Perundingan Damai AS-Iran Mentok, Perbedaan Durasi dan Penyimpanan Uranium Jadi Batu Sandungan

- Selasa, 14 April 2026 | 14:30 WIB
Perundingan Damai AS-Iran Mentok, Perbedaan Durasi dan Penyimpanan Uranium Jadi Batu Sandungan

Perundingan damai di Islamabad akhir pekan lalu berakhir tanpa titik terang. Salah satu pemicu perselisihannya adalah soal program pengayaan uranium Iran. Poin inilah yang kemudian memicu ketegangan lebih lanjut, hingga Presiden AS Donald Trump memerintahkan blokade pelabuhan Iran.

Laporan New York Times yang mengutip sejumlah pejabat dari kedua belah pihak mengungkap detail perbedaan itu. Intinya, AS mendesak Teheran untuk menghentikan pengayaan uranium selama dua dekade. Lamanya waktu itu jadi masalah utama.

Di sisi lain, Iran punya tawaran lain. Menurut dua pejabat senior Iran dan satu pejabat AS yang diwawancarai NYT, Teheran mengajukan jeda yang jauh lebih singkat: hanya lima tahun. Proposal itu mereka sampaikan secara resmi pada Senin, 13 April.

Namun begitu, tawaran Iran itu langsung ditolak oleh Washington.

“Trump menolak proposal Iran tersebut,”

kata seorang pejabat AS, seperti dikutip dalam laporan yang sama.

Masalahnya tak cuma soal durasi. Washington juga punya tuntutan lain yang tak kalah berat: mereka meminta Iran memindahkan pasokan uranium yang telah diperkaya tinggi keluar dari wilayahnya. Ini jelas batu sandungan besar.

Menurut sejumlah saksi yang diwawancarai, Iran bersikukuh menolak. Alih-alih memindahkannya, mereka bersikeras agar bahan-bahan itu tetap di dalam negeri. Sebagai gantinya, Teheran menawarkan solusi: mereka akan mengencerkan pasokan uranium tersebut secara signifikan. Targetnya, sampai ke level yang dianggap tidak lagi layak untuk dijadikan senjata.

Negosiasi alot ini, seperti dilaporkan TRT World pada Selasa (14/4/2026), akhirnya mentok. Jarak yang terlalu lebar antara tawaran lima tahun dan dua puluh tahun, ditambah dengan persoalan lokasi penyimpanan uranium, membuat meja perundingan akhirnya bubar tanpa hasil.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar