Malam Jumat itu, suasana di Polres Siak terasa berbeda. Bukan hanya karena nuansa Ramadan, tapi juga karena suara lantang seorang penceramah kondang, Ustaz Abdul Somad (UAS), memenuhi ruangan. Tabligh akbar yang mengusung tema sinergi Polri dan masyarakat itu, ternyata menyisipkan pesan yang lebih dalam: tentang dosa ekologi dan sebuah program bernama Green Policing.
Hadir dalam kesempatan itu, Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dan Wakapolda Brigjen Hengki Haryadi, duduk di barisan depan. UAS pun membuka ceramahnya dengan sapaan yang cair. "Ini orang sibuk-sibuk semua. Bapak Irjen Polisi Herry Heryawan, Kapolda Riau 'HH'. Sebelah beliau 'HH' juga, Wakapolda Brigjen Polisi Hengki Haryadi," sapa UAS, memecah keheningan dengan gelak tawa hadirin.
Ia lalu bicara soal hakikat kekuatan polisi. Menurutnya, itu semua bukan terletak pada seragam atau senjata. Bukan.
"Kekuatan polisi ada pada simpati masyarakat," tegasnya.
UAS tersenyum, menunjuk ke sebuah spanduk di sekitarnya. "Itu Ustaz Somad tahu dari mana? Bahannya sudah disiapkan semua di sini," candanya, lagi-lagi disambut tawa.
Dari situ, pembicaraan mengalir ke tugas polisi yang lebih luas. UAS menyoroti inisiatif Kapolda Riau, Green Policing. Ia menegaskan, polisi tak cuma menjaga manusia, tapi juga alam tempat manusia hidup. "Bapak polisi menanam pohon, menyatukan tugas polisi dengan menjaga alam. Kira-kira bapak ibu semua siap menjaga alam ini?" tanyanya pada hadirin.
Ramadan, lanjut UAS, adalah bulan 'perang'. Tapi perang macam apa yang dimaksud?
"Kita di Siak mau perang melawan apa? Melawan orang-orang yang motong pohon pakai kayu. Dengan apa? Dengan Green Policing," serunya.
Dosa yang Sering Terlupa
UAS kemudian masuk ke tema yang lebih serius. Di bulan puasa, orang sering fokus pada dosa-dosa personal seperti makan minum di siang hari. Namun begitu, ada dosa yang dampaknya jauh lebih dahsyat: dosa ekologi.
"Minum khamr dosa? Dosa. Berjudi dosa? Dosa. Tapi ada dosa yang lebih hebat. Apa itu? Dosa ekologi. Dosa merusak alam, dosa memotong pokok kayu," ujarnya dengan penekanan.
Ia pun mengambil contoh nyata: bencana banjir bandang di Aceh. Menurutnya, itu adalah buah dari dosa ekologi. "Bukan kayu dicabut gajah. Kalau gajah cabut kayu, cuma lima. Kalau manusia? Satu tanda tangan, tumbangkan satu hektare," sindir UAS, menggambarkan betapa cepatnya kerusakan terjadi akibat tangan manusia.
Hal serupa ia sampaikan untuk kasus karhutla di Riau. Itu semua ulah manusia. Karena itulah, UAS mengaku kerap menolak undangan salat istisqa. Alasannya sederhana sekaligus tajam.
"Karena yang memotong hutan itu ikut berdoa di situ. Pas giliran hujan nggak turun, Ustaz Somad yang disalahkan," katanya.
Menanam untuk Tiga Puluh Tahun Mendatang
Di sisi lain, UAS sangat mengapresiasi program Green Policing. Gagasan menanam pohon yang digaungkan Kapolda Riau ini, diyakininya akan berbuah manis untuk masa depan yang panjang.
"Alhamdulillah Green Policing menanam pokok bersama. Insyaallah anak-anak kita yang sekarang masih kecil, kelak sudah besar di bawah pohon yang kita tanam ini," jelasnya penuh harap.
UAS juga mengingatkan, menanam pohon adalah ibadah yang diajarkan sejak zaman Nabi. Ibadah itu tak melulu soal ritual di masjid.
"Jadi ibadah bukan cuma zikir, baca Yasin, atau puasa. Menanam tanaman adalah ibadah. Sebaliknya, merusak alam adalah dosa yang lebih dahsyat. Lihat saja, berapa rumah yang hancur di Aceh? Seratus empat puluh ribu! Mudah-mudahan Riau tetap aman, damai, adem ayem. Baldatun thoyibatun warobbun ghofur," tutup UAS, mengakhiri ceramahnya dengan doa.
Artikel Terkait
Umat Muslim Dianjurkan Baca Doa Ini Saat Berbuka Puasa
Warga Medan Berbuka Puasa Pukul 18.43 WIB pada 21 Februari 2026
Serangan Brutal di Zamfara Tewaskan 50 Warga, Sejumlah Perempuan dan Anak Diculik
Kubu AKBP Didik Bantah Isu Asusila, Polri Tegaskan Fokus pada Kasus Narkoba