Jakarta – Dunia kerja kita sedang berubah, dan cepat sekali. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, tak bosan-bosannya mengingatkan hal itu. Menurutnya, transformasi hubungan industrial bukan cuma wacana, tapi kunci utama untuk mencapai cita-cita Indonesia Emas 2045.
Pernyataan itu ia sampaikan di hadapan para peserta Musyawarah Nasional Federasi Serikat Pekerja Farmasi dan Kesehatan (FSP FARKES) KSPSI, Jumat lalu (3/4/2026). Intinya jelas: adaptasi terhadap teknologi seperti AI dan otomasi sudah jadi keharusan. Kalau tidak, industri kita bisa tertinggal.
“Hubungan industrial harus naik kelas,” tegas Yassierli.
Ia melanjutkan, hubungan itu tak boleh lagi sekadar menjaga stabilitas atau meredam konflik. Pola lama harus bergeser. “Tidak hanya harmonis, tetapi juga transformatif, di mana pekerja dan perusahaan menjadi mitra strategis yang tumbuh bersama,” ujarnya.
Di sisi lain, tekanan disrupsi teknologi terasa sangat kuat di sektor-sektor vital seperti farmasi dan kesehatan. Karena itu, Menaker menekankan, perlindungan hak pekerja harus sejalan dengan upaya perusahaan berinovasi. Prinsipnya, tak boleh ada yang ditinggalkan dalam transisi menuju era kerja baru ini.
Lalu, seperti apa bentuk kemitraan strategis yang dimaksud? Yassierli memaparkan sebuah jenjang kematangan. Awalnya, hubungan kerja mungkin hanya soal patuh aturan. Lalu naik ke tahap komunikasi yang lebih terbuka. Puncaknya adalah kolaborasi penuh, di mana pekerja dilihat sebagai aset intelektual, bukan sekadar roda penggerak mesin produksi.
Artikel Terkait
Kapolda Riau Tegaskan Tak Ada Toleransi bagi Pelaku Karhutla di Tengah Ancaman Super El Nino
Aldi Taher Ungkap Peran Al-Quran dalam Perjuangan Sembuh dari Kanker
Sekretaris Kabinet Silaturahmi dan Bahas Perkembangan Terkini dengan Wapres Gibran
FWP Polda Metro Jaya Ajak Anak Yatim Bermain di Playtopia Senayan Park