TEHERAN Musuh mungkin saja yang memulai perang. Tapi soal bagaimana perang itu berakhir, dan sejauh apa dampaknya akan terasa, itu bukan lagi urusan mereka. Peringatan keras itu disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharib Abadi. Menurutnya, dampak konflik semacam itu tidak akan terbatas hanya pada kedua kubu yang bertikai.
Pernyataan itu ia sampaikan di hadapan Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, dalam sesi ke-61. Abadi, yang menangani urusan hukum dan internasional, menegaskan posisi negaranya.
"Kami tidak akan menyerang negara lain terlebih dahulu, tetapi kami akan mempertahankan tanah air kami dengan tegas," katanya, seperti dilaporkan Aljazeera, Selasa (24/2/2026).
Ia menambahkan, Teheran akan menggunakan haknya yang sah sesuai Piagam PBB untuk membela diri jika situasinya memaksa. Hak itu, tegasnya, mutlak.
Di sisi lain, soal program nuklir, Abadi bersikukuh. "Hak kami atas energi nuklir untuk tujuan damai tidak dapat dinegosiasikan," ujarnya. Itu dijamin hukum internasional, titik. Namun begitu, ia tetap membuka peluang dialog. Syaratnya, negosiasi harus berdasar saling hormat dan penerapan aturan internasional tanpa tebang pilih. "Ada peluang baru untuk menyelesaikan perselisihan melalui dialog," tuturnya.
Peringatan dari diplomat senior Iran ini bukan tanpa konteks. Sehari sebelumnya, Presiden AS Donald Trump disebut-sebut sedang mempertimbangkan serangan terbatas terhadap Republik Islam Iran. Respons Teheran datang cepat dan tanpa ambiguitas.
Melalui juru bicara Kementerian Luar Negeri, Ismail Bagai, Iran menyatakan akan membalas keras serangan AS apapun, sekecil apapun skalanya. "Tidak ada yang namanya serangan terbatas," tegas Bagai dalam konferensi pers pada Senin. Setiap agresi, bagaimanapun bentuknya, akan dianggap sebagai agresi penuh.
"Dan itulah yang akan kami lakukan," kata Bagai tentang hak membela diri itu.
Juru bicara itu juga membantah kabar yang beredar soal adanya kesepakatan sementara dalam pembicaraan nuklir dengan Washington. Memang, belakangan banyak klaim muncul mengenai isi negosiasi. Bagai menjelaskan, Iran bisa menerima kesepakatan, asalkan hak-haknya terjamin baik dalam isu nuklir maupun pencabutan sanksi.
Namun pesannya jelas: jika perang datang, balasan akan diberikan. "Pasukan kami siaga sepanjang waktu untuk mempertahankan tanah air kami," pungkasnya. Suasana memang makin memanas. Dan di Teheran, kesiapsiagaan itu terasa nyata.
Artikel Terkait
48 Tewas dalam Bentrokan Faksi FARC di Amazon Kolombia Jelang Pemilu Presiden
Kementerian PKP Validasi 188 Lokasi Tanah untuk Percepatan Pembangunan Rusun dan Kota Satelit
Macron Puji Prabowo atas Sikap Berani Dukung Perdamaian Timur Tengah dan Palestina
Umat Buddha Gelar Prosesi Tiga Langkah Sujud di Candi Borobudur Jelang Puncak Waisak 2026