DPR Kritik Ekspansi dan Utang Semen Indonesia, Desak Fokus pada Bisnis Inti

- Kamis, 02 April 2026 | 22:00 WIB
DPR Kritik Ekspansi dan Utang Semen Indonesia, Desak Fokus pada Bisnis Inti

Rapat di Komisi VI DPR RI pada Rabu lalu cukup panas. Andre Rosiade, sang Wakil Ketua, tak sungkan menyampaikan kritik pedasnya terhadap bisnis semen di Indonesia. Intinya sederhana: perusahaan harus lebih efisien, dan fokus pada bisnis inti. Rapat yang membahas evaluasi kinerja 2025 dan peta jalan untuk tahun depan itu, berlangsung serius.

Menurut Rosiade, sudah waktunya untuk merampingkan struktur. "Kalau memang yang tidak penting dan tidak perlu, lebih baik dibubarkan saja," tegasnya dalam keterangan tertulis di hari berikutnya, Kamis (2/4/2026).

"Jangan sampai menjadi beban perusahaan."

Peringatannya jelas: jangan asal melakukan diversifikasi. Ekspansi ke bidang yang tidak relevan justru bisa bikin kinerja korporasi terganggu. Fokuslah pada apa yang menjadi tulang punggung usaha.

Di sisi lain, beban utang PT Semen Indonesia juga jadi sorotan. Rosiade mengaitkannya dengan ekspansi dan akuisisi di masa lalu, termasuk pembelian Solusi Bangun Indonesia. Ini, dalam pandangannya, perlu jadi perhatian serius.

Lucunya, meski beban utang tinggi, branding perusahaan dinilainya kuat. Ia mencontohkan harga semen di Sumatera Barat yang disebut-sebut tertinggi se-Indonesia. Menurut dia, hal itu tak lepas dari kuatnya citra yang dibangun, salah satunya lewat klub sepak bola Semen Padang FC.

"Ini menunjukkan branding yang kuat," ujarnya. "Bahkan bisa menjual dengan harga paling tinggi."

Lalu, solusi apa yang ditawarkan? Rosiade punya beberapa ide. Pertama, soal aset menganggur. Gedung atau fasilitas tak terpakai harus dioptimalkan, misalnya dengan disewakan, untuk menambah pemasukan. Kedua, strategi pemasaran harus lebih jitu dan turun ke akar rumput.

"Turun ke lapangan, pahami toko, mandor, tukang, sampai pemilik rumah," imbuhnya. Promosi lewat media sosial seperti TikTok, katanya, jauh lebih murah dan tepat sasaran.

Sebagai penutup rapat, Komisi VI menerima laporan evaluasi kinerja 2025 beserta rencana pengembangan untuk 2026. Ada juga permintaan untuk meningkatkan kompetensi tenaga konstruksi lewat pelatihan.

Yang tak kalah penting, perusahaan diminta menyiapkan peta jalan jangka pendek dan panjang yang lebih komprehensif. Mereka juga harus mengantisipasi kemungkinan naiknya harga batu bara. Rosiade menegaskan satu hal: target Return on Assets (ROA) yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto untuk semua BUMN, harus dicapai. Tidak ada tawar-menawar untuk itu.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar