Menteri Fadli Zon Resmikan Pemugaran Masjid Cagar Budaya Padang Betuah di Bengkulu

- Kamis, 26 Februari 2026 | 15:50 WIB
Menteri Fadli Zon Resmikan Pemugaran Masjid Cagar Budaya Padang Betuah di Bengkulu

Hari ini, di Kabupaten Bengkulu Tengah, suasana cukup berbeda. Menteri Kebudayaan Fadli Zon secara resmi menandai selesainya pemugaran Masjid Padang Betuah, sebuah bangunan yang sudah ditetapkan sebagai cagar budaya. Acara sederhana itu diisi dengan penandatanganan prasasti, mengukuhkan bahwa proses panjang perawatan situs bersejarah ini akhirnya tuntas. Pemugaran sendiri dikerjakan oleh Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII Bengkulu dan ditargetkan rampung tahun depan.

Bagi Fadli Zon, masjid ini bukan sekadar tembok dan kayu. Ia punya riwayat panjang yang melekat erat dengan ingatan kolektif masyarakat Bengkulu Tengah. "Masjid ini bukan hanya bangunan fisik, tetapi jejak sejarah dan identitas masyarakat. Kita memiliki tanggung jawab untuk merawat warisan para pendahulu agar bangsa ini tidak kehilangan arah," tegasnya dalam keterangan tertulis, Kamis (26/2/2026).

Menurutnya, upaya seperti ini adalah bagian dari gerak pemerintah yang kini lebih gesit dalam menetapkan, melindungi, hingga memanfaatkan cagar budaya. Itu semua sesuai amanat undang-undang. Tahun 2025 nanti, rencananya ada 152 situs serupa yang akan dipugar di seluruh Indonesia, mulai dari keraton hingga peninggalan kerajaan lain.

Fadli juga menyebut beberapa situs kunci di Bengkulu. Fort Marlborough, Masjid Jami, Rumah Pengasingan Bung Karno, sampai makam Sentot Alibasyah Prawirodirjo. Menurutnya, situs-situs itu memperkaya cerita daerah dan mengokohkan identitas.

Pelestarian budaya, ia tekankan, adalah kerja bersama. Harus melibatkan banyak pihak: pemerintah pusat dan daerah, swasta, komunitas, hingga tokoh masyarakat. Keberadaan Kementerian Kebudayaan sebagai lembaga mandiri disebutnya sebagai bukti komitmen Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kebudayaan sebagai fondasi pembangunan.

Ke depan, dia berharap status Masjid Padang Betuah bisa dinaikkan. Dari tingkat kabupaten, menjadi cagar budaya provinsi, lalu nanti diusulkan sebagai nasional.

"Masjid Padang Betuah dengan kesederhanaannya menyimpan cerita panjang. Dengan narasi yang kuat dan pengelolaan yang baik, ia dapat menjadi destinasi religi dan sejarah yang memberi pengalaman bermakna bagi masyarakat dan generasi muda," ungkapnya penuh harap.

Kolaborasi dengan pemda dan masyarakat, kata Fadli, akan terus diperkuat. Intinya, pemugaran ini diharapkan tak cuma menjaga warisan mati. Tapi juga menghidupkan ruang budaya yang punya manfaat sosial, edukasi, dan ekonomi. Semua untuk meneguhkan kebudayaan sebagai pilar bangsa.

Di sisi lain, Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu, Herwan Antoni C, menyampaikan apresiasi yang mendalam atas dukungan pusat. Dia menegaskan komitmen daerah dalam menjaga warisan.

"Pelestarian cagar budaya bukan hanya menjaga keaslian bangunannya, tetapi juga merawat nilai sejarahnya, memperkuat identitas daerah, dan menanamkan kebanggaan kepada generasi penerus. Kami berharap Masjid Padang Betuah yang telah dipugar ini dapat berfungsi optimal sebagai ruang ibadah, edukasi, sekaligus wisata religi bagi masyarakat," ujarnya.

Sementara itu, Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VII, Iskandar, memberi gambaran sejarah yang lebih dalam. Masjid ini diperkirakan berdiri sejak 1823, jadi saksi bisu abad ke-19. Arsitekturnya khas, dengan atap tumpang yang menunjukkan percampuran budaya lokal dan Islam.

Fungsinya dulu lebih dari tempat shalat. "Secara historis, masjid ini juga menjadi oase spiritual bagi para pejuang pesisir Bengkulu dalam menghadapi tekanan kolonial," jelas Iskandar.

Soal namanya, ada cerita menarik. "Nama 'Padang Betuah' berasal dari bahasa Minangkabau yang bermakna 'Pedang Sakti'. Ini merujuk pada pedang milik Datuk Bagindo Maharajo Sakti, utusan Raja Pagaruyung yang melakukan perjalanan di sepanjang pesisir barat Sumatera," ungkapnya.

Acara peresmian itu sendiri dihadiri banyak pejabat. Mulai dari Asisten II Kabupaten Bengkulu Tengah, Nurul Iwan Setiawan; Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bengkulu, Murli Hanizar; hingga Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat, Eriyanto. Perangkat desa, tokoh agama, budayawan, dan masyarakat juga hadir. Dari Jakarta, Menteri Fadli didampingi Dirjen Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, serta Staf Khususnya, Rachmanda Primayuda.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar