Namun begitu, profesionalisme tempur tetaplah nomor satu. Hanya saja, menurut Sjafrie, hal itu tidak boleh berjalan sendiri. Aspek-aspek penting seperti disiplin latihan, keamanan satuan, sampai pembinaan kesehatan dan pendidikan prajurit, harus punya kaitan erat dengan kontribusi sosial. Keduanya harus beriringan.
Di sisi lain, pesannya cukup spesifik dan tegas. Kehadiran satuan TNI di daerah-daerah, ia minta, jangan sampai jadi beban bagi warga setempat. Justru sebaliknya. Mereka harus menjadi motor penggerak, pihak yang aktif mencari solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat sekitar.
“Kehadiran prajurit tidak boleh menjadi beban, melainkan solusi untuk ketahanan pangan, pelayanan kesehatan lapangan, hingga penguatan ekonomi,” tegas dia.
Pesan itu jelas. Dari urusan paling dasar seperti pangan, kesehatan, sampai ekonomi mikro, peran TNI diharapkan bisa dirasakan langsung oleh rakyat. Bukan sekadar wacana, tapi aksi nyata di lapangan.
Artikel Terkait
Arief Catur Pamungkas Siap Perkuat Persebaya Lawan Persita Usai Pulih dari Cedera
Truk Pengangkut Telur Oleng, Tewaskan Pemilik Warung di Subang
TNI Bangun Ulang Jembatan Gumuzo di Nias Utara, Akses Vital Kembali Pulih
Energi Watch: Konversi ke Kompor dan Kendaraan Listrik Bisa Hemat Subsidi Ratusan Miliar