Pertamina Siap Produksi Komersial Bioavtur dari Jelantah Maret 2026

- Jumat, 17 April 2026 | 13:00 WIB
Pertamina Siap Produksi Komersial Bioavtur dari Jelantah Maret 2026

Maret 2026 nanti bakal jadi bulan bersejarah buat Pertamina. Pasalnya, di bulan itulah mereka resmi memulai fase komersial untuk bioavtur atau Sustainable Aviation Fuel (SAF). Bahan bakar pesawat ramah lingkungan ini, yang berbahan baku limbah minyak jelantah, akan diproduksi di Kilang Cilacap.

Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, mengonfirmasi rencana ini. Menurutnya, produksi komersial PertaminaSAF memang direncanakan untuk memenuhi permintaan pelanggan yang sudah menunggu.

“Pada Maret 2026 ini, kilang Pertamina Patra Niaga merealisasikan produksi komersial PertaminaSAF guna memenuhi permintaan pelanggan,” jelas Roberth dalam siaran pers yang dikutip Jumat (17/4).

Sebenarnya, uji coba produksi komersial sudah lebih dulu digulirkan sejak Juli 2025. Dan hasilnya cukup menggembirakan. Roberth menyebut, pada Maret lalu saja Pertamina berhasil memproduksi 45 ribu barel SAF yang kualitasnya sudah memenuhi standar ketat CORSIA Eligible Fuel (CEF).

Lalu, ke mana hasil produksinya dialirkan?

“Selanjutnya (SAF) dikirimkan kepada pelanggan melalui kapal (vessel) dari pelabuhan Kilang Cilacap ke Bandara Ngurah Rai dan Soekarno Hatta pada akhir Maret 2026," tambah Roberth.

Jalan menuju tahap komersial ini tentu tidak instan. Roberth mengakui, pengembangan SAF di Kilang Cilacap melewati proses yang panjang dan berliku. Semua berawal dari penyediaan bahan baku minyak jelantah, yang harus tersertifikasi ISCC CORSIA dulu. Baru setelah itu, proses pengolahan di fasilitas Green Refinery Kilang Cilacap bisa berjalan, sebelum akhirnya disalurkan ke dua bandara utama tadi.

Soal kualitas, Pertamina cukup percaya diri. Produk SAF mereka diklaim telah lulus uji dan memenuhi standar internasional DEFSTAN 91-091 untuk avtur. Tak cuma itu, produk ini juga mematuhi ketentuan dalam negeri dari Ditjen Migas. Pengujiannya sendiri dilakukan di laboratorium internal Pertamina yang sudah berstatus tersertifikasi ISO 17025.

Di balik semua ini, ada strategi bisnis yang lebih besar. Produksi komersial SAF bukan sekadar proyek biasa, melainkan bentuk nyata komitmen perusahaan untuk mengembangkan energi hijau berbasis limbah.

"Ini juga sekaligus memperkuat posisi Pertamina dalam mendukung transisi energi nasional dan sesuai roadmap untuk menuju Net Zero Emission tahun 2060. Inisiatif ini juga sejalan dengan program Pemerintah dalam meningkatkan kemandirian serta ketahanan energi nasional," pungkas Roberth.

Jadi, selain urusan bisnis, langkah Pertamina ini juga punya muatan strategis. Mereka ingin ambil bagian dalam peta transisi energi, mendukung target pemerintah, dan tentu saja, menyiapkan pijakan menuju masa depan yang lebih bersih.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar