Terdakwa Kasus Penghasutan Ungkap Kekerasan dan Prosedur Tak Jelas Saat Penangkapan

- Sabtu, 21 Februari 2026 | 06:30 WIB
Terdakwa Kasus Penghasutan Ungkap Kekerasan dan Prosedur Tak Jelas Saat Penangkapan

JAKARTA – Di ruang sidang Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Kemayoran, Jumat (20/2/2026) lalu, suasana tegang sempat menyergap. Khariq Anhar, terdakwa kasus dugaan penghasutan demonstrasi Agustus 2025, mengungkap pengalaman pahitnya saat ditangkap. Ia mengaku mendapat perlakuan kasar dari polisi di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, pada 29 Agustus 2025 silam.

Menurut kesaksiannya, penangkapan itu berlangsung tanpa penjelasan yang jelas. Yang ada justru hinaan dan kekerasan fisik.

"Enggak ada pernyataan yang disampaikan. Terus dibilang 'koruptor' dan terus ketika di dalam (mobil) saya kan dipukulin. Jadi memang saya sudah dalam ketakutan dan ditanya-tanya," ujar Khariq, mengisahkan momen itu.

Ia juga mengungkap bahwa polisi sempat menyebut-nyebut sejumlah nama, termasuk Delpedro Marhaen, dan menanyakan hubungannya dengan Khariq.

"Mungkin ada nama-nama lain, saya bilang enggak kenal sama sekali. Hanya sebatas itu di mobil," jelasnya.

Hal lain yang diungkap Khariq adalah soal prosedur penangkapan. Saat dibawa dari bandara, polisi ternyata tidak menunjukkan surat perintah penangkapan. Dokumen itu baru diberikan belakangan, saat ia sudah sampai di kantor.

"Itu pun saya enggak bisa baca begitu karena memang saya kurang tahu hukum waktu itu," tuturnya. Ia mengaku baru benar-benar paham tuduhan yang dihadapkan kepadanya saat proses penyusunan Berita Acara Pemeriksaan (BAP) berlangsung.

Rencana Pulang yang Batal

Cerita Khariq kemudian berlanjut ke latar belakang kehadirannya dalam unjuk rasa 28 Agustus 2025. Rupanya, awalnya ia sama sekali tidak berencana ikut demonstrasi. Dua hari sebelumnya, 25 dan 26 Agustus, ia masih berada di Bandung. Tanggal 27 Agustus, ia sudah sampai di Jakarta dengan satu tujuan: pulang ke kampung halamannya di Pekanbaru, Riau.

Namun begitu, rencana itu berubah setelah ada kabar dari seorang kawannya yang merupakan anggota Partai Buruh.

"Waktu itu sebenarnya, tanggal 27 (Agustus) saya mau langsung pulang ke Pekanbaru jadi mau pesan tiket. Tapi enggak jadi karena dikabari oleh kawan saya dari Partai Buruh untuk besok meliput gitu," kata Khariq.

Alasan "meliput" itulah yang akhirnya membawanya ke lokasi aksi keesokan harinya. Ia menegaskan bahwa saat itu ia hanya bergabung dengan kelompok dari Partai Buruh, tidak dengan mahasiswa atau kelompok lain.

"Jadi karena kami juga salah satunya berfokus untuk meliput aksi kejadian nyata, jadi di hari itu saya diminta, ya sudah sehari saja saya ikut. Dan siang harinya saya baru berangkat bareng dari kawan-kawan Partai Buruh ke lokasi aksi pada tanggal 28," lanjutnya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar