Namun begitu, kesan mendalam Merry justru muncul di momen yang kurang menyenangkan bagi AHY: kekalahan dalam Pilkada DKI Jakarta 2017. Merry mengaku kagum dengan sikap AHY saat itu. Bukan karena pidato kemenangan, melainkan pidato seorang kesatria yang berani mengakui kekalahan.
"Jarang sekali kita dengar pidato sejujur itu," ujarnya.
"Yang bikin saya tertekun, bukan cuma kata-katanya. Tapi sikapnya. Politisi lain kan gampang cari pembenaran: 'Saya menang, dia curang'. Beliau tidak. Itu sikap yang sungguh-sungguh," imbuh Merry.
Pengalaman personal itulah yang akhirnya membawanya memilih Demokrat. Menurut Merry, partai ini memberi ruang baginya untuk belajar dan berkarya, tanpa paksaan. Terutama bagi dirinya yang merasa sebagai bagian dari kelompok minoritas.
"Partai Demokrat sungguh memberikan ruang untuk saya berproses. Tidak memaksa," tegasnya. "Walau saya merasa sebagai triple minority, saya tetap bisa belajar, melihat keadaan, dan memberikan masukan. Dan itu didengar."
Artikel Terkait
Gelombang Arus Balik Lebaran Tiba di Bandung, 22 Ribu Pemudik Sudah Kembali
Ushuaia, Kota Paling Selatan di Dunia yang Jadi Gerbang Menuju Antartika
Dua Pelaku Pemalakan Mobil di Tanah Abang Ditangkap Usai Video Viral
Iran Tangkap Jaringan Mossad, Bocoran Data Diduga Picu Kematian Warga Sipil