Megawati: Keterlibatan Perempuan dalam Pemerintahan adalah Perintah Konstitusi

- Senin, 09 Februari 2026 | 20:35 WIB
Megawati: Keterlibatan Perempuan dalam Pemerintahan adalah Perintah Konstitusi

“Dalam Sarinah, Bung Karno menyampaikan satu pernyataan yang sangat tegas dan visioner,” ujarnya.

“Beliau menulis bahwa perempuan adalah tiang negara. Maknanya jelas: apabila perempuan kuat, bermartabat, dan berdaya, maka negara akan berdiri tegak. Sebaliknya, apabila perempuan dilemahkan dan dipinggirkan, maka negara sesungguhnya sedang merapuhkan fondasinya sendiri.”

Bagi Megawati, ‘Sarinah’ bukan cuma buku biasa. Itu adalah teks ideologis yang menegaskan satu hal: kemerdekaan politik tak akan pernah utuh tanpa kemerdekaan perempuan. Dalam pemikiran Bung Karno, perempuan bukan warga kelas dua. Pembebasan mereka adalah bagian mutlak dari perjuangan bangsa.

Kilasan perjuangan itu ia lihat langsung dari ibunya sendiri. Suara Megawati semakin lirih, matanya berkaca-kaca, saat mengenang Fatmawati Soekarno.

“Ibu saya sendiri, Fatmawati Soekarno adalah seorang pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia,” katanya terisak.

“Beliaulah tokoh yang dengan berani menjahit sendiri… bendera bangsa kami pada saat dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan bangsa kami pada tanggal 17 Agustus 1945.”

Air mata itu menggenang. Di universitas perempuan ternama di Arab Saudi itu, Megawati bukan cuma menerima penghargaan. Ia menyampaikan sebuah pesan yang berakar jauh, dari konstitusi, dari ajaran sang ayah, hingga dari pengalaman hidupnya sebagai ibu dan pemimpin.

Editor: Yuliana Sari


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar