Arsitek Papua Barat Pecahkan Rekor Tinju 24 Jam untuk Galang Dana Anak Kanker

- Senin, 09 Februari 2026 | 02:30 WIB
Arsitek Papua Barat Pecahkan Rekor Tinju 24 Jam untuk Galang Dana Anak Kanker

"Sepuluh menit terakhir semua badan saya seperti kram," ujarnya saat menceritakan momen tersulit.

Ia mengungkapkan bahwa di detik-detik akhir, hanya tangan kanannya yang masih bisa meninju, sementara tangan kiri dan kedua kakinya sudah tak bisa digerakkan akibat kram.

Lebih Dari Sekadar Rekor: Aksi Sosial di Balik Tinju

Event ini tidak hanya tentang prestasi personal. Pertandingan tersebut disiarkan langsung secara "live streaming" yang juga berfungsi sebagai kanal penggalangan dana. Penonton dapat memberikan donasi secara digital, dan hasilnya, yang terkumpul lebih dari Rp 200 juta, diserahkan seluruhnya untuk mendukung operasional sebuah rumah singgah bagi anak-anak penderita kanker di Tangerang. Perayaan ulang tahun Patrick pun bertepatan dengan hari jadi rumah singgah tersebut, di mana para anak-anak turut hadir.

Persiapan menuju hari-H dilakukan dengan sangat serius. Patrick menjalani latihan berat selama empat bulan, termasuk berlari marathon di "treadmill" sejauh 42 km. Seorang dokter terus memantau kondisi kesehatannya, termasuk memeriksa detak jantungnya di setiap jeda pertandingan. Untuk mengusir kantuk di jam-jam kritis seperti pukul 02.00 hingga 03.00, ia meminta sejumlah teman dekatnya untuk datang dan memberi dukungan langsung.

Hidup Setelah Rekor

Usai berhasil melewati garis finish, Patrick langsung merendam tubuhnya di air dingin selama setengah jam untuk memulihkan otot-ototnya. Kini, dengan piagam Guinness World Records di tangan, perhatiannya kembali ke bisnis utamanya. Ia berencana untuk memperluas jaringan klinik kesehatannya.

"Membuka klinik yang sama di Kemang dan PIK," tuturnya mengenai rencana ke depan. "Lalu berikutnya lagi buka di Bali."

Ketika ditanya apakah ia pernah bertemu dengan sesama Putra Fakfak, Bahlil Lahadalia, jawabannya sederhana: "Belum." Keduanya terus berjalan di lintasannya masing-masing, membawa nama Fakfak dengan cara mereka sendiri.

Editor: Melati Kusuma


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar