Percepat Atasi Banjir, Macet, dan Sampah di Perkotaan