Ekspansi jumlah unit tidak menjadi satu-satunya fokus. Kapolri juga menekankan pentingnya menjaga standar keamanan pangan yang tinggi di setiap SPPG. Prinsip food security dan food safety diterapkan secara ketat, dengan komitmen untuk mempertahankan rekor zero accident atau nihil kecelakaan. Salah satu langkah kunci yang diambil adalah penggunaan test kit atau alat uji sebagai bagian dari sistem quality control yang akan terus ditingkatkan akurasinya.
Untuk mendukung hal itu, Polri telah mempersiapkan infrastruktur pendukung secara mandiri. Farmapol Pusdokkes Polri dikembangkan sebagai produsen food safety kit yang pada tahap awal mampu memproduksi 400 unit per bulan. Kesiapan sumber daya manusia juga tidak diabaikan, dengan pengadaan Bintara Kompetensi Khusus (Bakomsus) di bidang Gizi dan Kesehatan Masyarakat untuk menunjang operasional dan mutu pelayanan di setiap SPPG.
Visi Jangka Panjang untuk Skala Nasional
Langkah-langkah yang diambil saat ini bukan hanya untuk memenuhi target internal Polri, melainkan bagian dari sebuah visi yang lebih besar. Kapolri Sigit memproyeksikan bahwa kapasitas yang dibangun hari ini akan menjadi fondasi untuk program yang lebih masif di tingkat nasional.
Pernyataan ini mengindikasikan bahwa model SPPG yang dikembangkan Polri berpotensi untuk direplikasi dan didukung oleh berbagai pemangku kepentingan lainnya di masa depan, memperkuat jaringan ketahanan pangan dari tingkat komunitas hingga nasional.
Artikel Terkait
Angin Puting Beliung Terjang Kudus, 221 Rumah Rusak di Empat Desa
DKI Mulai Bangun Zebra Cross di Tebet, Respons Atas Inisiatif Warga
Guru MTs di Depok Diduga Sebar Brosur Jasa Seksual, Mengidap HIV Sejak 2014
Pertamina Bantah Isu Kenaikan Harga BBM Nonsubsidi