Bapanas Siapkan Rp5,6 Triliun untuk Stabilisasi Harga Beras dan Jagung Jelang Ramadan 2026

- Minggu, 15 Februari 2026 | 10:15 WIB
Bapanas Siapkan Rp5,6 Triliun untuk Stabilisasi Harga Beras dan Jagung Jelang Ramadan 2026

"Tentu ini merupakan angin segar karena target SPHP jagung di tahun ini meningkat drastis hingga hampir lima kali lipat dibandingkan realisasi tahun sebelumnya," ungkap Maino.

Pada 2025, program SPHP jagung telah disalurkan sebanyak 51,2 ribu ton kepada ribuan peternak ayam petelur di 17 provinsi. Keberlanjutan program ini dinilai krusial, mengingat jagung merupakan komponen pakan utama yang sangat mempengaruhi biaya produksi peternakan.

Dampak terhadap Stabilitas Harga Pangan

Program SPHP tidak hanya bertujuan untuk menjaga pasokan, tetapi juga memiliki efek berantai dalam menstabilkan harga pangan secara keseluruhan. Dengan tersedianya jagung pakan berharga terjangkau, tekanan pada biaya produksi peternakan dapat dikurangi.

"Program ini dapat menjadi penopang kestabilan harga telur ayam dan daging ayam ras karena jagung termasuk sumber pakan ternak unggas yang banyak digunakan di Indonesia," beber Maino.

Keyakinan akan terjaganya stabilitas harga juga disampaikan oleh Kepala Bapanas, Andi Amran Sulaiman. Ia mengacu pada keberhasilan pengendalian harga selama periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026 sebagai modal dan pembelajaran berharga. Pemerintah menargetkan agar masyarakat dapat menjalani Ramadan dan merayakan Idulfitri tanpa dibebani gejolak harga yang tidak wajar.

"Target pemerintah itu adalah konsumen, apalagi Idulfitri dan Ramadan, masyarakat itu harus menikmati harga yang baik. Tidak boleh harga naik," tegas Amran.

Dengan langkah-langkah antisipatif dan anggaran yang telah disiapkan, pemerintah berupaya memastikan bahwa momen religius tersebut dapat dijalani dengan tenang, didukung oleh kondisi pasokan pangan yang stabil dan harga yang terkendali.

Editor: Lia Putri


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar