Namun begitu, bukan berarti tanpa masalah. Tantangan terbesarnya masih klasik: ketersediaan biji kakao lokal. Kapasitas pabrik pengolahan saat ini baru terpakai setengahnya, sekitar 50-60 persen. Artinya, potensi untuk berproduksi lebih besar masih sangat terbuka, asal pasokan bahan baku lancar.
Untuk mengatasi hal itu, Kemenperin mendorong penguatan dari hulu ke hilir. Mulai dari upaya memasukkan kakao ke dalam skema BPDP, revitalisasi kebun, sampai penguatan riset. Peran para artisan atau pengolah kakao skala khusus juga dinilai kian strategis. Jumlah mereka melonjak dari 31 perusahaan di akhir 2023 menjadi lebih dari 50 usaha sekarang. Mereka inilah yang berperan dalam menyortir dan mengembangkan produk kakao premium.
Sementara itu, di kancah global, Indonesia juga akan menunjukkan taring. Jeffrey Haribowo, Ketua Umum Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO), mengumumkan bahwa Indonesia bakal jadi tuan rumah The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) pada 22–24 Juli 2026 di Yogyakarta.
"Ini wujud eksistensi kita di ekosistem kakao dunia," katanya.
Konferensi bertema "The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World" itu diharapkan jadi forum strategis bagi pelaku industri dan mitra global untuk berkolaborasi. Dengan sinergi kebijakan yang kondusif, penguatan bahan baku, dan modernisasi industri, posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan kakao diharapkan makin kokoh ke depannya.
Artikel Terkait
Kemenkum dan Kemendikbud Sinergi Perkenalkan Literasi Kekayaan Intelektual Sejak Dini
CAS Tunda Putusan Kasus Naturalisasi Tujuh Pemain Timnas Malaysia
Anggota DPR: Parpol Sebaiknya Tak Urusi Dapur Program Makan Bergizi Gratis
Presiden Prabowo Gelar Rapat Tertutup Usai Kunjungan Luar Negeri