Jakarta – Langkah Indonesia mendigitalisasi ruang kelasnya ternyata tak hanya jadi wacana. Upaya ini malah menyedot perhatian dunia, menjadikan negeri ini semacam percontohan global untuk literasi digital. Ya, transformasi teknologi pendidikan kita sedang diapresiasi secara internasional.
Dulu, yang ada cuma papan tulis kapur atau spidol. Kini, ribuan sekolah sudah beralih ke layar sentuh interaktif atau Interactive Flat Panel (IFP). Menurut pantauan Global South World, angka pemasangannya luar biasa. Menjelang akhir 2025, sudah ada sekitar 288.000 unit yang beroperasi dari Sabang sampai Merauke.
Ini bukan cuma ganti alat. Paradigma belajarnya yang berubah. Guru-guru bisa menyajikan materi dengan visual yang hidup, gerak, dan warna-warni. Hasilnya? Daya serap siswa diklaim jauh lebih baik.
"Lebih gampang dicerna di otak kita. Kita jadi tidak merasa bosan dibandingkan hanya melihat papan tulis putih saja," kata seorang siswa dalam sebuah video dokumenter.
Dampaknya ternyata masif. Data per November 2025 menunjukkan, program ini telah menyentuh hidup sedikitnya 21 juta siswa. Tentu saja, kesuksesan ini tidak lepas dari kesiapan para pengajar. Lebih dari 55.000 guru sudah dilatih secara intensif untuk menguasai perangkat baru ini.
Yang menarik, mata pelajaran yang biasanya dianggap momok, seperti matematika, kini justru memicu antusiasme.
"Apalagi untuk pelajaran matematika yang biasanya membuat murid jenuh. Dengan teknologi ini, suasana belajar menjadi jauh lebih menyenangkan," ungkap seorang siswi.
Namun begitu, pujian internasional paling besar justru datang dari sisi inklusivitasnya. Indonesia kan luas, dengan medan dan akses yang beragam. Nah, teknologi IFP ini dirancang agar tetap bisa dipakai di daerah terpencil sekalipun. Fitur utamanya ada dua: pertama, bisa dipakai secara daring maupun luring. Kedua, ada opsi tenaga surya untuk sekolah-sekolah yang belum terjangkau listrik stabil.
Manfaatnya pun merembet ke luar pelajaran formal. Seorang siswa bercerita, dengan akses digital ini ia bisa mendalami teknik olahraga favoritnya lewat tayangan visual pertandingan profesional. Jadi, fungsinya lebih dari sekadar alat ajar di kelas.
Intinya, Indonesia tidak cuma ikut-ikutan tren. Negeri ini sedang membangun fondasi nyata untuk generasi masa depannya. Transformasi pendidikan berbasis teknologi ini membuktikan satu hal: kesenjangan digital itu bisa dijembatani, asal ada kebijakan yang tepat dan infrastruktur yang adaptif dengan kondisi nyata di lapangan.
Ditulis oleh Fityan
Editor: Redaksi
Artikel Terkait
Andoni Iraola Resmi Tinggalkan Bournemouth, Dikabarkan Jadi Pelatih Baru Liverpool
Rita Sahara Raup Omzet Rp50 Juta per Bulan Berkat Pinjaman KUR BRI untuk Kafe Lesehan di Bogor
Proses Perbaikan Jalan Ambles Lenteng Agung Dikebut, Lalu Lintas Ditargetkan Normal Tiga Hari
Mendagri Tito Desak Kepala Daerah di Sulawesi Perkuat Sinergi dengan Forkopimda Demi Stabilitas dan Pembangunan