China Prihatin atas Penyitaan Kapal Iran oleh AS di Teluk Oman

- Selasa, 21 April 2026 | 04:30 WIB
China Prihatin atas Penyitaan Kapal Iran oleh AS di Teluk Oman

Pantau – Ketegangan di perairan Teluk Oman kembali memanas. Pada Senin, 20 April 2026, Amerika Serikat mengambil langkah tegas dengan menyita sebuah kapal dagang milik Iran. Tindakan ini langsung memantik reaksi dari Beijing.

China, lewat juru bicara Kementerian Luar Negeri Guo Jiakun, tak menyembunyikan rasa prihatinnya. Pernyataan resmi disampaikan dalam sebuah konferensi pers yang digelar di ibu kota China.

“Kami menyatakan keprihatinan atas pencegatan paksa kapal terkait oleh Amerika Serikat,”

tegas Guo, dengan nada yang cukup berisi.

Kapal Touska dan Blokade AS

Sebenarnya, apa yang memicu insiden ini? Komando Pusat AS atau CENTCOM telah mengonfirmasi penyitaan itu. Kapal yang bernama Touska itu disebut-sebut berusaha menerobos blokade maritim yang sudah diberlakukan Washington di sekitar Teluk Oman.

Kapal itu kini diklaim sepenuhnya berada dalam kendali Amerika Serikat. Sejak pertengahan April, tepatnya tanggal 13, Angkatan Laut AS memang mulai membatasi lalu lintas kapal dari pelabuhan-pelabuhan Iran di dekat Selat Hormuz. Blokade ini diperketat, dan Touska menjadi salah satu yang kena sasaran.

Seruan Damai dan Realitas di Lapangan

Di sisi lain, China tak cuma mengkritik. Mereka juga menyerukan agar semua pihak bisa menahan diri. Gencatan senjata harus dihormati, kata mereka, supaya ketegangan tidak makin menjadi-jadi. Yang penting, kondisi untuk pelayaran normal di Selat Hormuz harus segera dipulihkan.

Permintaan itu punya alasan kuat. Selat Hormuz bukan sembarang jalur air. Sekitar seperlima pasokan minyak, produk turunannya, dan gas alam cair dunia melewati selat sempit ini. Gangguan di sini bisa menggoyang pasar energi global.

Pemerintah AS sendiri punya penjelasan. Mereka menyatakan bahwa kapal-kapal non-Iran masih boleh melintas, asalkan tidak membayar biaya apa pun kepada Teheran. Namun begitu, sampai berita ini diturunkan, otoritas Iran sendiri ternyata belum mengeluarkan pernyataan resmi soal rencana pungutan itu. Situasinya masih digantung, menunggu perkembangan berikutnya.

Editor: Erwin Pratama

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar