Jakarta - Langit Lebanon kembali dipecah oleh dentuman. Serangan Israel terbaru, yang terjadi Jumat (20/2) lalu, menewaskan dua belas orang. Padahal, gencatan senjata dengan kelompok Hizbullah sebenarnya masih berlaku. Presiden Joseph Aoun tak bisa menyembunyikan amarahnya.
Dalam sebuah pernyataan tegas yang dikutip AFP, Sabtu (21/2/2026), Aoun mengutuk keras aksi tersebut. Ia menyebutnya sebagai tindakan agresi yang terang-terangan.
"Ini jelas bertujuan untuk menggagalkan upaya diplomatik," ujarnya, merujuk pada jerih payah Amerika Serikat dan sejumlah negara lain yang berusaha membangun stabilitas di kawasan.
Di sisi lain, reaksi juga datang dari kubu Hizbullah. Seorang anggota parlemen dari kelompok itu mendesak pemerintah Lebanon untuk mengambil sikap tegas: menangguhkan pertemuan komite multinasional yang bertugas memantau gencatan senjata. Komite itu sendiri dijadwalkan bertemu lagi minggu depan.
Washington, perlu dicatat, adalah salah satu dari lima anggota inti komite pengawas gencatan senjata November 2024 itu. Jadi, situasinya jadi makin rumit.
Artikel Terkait
Rupiah Melemah Tipis ke Rp17.030 per Dolar AS di Awal Perdagangan
Gempa Magnitudo 3,8 Guncang Larantuka Dini Hari, Tidak Ada Laporan Kerusakan
Pabrik Melamin Rp10,2 Triliun, Terbesar di Indonesia, Dibangun di KEK Gresik
Benda Mirip Torpedo di Gili Trawangan Ternyata Alat Penelitian Laut