Di sebuah rapat yang digelar di camp PT RAPP, Ukui, suasana terasa tegang. Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan memimpin langsung pembahasan kasus pembunuhan Gajah Sumatera di Pelalawan. Ia tak cuma menyampaikan duka, tapi juga mengecam keras perbuatan pelaku. Rapat itu sendiri dihadiri sejumlah pejabat penting: Dirkrimsus Polda Riau Kombes Ade Kuncoro, Dirkrimum Kombes Hasyim Risahondua, Kapolres Pelalawan AKBP John Louis Letedara, plus perwakilan BKSDA dan PT RAPP.
Intinya, rapat ini untuk mengokohkan komitmen bersama mengungkap kasus keji ini. Yang menarik, Kapolda menekankan sekali soal metode penyelidikan. Ia minta timnya pakai pendekatan scientific crime investigation, selain cara deduktif dan induktif biasa.
"Metode scientific crime investigation ini kita lakukan terus-menerus sebagai acuan kita," ujar Irjen Herry, Sabtu (7/2/2026).
"Nantinya ini bisa kita jalankan bertahap," tambahnya.
Menurutnya, kasus pembunuhan satwa seperti ini punya tantangan sendiri. Berbeda banget dengan kasus pembunuhan manusia yang biasanya meninggalkan jejak digital yang bisa dilacak.
"Kalau manusia, orang terbunuh kita bisa cek DNA-nya bagaimana dia ketemu sama orang terakhir, bagaimana dia punya jejak digital lainnya yang bisa kita cari," paparnya.
Nah, untuk mengatasi itu, Kapolda mengarahkan anak buahnya memanfaatkan technology intelligent. Ia juga minta ada koordinasi ketat dengan PT ARARA, yang lahannya berbatasan dengan lokasi kejadian, untuk mengumpulkan rekaman dari kamera trap.
"Saya sudah berkoordinasi dengan PT ARARA," katanya. "Tinggal dari ARARA, kita butuh rekaman kameranya juga."
Sebelum rapat digelar, tim gabungan sebenarnya sudah bergerak. Polda Riau bersama Polres Pelalawan, BKSDA, dan PT RAPP telah melakukan olah TKP di areal konsesi PT RAPP di Desa Lubuk Kembang Bunga, Kamis (5/2). Hasilnya, mereka menemukan proyektil peluru. Kini penyelidikan fokus pada senjata api yang digunakan.
"Soal jenis senjatanya, apakah rakitan atau organik, itu kewenangan labfor yang menentukan," tegas Irjen Herry.
Komitmen Kapolda bukan isapan jempol belaka. Sebelumnya, ia sudah turun langsung mengecek lokasi. Kehadirannya di lapangan seperti pesan tegas: konsep Green Policing yang diusungnya bukan sekadar wacana. Keadilan harus ditegakkan, tidak hanya untuk manusia, tapi juga untuk alam dan seluruh isinya.
Gajah malang itu pertama kali ditemukan warga pada Senin (2/2) malam. Kondisinya mengerikan. Sebagian kepala mulai dari mata, belalai, dahi, hingga gading hilang. Di bagian belakang tengkorak, tertancap proyektil peluru. Itulah yang menguatkan dugaan bahwa ia sengaja dibunuh.
BKSDA Riau punya analisis awal. Semua mengarah pada perburuan liar. Gadingnya diambil, lalu mungkin diperjualbelikan. Sebuah akhir yang tragis untuk sang raksasa rimba.
Artikel Terkait
Pemerintah Intensifkan Pengawasan Harga Sembako Jelang Ramadan 2026
Gubernur Sulut Pimpin Aksi Bersih-Bersih Massal di Tujuh Titik Pesisir Manado
Tanah Longsor Tutup Sebagian Jalan Penghubung Malang-Kediri
Karhutla Masih Melanda Lima Kabupaten di Riau, Operasi Pemadaman Terus Berjalan