“Dalam Sarinah, Bung Karno menyampaikan satu pernyataan yang sangat tegas dan visioner,” ujarnya.
“Beliau menulis bahwa perempuan adalah tiang negara. Maknanya jelas: apabila perempuan kuat, bermartabat, dan berdaya, maka negara akan berdiri tegak. Sebaliknya, apabila perempuan dilemahkan dan dipinggirkan, maka negara sesungguhnya sedang merapuhkan fondasinya sendiri.”
Bagi Megawati, ‘Sarinah’ bukan cuma buku biasa. Itu adalah teks ideologis yang menegaskan satu hal: kemerdekaan politik tak akan pernah utuh tanpa kemerdekaan perempuan. Dalam pemikiran Bung Karno, perempuan bukan warga kelas dua. Pembebasan mereka adalah bagian mutlak dari perjuangan bangsa.
Kilasan perjuangan itu ia lihat langsung dari ibunya sendiri. Suara Megawati semakin lirih, matanya berkaca-kaca, saat mengenang Fatmawati Soekarno.
“Ibu saya sendiri, Fatmawati Soekarno adalah seorang pejuang kemerdekaan bangsa Indonesia,” katanya terisak.
“Beliaulah tokoh yang dengan berani menjahit sendiri… bendera bangsa kami pada saat dikumandangkannya proklamasi kemerdekaan bangsa kami pada tanggal 17 Agustus 1945.”
Air mata itu menggenang. Di universitas perempuan ternama di Arab Saudi itu, Megawati bukan cuma menerima penghargaan. Ia menyampaikan sebuah pesan yang berakar jauh, dari konstitusi, dari ajaran sang ayah, hingga dari pengalaman hidupnya sebagai ibu dan pemimpin.
Artikel Terkait
Tuchel Panggil Ben White, Tinggalkan Trent Alexander-Arnold untuk Skuad Inggris
Cemburu Pacar, Pria 80 Tahun Dibunuh dan Dibuang ke Sungai Citanduy
Harga RAM DDR4 Melonjak Hampir 9 Kali Lipat, Produsen Beralih Fokus ke Memori AI
Menteri Zulhas Pastikan Stok Pangan Nasional Aman di Tengah Gejolak Global