MURIANETWORK.COM - Seorang arsitek dan pengusaha klinik kesehatan asal Fakfak, Papua Barat, Patrick Winata, baru saja mencatatkan namanya dalam Guinness World Records. Pria berusia 40 tahun itu berhasil menyelesaikan tantangan bertinju nonstop selama 24 jam, sebuah prestasi yang diraihnya pada perayaan ulang tahunnya, 1 November 2025, di arena QBIG, BSD, Tangerang. Pencapaian fisik yang ekstrem ini bukan hanya untuk memecahkan rekor, tetapi juga menjadi bagian dari penggalangan dana bagi rumah singgah anak-anak penderita kanker.
Dua Putra Fakfak dengan Jalannya Masing-Masing
Kisah Patrick Winata sering dibandingkan dengan sosok lain yang juga mengusung identitas sebagai "Putra Fakfak", yakni Menteri Investasi Bahlil Lahadalia. Meski sama-sama berasal dari tanah yang sama, jalan yang mereka tempuh berbeda. Bahlil dikenal melalui kancah politik, sementara Patrick membangun nama di dunia kesehatan dan olahraga. Keduanya, dalam bidangnya masing-masing, menunjukkan dedikasi dan capaian yang mengesankan.
Dari Korban Bullying Menjadi Pemegang Rekor Dunia
Minat Patrick pada tinju berakar dari pengalaman masa kecilnya di Fakfak. Sering menjadi korban perundungan membuatnya tumbuh sebagai anak yang penakut. Rasa takut itu justru membawanya pada keputusan untuk belajar membela diri. Kakeknya, seorang nelayan kelahiran Fujian, telah menanamkan semangat pantang menyerah lebih dulu. Ketertarikannya pada dunia rohani sempat membawanya ke rencana untuk masuk seminari, namun orang tuanya menyarankannya untuk menamatkan SMA terlebih dahulu.
Kepindahannya ke Tangerang untuk bersekolah di SMA Santa Laurensia membuka cakrawalanya. Ia menyadari dunia yang lebih luas, jauh dari kampung halamannya yang dia gambarkan sebagai "di depan rumah sudah laut, di belakang rumah sudah gunung". Ia kemudian melanjutkan studi arsitektur di Universitas Trisakti dan berprofesi sebagai arsitek, namun gairahnya pada tinju tak pernah pudar.
Disiplin Besi untuk Sebuah Ambisi
Untuk mempertahankan kondisi fisik prima, Patrick menjalani disiplin hidup yang ketat. Pola makannya sangat terjaga: telur orak-arik dan buah untuk sarapan, dada ayam rebus atau ikan untuk makan siang. Menu sederhana ini adalah warisan dari kebiasaan makannya sejak kecil di Fakfak, di mana ikan tongkol melimpah. Makanan berat seperti soto atau sate bahkan sudah tidak lagi menarik seleranya. Fokusnya satu: menjaga tubuh tetap optimal untuk bertinju.
Proyek 24 Jam yang Penuh Perhitungan
Ide untuk memecahkan rekor dunia itu diwujudkan dalam "Proyek 24". Patrick bertanding melawan enam pelatih tinju yang bergantian menghadapinya di atas ring. Tantangan dimulai pada 30 Oktober pukul 13.00 dan berakhir tepat 24 jam kemudian. Setiap ronde berdurasi tiga menit dengan istirahat satu menit, dan setelah 12 ronde, ia mendapat jeda 30 menit untuk asupan nutrisi. Seluruh proses diawasi ketat oleh dua kamera yang merekam dan mencatat waktu secara digital untuk memastikan keabsahan rekor.
"Sepuluh menit terakhir semua badan saya seperti kram," ujarnya saat menceritakan momen tersulit.
Ia mengungkapkan bahwa di detik-detik akhir, hanya tangan kanannya yang masih bisa meninju, sementara tangan kiri dan kedua kakinya sudah tak bisa digerakkan akibat kram.
Lebih Dari Sekadar Rekor: Aksi Sosial di Balik Tinju
Event ini tidak hanya tentang prestasi personal. Pertandingan tersebut disiarkan langsung secara "live streaming" yang juga berfungsi sebagai kanal penggalangan dana. Penonton dapat memberikan donasi secara digital, dan hasilnya, yang terkumpul lebih dari Rp 200 juta, diserahkan seluruhnya untuk mendukung operasional sebuah rumah singgah bagi anak-anak penderita kanker di Tangerang. Perayaan ulang tahun Patrick pun bertepatan dengan hari jadi rumah singgah tersebut, di mana para anak-anak turut hadir.
Persiapan menuju hari-H dilakukan dengan sangat serius. Patrick menjalani latihan berat selama empat bulan, termasuk berlari marathon di "treadmill" sejauh 42 km. Seorang dokter terus memantau kondisi kesehatannya, termasuk memeriksa detak jantungnya di setiap jeda pertandingan. Untuk mengusir kantuk di jam-jam kritis seperti pukul 02.00 hingga 03.00, ia meminta sejumlah teman dekatnya untuk datang dan memberi dukungan langsung.
Hidup Setelah Rekor
Usai berhasil melewati garis finish, Patrick langsung merendam tubuhnya di air dingin selama setengah jam untuk memulihkan otot-ototnya. Kini, dengan piagam Guinness World Records di tangan, perhatiannya kembali ke bisnis utamanya. Ia berencana untuk memperluas jaringan klinik kesehatannya.
"Membuka klinik yang sama di Kemang dan PIK," tuturnya mengenai rencana ke depan. "Lalu berikutnya lagi buka di Bali."
Ketika ditanya apakah ia pernah bertemu dengan sesama Putra Fakfak, Bahlil Lahadalia, jawabannya sederhana: "Belum." Keduanya terus berjalan di lintasannya masing-masing, membawa nama Fakfak dengan cara mereka sendiri.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Sejumlah Provinsi Hari Ini
Jakarta Padat Aktivitas: Kerja Bakti 100 Ribu Personel, Persiapan Festival Imlek, hingga Pengamanan Laga Persija
BRI Hapus Biaya Transaksi Reksa Dana di BRImo hingga Juni 2026
KBS Hancurkan Pacific Caesar 93-68, Perpanjang Penderitaan Tuan Rumah di IBL