Empat WNI Disandera Bajak Laut Somalia, Negosiasi Tebusan Berlangsung

- Selasa, 28 April 2026 | 18:55 WIB
Empat WNI Disandera Bajak Laut Somalia, Negosiasi Tebusan Berlangsung

Empat WNI Jadi Sandera Bajak Laut Somalia, Negosiasi Tebusan Berjalan

Sudah genap satu minggu. Empat warga Indonesia masih ditawan oleh bajak laut Somalia. Penyergapan itu sendiri terjadi pada Selasa, 21 April lalu. Keluarga para korban menyebut negosiasi soal uang tebusan kini tengah berlangsung.

Kementerian Luar Negeri, sejauh ini, mengklaim terus menjalin koordinasi intensif dengan berbagai pihak terkait di Somalia. Tapi, detailnya masih simpang siur.

Seorang peneliti hubungan internasional punya pandangan lain. Menurutnya, pendekatan lewat organisasi Islam bisa menjadi kunci untuk keselamatan dan pembebasan para sandera. Di sisi lain, banyak kalangan menilai kemunculan kembali bajak laut Somalia tidak bisa dilepaskan dari konflik Amerika Serikat-Israel dengan Iran. Dunia sedang terfokus pada Timur Tengah yang memanas. Akibatnya, insiden serangan kapal di perairan Somalia yang sempat mereda beberapa tahun terakhir kini kembali mencuat.

Sebetulnya, kasus penyanderaan WNI di Somalia bukanlah hal baru. Dalam satu insiden sebelumnya, proses pembebasan sandera bahkan menjadi catatan bersejarah bagi Indonesia dalam misi di luar negeri.

Pesan Suara di Tengah Kepungan

Kepala Santi Sanaya masih terus dibayangi nasib suaminya, Ashari Samadikun. Pria itu kini terombang-ambing di lautan, diawasi ketat oleh sekitar 30 bajak laut Somalia bersenjata.

Ashari adalah kapten kapal tanker MT Honour 25. Bersama krunya, ia dikabarkan disandera saat berlayar dari Oman menuju Somalia, Selasa malam lalu.

Saat pengepungan terjadi, Ashari sempat menghubungi Santi. Ia bilang timnya dalam bahaya.

Ponsel Santi berdering. Muncul notifikasi pesan suara dari Ashari lewat WhatsApp, sekitar pukul 19.30 WITA. Isinya singkat: kapal sedang diserang bajak laut.

Tanpa pikir panjang, Santi langsung mencoba menghubungi balik. Tapi yang terdengar hanya nada sela. Tak ada respons.

“Terus selang beberapa jam, sudah tidak aktif HP-nya. Betul-betul putus komunikasi saya sama dia,” ujarnya lirih, ditemui di rumahnya di Desa Pacellekang, Kecamatan Pattallassang, Gowa, Senin (27/04).

Kapal tanker MT Honour 25 membawa 17 pelaut. Empat di antaranya WNI: Ashari Samadikun (kapten, asal Gowa), Adi Faizal (2nd Officer, Bulukumba), Wahudinanto (Chief Officer, Pemalang), dan Fiki Mutakin (Bogor). Sisanya, 11 warga Pakistan, satu warga Sri Lanka, dan satu warga India.

“Assalamualaikum, Jangan Tembak Saya”

Sejak hari pertama, ponsel Ashari dan krunya disita perompak. Tapi pada Jumat (24/04), Ashari diberi kesempatan memakai telepon kapal untuk menghubungi perusahaan dan keluarganya.

Di momen itu, Ashari bercerita banyak ke Santi. Tentang hal-hal mengerikan yang terjadi selama penyergapan. Termasuk, “beberapa kali ditodong senjata.”

Saat situasi sudah terkepung, Ashari mencoba menenangkan para perompak. Katanya, ia seorang Muslim.

“Suami saya sempat sambut mereka dengan ‘Assalamualaikum, jangan tembak saya. Saya Muslim’,” kata Santi menirukan suaminya.

“Terus perompak itu juga bilang, ‘Kau Muslim ya?’”

“Suami saya jawab ‘Iya’. Perompak itu lalu bilang, ‘Saya juga Muslim’,” tambah Santi. Ia yakin, status agama itu penting di tengah situasi mencekam seperti itu.

Pasangan yang sudah punya dua putri ini terakhir berkomunikasi Minggu malam (26/04). Ashari mengabarkan, para perompak sedang bernegosiasi dengan pihak perusahaan untuk minta tebusan.

“Setelah itu suami saya bilang, jangan hubungi saya lagi, baik di HP saya maupun HP kapal. Soalnya takut nanti perompak yang pegang HP-nya,” katanya.

Selama sepekan disandera, kata Santi, Ashari dan teman-temannya dalam kondisi sehat. Mereka masih diberi makan dan diizinkan beribadah.

“Cuma, kapan-kapan kalau perompak merasa terancam akan diserang, tiba-tiba semuanya mencekam lagi. Soalnya suami saya sempat beberapa kali ditodong senjata,” ujarnya.

Dalam satu panggilan video, Ashari sempat menunjukkan beberapa bagian kapal yang berlubang bekas tembakan.

Kronologi Penyergapan

Menurut penuturan Santi, suaminya baru sadar ada serangan setelah sekitar 15 orang bersenjata sudah naik ke atas kapal.

“Setelah itu, semua disuruh kumpul, HP-nya ditahan semua,” jelas Santi.

Sebelum berangkat, Santi sempat bertanya apakah ada pengawalan. “Karena saya tahu Somalia itu rawan pembajakan. Saya bilang, bagaimana, apa ada pengawalan dari office? Dia jawab tidak ada.”

Namun, Ashari bisa meyakinkan istrinya. Kapal tanker yang dikemudikannya mengangkut muatan minyak milik pemerintah. “Jadi Insya Allah tidak ada apa-apa,” katanya waktu itu.

Sekarang, Ashari dan teman-temannya dibawa ke dekat markas perompak, sekitar tiga mil dari pantai. Pengawasan ketat.

“Kurang lebih 30 orang perompaknya sekarang, karena sudah dekat dengan markas,” kata Santi.

“Rekan suami saya, termasuk angkatannya, sangat membantu dengan masalah ini. Hari ini juga temannya di Jakarta mau ke Kemenlu untuk mengadukan insiden ini.”

Santi berharap pemerintah tidak tinggal diam. “Semoga pemerintah bisa membantu, terutama Pak Presiden Prabowo. Semoga suami saya dan kru lainnya, termasuk warga Indonesia, dibantu kepulangannya ke Indonesia dalam keadaan selamat dan sehat, tidak kurang satu apa pun.”

Menurut situs ShipAtlas, kapal yang dibajak itu berangkat pada 20 Februari dari pelabuhan Berbera, di Somaliland wilayah otonom yang memproklamasikan diri sebagai negara, meski belum diakui internasional. Kapal lalu tiba di dekat pantai Uni Emirat Arab tak lama setelah konflik Timur Tengah dimulai. Peta pelayaran menunjukkan kapal sempat berputar-putar di dekat Selat Hormuz, sebelum berbalik arah pada 2 April dan menuju Mogadishu, Somalia.

Sosok Kapten yang Bertanggung Jawab

Bagi Santi, Ashari adalah laki-laki yang bertanggung jawab. Saat peristiwa perompakan terjadi, ia masih sempat memikirkan nasib teman-temannya.

“Saat ada insiden ini, yang dia pikir itu teman-temannya. Sebagian besar keluarganya belum tahu soal kejadian ini. Makanya saya salut sama suami saya. Di tengah kondisi terancam, dia masih mikirin anggota-anggotanya dan keluarganya,” terang Santi.

Langkah Pemerintah

Kementerian Luar Negeri RI membenarkan adanya empat WNI yang ditawan. Direktur Perlindungan WNI Kemlu, Heni Hamidah, mengaku sudah menindaklanjuti laporan pembajakan MT Honour 25 di perairan sekitar Hafun, Somalia, pada Rabu (22/04).

“KBRI Nairobi terus melakukan koordinasi intensif dengan seluruh pihak terkait di Somalia,” katanya, seperti dikutip ANTARA, Senin (27/04). Koordinasi ini melibatkan otoritas setempat, tokoh masyarakat, dan pelaku usaha. KBRI Nairobi memantau perkembangan untuk memastikan proses penanganan berjalan optimal dengan tetap mengutamakan keselamatan para ABK WNI.

Pendekatan Baru lewat Ormas Islam

Peneliti Hubungan Internasional dari BRIN, Athiqah Nur Alami, menawarkan beberapa pendekatan. Pertama, diplomasi langsung Indonesia-Somalia. Kedua, menekan perusahaan pemilik kapal agar tidak lepas tangan. Honour 25 berbendera Palau, negara kepulauan di Pasifik Barat. Kapal ini membawa 18.500 barel minyak. Penyitaan kapal tanker yang menuju Mogadishu ini kemungkinan akan meningkatkan kecemasan di kota itu, di mana harga bensin sudah melonjak tiga kali lipat sejak perang AS-Israel dengan Iran dimulai.

Ketiga, pendekatan baru lewat apa yang disebut “faith-based diplomacy”. Ini melibatkan aktor, nilai, dan jaringan keagamaan untuk perdamaian, resolusi konflik, dan dialog lintas budaya. Menurut Athiqah, ini tidak mustahil. Indonesia punya kedekatan keyakinan dengan Somalia, yang hampir 100 persen penduduknya Muslim Sunni.

“Ini kan seringkali masalahnya tidak cukup hanya di tingkat negara. Perlu ada jalur-jalur informal. Lewat tokoh agama atau tokoh masyarakat. Antara mungkin ormas kita di sini, ormas keagamaan,” katanya.

Ditengarai Muncul karena Konflik Global

Menurut Athiqah, kemunculan bajak laut Somalia belakangan ini masih disebabkan faktor klasik: ekonomi-sosial-politik yang pelik. Lemahnya tata kelola, kemiskinan pesisir, penangkapan ikan ilegal, dan perompakan yang sudah menjadi industri. Belum lagi ketergantungan pada patroli laut internasional.

“Itu yang mendorong mereka memanfaatkan geografi untuk mengambil untung dari bisnis kejahatan ini,” katanya.

Faktor lainnya, patroli laut internasional yang biasa menjadi penghalau perompak kini konsentrasinya terpecah. “Karena perhatian lagi banyak di Selat Hormuz, Ukraina, Lebanon, Palestina. Patrolinya mengendor,” ujarnya.

Pengamat dunia maritim, Capt. Marcellus Hakeng Jayawibawa, senada. Menurutnya, kelompok bajak laut Somalia “sedang menikmati situasi geopolitik.” Semua mata pemimpin dunia fokus pada konflik AS-Israel dengan Iran. “Konsentrasi dunia ke sana, sehingga ada celah berkurangnya perhatian pada keamanan di perairan seperti Somalia,” kata Capt. Hakeng.

Modus Lama, Peluang Baru

Model pembajakan perompak Somalia, menurut Capt. Hakeng, tidak banyak berubah. Mereka mengincar kapal tanker karena deknya rendah dan mudah dipanjat. Dalam operasinya, mereka pakai kapal induk besar yang mengangkut kapal kecil. Tujuannya, memperluas area target, bahkan di luar teritorial Somalia.

“Mereka monitor kapal target. Ketika lewat dan tidak menyadari ada kapal besar di lokasi agak jauh, baru dilakukan intercept dengan kapal kecil,” katanya.

Tentu, sumber daya besar ini butuh modal besar. Capt. Hakeng menyebut perompakan Somalia sebagai “model bisnis” profesional. Beda dengan bajak laut di Selat Malaka yang bermodal kapal kecil dan pulau tak berpenghuni sebagai markas. Motifnya juga sama: uang tebusan.

PBB, dalam beberapa laporannya, menyebut perompakan Somalia sebagai industri berbasis penculikan. Melibatkan jaringan terorganisir dengan investor, negosiator, hingga penjaga sandera.

Capt. Hakeng mengusulkan pendekatan diplomasi ke negara asal kapal, tekanan lewat Organisasi Maritim Internasional (IMO), dan pelibatan asosiasi pelaut. Untuk jangka panjang, pelaut Indonesia perlu diperkuat pedoman keamanan internasional di bawah IMO, lewat ISPS Code. “Agar mereka bisa melakukan langkah pencegahan saat melintasi perairan rawan bajak laut,” katanya.

Bukan Kasus Pertama

Pada 2012, kapal FV Naham berbendera Taiwan dengan 26 kru termasuk lima WNI disandera perompak Somalia. Empat tahun kemudian, lima dari empat WNI baru dibebaskan setelah perusahaan membayar uang jaminan. Satu WNI meninggal karena sakit.

Selama penyanderaan, para penyintas menceritakan krisis kemanusiaan. Air minum yang diberikan tidak sampai 500 ml sehari. “Air mentah, kadang ada kotoran unta, kotoran kambing. Daripada dimasak, mending tidak usah. Kalau dimasak airnya makin bau. Kalau kita tutup gelasnya, kita ingin memuntahkan air itu kembali,” kata seorang penyintas.

Mereka juga bilang, perompak Somalia mudah tersinggung. Urusan buang air besar saja bisa berujung penembakan.

Kasus lain terjadi pada 2011, saat kapal kargo MV Sinar Kudus disandera. Bedanya, kapal ini berbendera Indonesia dengan 20 awak WNI. Dalam kasus ini, pasukan militer Indonesia dikerahkan dalam misi luar negeri pertama penyelamatan sandera. Operasi berhasil menyelamatkan semua awak tanpa korban jiwa, setelah penyanderaan 1,5 bulan.

Ancaman Meningkat

Di tengah situasi ini, Badan Operasi Perdagangan Maritim Kerajaan Bersatu (UKMTO) menaikkan tingkat ancaman di perairan Somalia menjadi “substansial.” Menurut catatan UKMTO, setidaknya empat kapal telah menjadi sasaran dalam sepekan terakhir, termasuk kapal ikan dan tanker Honour 25.

“Karena meningkatnya ancaman aktivitas PAG (Pirate Action Group), kapal-kapal disarankan melintas dengan hati-hati,” kata UKMTO, seraya mencatat cuaca mendukung operasi kapal kecil.

Sampai tiga tahun lalu, pembajakan hampir lenyap di Samudra Hindia. Tapi kini kembali marak. Serangan bajak laut Somalia yang sempat memuncak pada 2007-2012 kini jadi ancaman baru, meski intensitasnya masih rendah.

Biro Maritim Internasional (IMB) mencatat, di periode puncak dulu, perompakan didominasi kapal besar seperti tanker dan kapal curah, yang kemudian dibawa ke pesisir Somalia untuk negosiasi tebusan jangka panjang bernilai jutaan dolar. Laporan IMB dan Dewan Keamanan PBB menilai penurunan drastis pasca-2012 lebih karena patroli internasional yang masif, bukan karena akar masalah di Somalia selesai.

Lebih dari satu dekade, PBB mengambil langkah kerja sama internasional untuk menekan kejahatan bajak laut, misalnya penguatan pemerintahan. Namun, badan ini masih melihat kerapuhan dan potensi kejahatan yang kembali muncul. “Meskipun banyak yang telah dicapai, kemajuan yang telah diraih dapat berbalik arah,” tulis pernyataan PBB.

Berdasarkan laporan terbaru IMB, insiden bajak laut kembali mencuat dalam dua tahun terakhir. Pada 25 Maret 2026, sebuah kapal layar berbendera Iran, Al Waseemi 786, dibajak sekitar 400 mil laut di timur Mogadishu. “Para perompak kemungkinan akan menggunakan kapal tersebut sebagai kapal induk,” tulis IMB. Lalu pada 26 Februari 2026, upaya pembajakan terjadi pada kapal berbendera Iran di dekat Garmaal, Somalia. Dua perahu kecil mencoba mendekat, tapi digagalkan. Satu perompak tewas, dua terluka.

IMB menekankan, kehadiran angkatan laut multinasional dan penerapan Best Management Practices masih menjadi faktor utama yang mencegah kebangkitan besar pembajakan Somalia. Antara 2005 dan 2012, para perompak di lepas pantai Afrika Timur ini meraup keuntungan antara 339 juta dolar AS hingga 413 juta dolar AS, menurut perkiraan Bank Dunia.

Kembali ke keluarga Ashari di Sulawesi Selatan. Mereka masih menanti kepulangan anggota keluarganya yang disekap bajak laut. Dari kacamata keluarga besarnya, Ashari adalah orang yang sangat peduli. “Sering bertanya soal keadaan keluarganya kalau dia sudah pergi, tanya anak-anak, terutama pada ibunya. Selalu,” kata Syamsuddin Dg Ngawing.

Pria 67 tahun ini sangat khawatir. “Yang sangat saya khawatirkan ketika ada diskomunikasi antara satu sama lain di negara sana. Jangan sampai terjadi konflik,” katanya.

“Yang kami harapkan, tentu kehadirannya bisa kembali lagi kumpul bersama keluarga. Apalagi mengingat saya mau wisuda, terus mau lebaran haji. Semoga bisa kumpul lagi seperti semua,” kata Ulul Azmi, adik Ashari yang selama ini biaya kuliahnya ditanggung sang kakak.

Meski belum tahu nasib ke depannya, keluarga sudah punya nazar. “Insyaallah saya akan kumpul bareng dengan keluarga untuk menyambut kedatangannya dengan suka cita,” kata Syamsuddin.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar