Iran Luncurkan Rudal Balistik ke Diego Garcia, Jangkauan 4.000 Km Picu Kekhawatiran Ancaman ke Eropa

- Rabu, 25 Maret 2026 | 14:50 WIB
Iran Luncurkan Rudal Balistik ke Diego Garcia, Jangkauan 4.000 Km Picu Kekhawatiran Ancaman ke Eropa

Dari Teheran, sebuah rudal balistik jarak jauh meluncur. Sasaran yang dituju? Pangkalan militer gabungan Inggris dan Amerika Serikat di Pulau Diego Garcia, yang terpencil di Samudra Hindia. Langkah ini, bagi banyak pengamat, bukan lagi sekadar ancaman. Ini eskalasi nyata.

Menurut Pasukan Pertahanan Israel (IDF), ini adalah pertama kalinya Iran melancarkan serangan rudal jarak jauh seperti itu sejak konflik dengan Israel dan AS memanas akhir Februari lalu. Kabarnya, rudal-rudal itu gagal mencapai target. Tapi pesannya jelas terkirim.

Iran sendiri masih bungkam. Media-media di dalam negeri mereka lebih banyak mengutip pemberitaan luar. Diam yang justru membuat banyak pihak bertanya-tanya.

Nah, di sinilah para ahli mulai sibuk. Mereka mencoba mengurai implikasi dari aksi nekat ini. Salah satu pertanyaan besar yang mengemuka: kalau bisa menembak sejauh Diego Garcia, apakah ibu kota Eropa seperti Berlin, Paris, atau London juga sudah dalam jangkauan rudal Iran?

Seorang menteri kabinet Inggris dengan cepat meredam spekulasi itu. "Tidak ada penilaian untuk mendukung" klaim IDF soal kemampuan Iran mencapai London, katanya. Tapi keraguan sudah terlanjur tertanam.

Ghoncheh Habibiazad, jurnalis BBC News Persian, memberikan konteks yang penting.

"Program rudal Iran sudah lama jadi sorotan dunia," ujarnya.

"Iran selalu bilang program mereka defensif, murni untuk mencegah serangan. Tapi banyak kritikus yang khawatir, kemajuan teknologi rudal jarak jauh mereka bisa mengacak-acak keseimbangan keamanan regional."

Yang menarik, serangan ke Samudra Hindia ini terjadi belum genap sebulan sejak putaran negosiasi terbaru mengenai program nuklir Iran. Lalu Israel dan AS menyerang. Dan sekarang Iran membalas dengan menunjukkan jangkauan baru.

Diego Garcia itu jauh. Sekitar 3.800 kilometer dari Iran. Wall Street Journal dan CNN melaporkan, berdasarkan keterangan pejabat AS anonim, tidak satu pun rudal yang berhasil mendarat di pulau itu. Satu rudal dilaporkan gagal di udara, lainnya ditembak jatuh oleh kapal perang AS. BBC telah mengonfirmasi klaim ini.

Tapi IDF punya narasi sendiri. Mereka langsung bersuara, menyebutkan banyak kota di Eropa, Asia, dan Afrika kini bisa jadi target. Bahkan pada 2025, IDF sudah mengklaim Iran punya rencana mengembangkan rudal dengan kemampuan seperti itu.

Kepala Staf IDF, Letnan Jenderal Eyal Zamir, tak ketinggalan. Dia mengunggah video di media sosial usai insiden di Kepulauan Chagos (tempat Diego Garcia berada).

"Iran meluncurkan rudal balistik antarbenua dua tahap dengan jangkauan 4.000 km. Rudal-rudal itu tidak dimaksudkan untuk mengenai Israel," katanya.

"Jangkauannya mencapai ibu kota Eropa. Berlin, Paris, dan Roma semuanya berada dalam jangkauan ancaman langsung."

Pernyataan itu langsung memicu analisis ulang. Jenderal Richard Barrons, mantan kepala Komando Pasukan Gabungan Inggris, mengaku terkejut dengan jarak tempuhnya.

"Sebelumnya kami mengira rudal Iran memiliki jangkauan 2.000 kilometer, tapi faktanya Diego berjarak 3.800 kilometer dari Iran," ucap Barrons.

Selama ini, Iran memang mengklaim membatasi sendiri program rudal balistiknya pada jangkauan 2.000 km. Dengan batasan itu, Israel terjangkau, tapi Eropa tidak. Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, pada 2021 pernah menyatakan bahwa pembatasan itu adalah pilihan politik, bukan karena kendala teknis.

Namun begitu, ada desas-desus bahwa proyek pengembangan rudal jarak jauh ini juga menghadapi tentangan dari dalam, termasuk dari kalangan militer dan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Khamenei sendiri berulang kali menegaskan ancaman Iran hanya untuk Israel, bukan untuk Eropa.

Tapi pada September 2025, seorang anggota parlemen Iran di televisi pemerintah menyebut IRGC telah sukses menguji rudal balistik antarbenua. Rincian jangkaunya tidak dijelaskan.

Benarkah Bisa Mencapai Eropa atau AS?

AS sejak lama menuduh program luar angkasa Iran adalah kedok untuk teknologi rudal antarbenua. Beberapa pakar sependapat. Karin von Hippel, mantan direktur jenderal Royal United Services Institute di London, memberi gambaran mengerikan.

"Dengan asumsi rudal mencapai Diego Garcia, Iran juga mengembangkan rudal balistik antarbenua yang dapat mencapai hingga 10.000 kilometer, meskipun kita belum melihatnya beraksi," katanya.

Kalau benar, berarti daratan AS pun sudah masuk dalam radar potensial.

Serangan ke Samudra Hindia ini, bagi sebagian pakar, adalah tanda bahwa batasan internal Iran sudah tidak berlaku lagi. Tapi tentu saja, ada juga yang meragukan. Menteri Perumahan Inggris, Steve Reed, dengan tegas menyatakan, "Tidak ada penilaian spesifik bahwa Iran menargetkan Inggris atau bahkan dapat melakukannya jika mereka mau."

Di balik semua analisis teknis, ada permainan psikologis yang mungkin lebih penting. Danny Citrinowicz, mantan perwira intelijen militer Israel, punya tafsir menarik.

"Bukan berarti mereka berpikir bahwa besok mereka akan menyerang London atau Paris," katanya.

"Tapi bagi mereka itu adalah elemen lain yang memungkinkan mereka untuk membangun pencegahan."

Respons Israel yang langsung menyebut-nyebut ancaman ke Eropa juga punya interpretasi lain. Richard Shirreff, mantan wakil komandan NATO untuk Eropa, melihatnya sebagai taktik.

"Tentu saja Israel akan mengatakan ini karena sesuai dengan kepentingan mereka untuk memperluas perang dan melibatkan sebanyak mungkin negara lain di samping Amerika dan Israel," ujarnya.

"Kita harus menolak ajakan ini. Ini adalah perang Trump, tanpa tujuan akhir dan strategi yang jelas."

Dia bahkan menyatakan skeptisisme yang dalam: "Kita diberitahu bahwa kemampuan nuklir Iran telah dihancurkan enam bulan yang lalu. Kita tidak bisa mempercayai apa pun yang keluar dari AS tentang hal ini."

Jadi, di balik asap dan dentuman yang mungkin tidak mengenai sasaran, perang persepsi dan psikologi justru sedang berkecamuk dengan hebatnya. Rudal itu mungkin jatuh di laut, tapi gelombang kejutnya menyebar jauh hingga ke meja-meja strategi di seluruh dunia.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar