Puan Maharani Desak Perbaikan Sistem Keselamatan Perkeretaapian Usai Tabrakan Beruntun di Bekasi

- Rabu, 29 April 2026 | 01:30 WIB
Puan Maharani Desak Perbaikan Sistem Keselamatan Perkeretaapian Usai Tabrakan Beruntun di Bekasi

Jakarta, dentingan keras di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam lalu, seolah jadi alarm. Bukan cuma soal tabrakan antara KA Argo Bromo Anggrek dan KRL Commuter Line, tapi juga soal kepercayaan publik yang bisa luntur dalam sekejap. Ketua DPR, Puan Maharani, langsung angkat bicara. Ia mendesak pemerintah untuk segera membenahi sistem keselamatan di perkeretaapian.

"Sistem dan keamanan pada jalur kereta api harus diperbaiki," ujarnya dalam keterangan pers, Selasa (28/4).

Kronologinya begini. Semua berawal dari sebuah taksi listrik yang ditabrak KRL di daerah Bulak Kapal, setelah nekat menerobos perlintasan sebidang. Tabrakan itu bikin perjalanan KRL dari Jakarta menuju Cikarang kacau. Rangkaian keretanya pun terpaksa berhenti di tengah jalur. Nah, nahasnya, dari arah belakang meluncur KA Argo Bromo Anggrek. Tak sempat menghindar, tabrakan pun tak terelakkan.

Menurut Puan, masalahnya bukan cuma soal tabrakan itu sendiri. Lebih dari itu, ini soal bagaimana kita memandang keselamatan. "Ya, karena keamanannya sangat kurang, kecelakaan kereta seringkali terjadi dan ini harus disikapi dengan serius," tegas cucu Proklamator RI itu.

Ia menambahkan, insiden ini bukan cuma mendatangkan duka. Lebih dalam lagi, ini soal kepercayaan. KRL di Jabodetabek, kata Puan, sudah jadi semacam infrastruktur sosial. Bukan sekadar alat angkut massal. "Melainkan infrastruktur sosial yang menopang ritme kerja, pendidikan, dan aktivitas ekonomi masyarakat setiap hari," jelasnya.

Puan punya kekhawatiran. Setiap insiden besar di sektor kereta api, menurutnya, punya efek domino. "Berpotensi memengaruhi persepsi masyarakat terhadap rasa aman menggunakan transportasi kereta," ujar putri Megawati Soekarnoputri itu.

Di sisi lain, kecelakaan Senin malam itu juga memperlihatkan betapa rumitnya sistem perkeretaapian kita sekarang. Frekuensi perjalanan makin padat. Jenis layanan berbagi lintasan yang sama. Ruang toleransi terhadap kesalahan pun makin sempit. "Dalam kondisi seperti ini, keselamatan tidak cukup dilihat hanya sebagai kepatuhan prosedur operasional harian," kata Puan.

Ia mendorong investigasi tuntas. Bukan cari kambing hitam, tapi pembelajaran struktural. "Hasil terpenting dari evaluasi ini adalah memastikan masyarakat melihat bahwa menggunakan KRL tetap menjadi pilihan transportasi yang aman, rasional, dan didukung oleh sistem keselamatan yang terus diperkuat," pungkasnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar