“Selaku Kadin, saya berharap pemerintah betul-betul berpihak. Industri baja ini kan ‘mother industry’, induk dari segala industri yang ada.”
Sementara itu, dari sisi pengawasan, Ketua Dewan Pengawas IISIA Silmy Karim menekankan pentingnya proyeksi jangka panjang. Forum ini, katanya, mesti jadi momen untuk menyusun peta jalan, lengkap dengan penguatan sinergi lewat dialog berbasis data.
“Dan tentu, membangun kemitraan strategis antar industri, pemerintah, serta lembaga riset dan teknologi,” ucap Silmy.
Ia lalu merinci pilar-pilar yang harus diperkuat. Pertama, struktur industri dari hulu ke hilir, untuk tekan ketergantungan impor dan naikkan nilai tambah produk dalam negeri.
Kedua, soal daya saing. “Ini perlu inovasi teknologi dan transformasi digital,” jelasnya.
Ketiga, pengembangan SDM yang adaptif dan kolaboratif. Keempat, transisi menuju industri baja berkelanjutan dengan praktik produksi hijau.
“Dan kelima, yang paling krusial,” tegas Silmy, “adalah harmonisasi kebijakan dan kepastian hukum. Harus konsisten, adil, dan jelas keberpihakannya pada industri baja nasional.”
Pertemuan itu pun berakhir dengan serangkaian catatan panjang. Tantangan menggunung, tapi tekad yang dikobarkan terasa lebih besar. Semuanya kini bergantung pada langkah nyata setelahnya.
Artikel Terkait
AS Siap Gelar Pertemuan dengan Iran Pekan Ini di Tengah Ketegangan
Iran Izinkan Kapal Negara Sahabat Melintas di Tengah Blokade Selat Hormuz
Cedera Bahu Paksa Maverick Vinales Mundur dari MotoGP Amerika Serikat
Wisatawan Tewas Tersambar Petir Saat Mandi di Pantai Lumajang