Wakapolri Dorong Brimob Perkuat Kapabilitas Hadapi Ancaman Keamanan Hybrid

- Kamis, 23 April 2026 | 16:40 WIB
Wakapolri Dorong Brimob Perkuat Kapabilitas Hadapi Ancaman Keamanan Hybrid

Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo mendorong Korps Brimob Polri untuk terus meningkatkan kapabilitas satuan. Ia menyinggung ancaman keamanan hybrid yang kini semakin marak di tengah kemajuan teknologi.

Hal itu disampaikan Dedi dalam Rakernis Korbrimob Polri 2026 di Gedung Satya Hapbrabu Mako Brimob Polri, Depok, Kamis (23/4/2026). Acara ini dihadiri Dankorbrimob Polri Komjen Ramdani Hidayat, Wadankorbrimob Polri Irjen Reza Arief Dewanto, serta seluruh pejabat utama Korbrimob dan Dansat Brimob se-Indonesia.

Dalam arahannya, Wakapolri menyampaikan apresiasi tinggi atas dedikasi dan profesionalisme Korbrimob Polri sepanjang tahun 2025. Berbagai capaian membanggakan berhasil diraih. Misalnya, keberhasilan Operasi Damai Cartenz, prestasi di ajang internasional World Police & Fire Games, hingga penghargaan Kompolnas Award sebagai Satker Mabes Polri terbaik. Menurutnya, capaian ini menunjukkan Brimob punya kapasitas yang semakin kuat dan mampu bersaing di tingkat global.

Di sisi lain, tantangan ke depan makin kompleks. Ancaman keamanan hybrid jadi salah satu yang disorot. Ancaman ini menggabungkan gangguan fisik, provokasi digital, dan disinformasi. Semuanya berbaur jadi satu, sulit dipisahkan.

"Peningkatan kemampuan personel, penguatan sistem, serta strategi yang adaptif menjadi kunci utama dalam menjawab dinamika tersebut," kata Komjen Dedi.

Soal pelayanan masyarakat, Wakapolri juga menekankan pentingnya pergeseran paradigma. Prinsipnya: "Melayani, Bukan Menghadapi". Brimob diharapkan hadir sebagai pelindung dan pengayom. Bukan sekadar jaminan keamanan, tapi juga memberikan rasa aman yang menenangkan bagi masyarakat.

Tak cuma itu. Wakapolri mendorong penguatan tugas berbasis riset. Caranya, dengan memanfaatkan ekosistem akademik lewat pembentukan Pusat Studi Kepolisian. Tujuannya jelas: meningkatkan kemampuan analisis terhadap ancaman keamanan asimetris yang makin rumit.

Adaptasi teknologi modern juga jadi sorotan. Wakapolri menyebut pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dan drone surveillance sebagai hal yang perlu diperhatikan jajaran Brimob. Komjen Dedi juga bicara pentingnya body-worn camera. Alat ini, katanya, bisa meningkatkan transparansi dan akuntabilitas. Sekaligus meminimalkan kesalahan prosedur di lapangan.

Menutup arahannya, Wakapolri menegaskan satu hal. Peningkatan jumlah pasukan tidak akan berdampak optimal tanpa didukung sistem yang kuat, strategi yang tepat, serta kualitas personel yang profesional, unggul, dan humanis. Intinya, kuantitas saja tak cukup.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar