Jumat lalu, di Istana Merdeka, Jakarta, Presiden Indonesia Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese akhirnya menandatangani sebuah traktat keamanan penting. Intinya sederhana tapi signifikan: kedua negara kini punya kewajiban untuk saling berkonsultasi jika salah satu pihak menghadapi ancaman. Penandatanganan ini sekaligus mengukuhkan kesepakatan yang sebenarnya sudah diumumkan sejak November tahun lalu, saat Prabowo berkunjung ke Canberra.
Nah, soal detail teknisnya? Itu masih belum dibuka untuk publik. Tapi yang jelas, momen ini bukan sekadar formalitas belaka.
PM Albanese, dalam pernyataannya, terlihat sangat optimis. Ia menilai perjanjian ini sebagai bukti nyata betapa eratnya hubungan kedua negara saat ini.
"Kesepakatan ini menandakan bahwa hubungan Australia dan Indonesia berada pada titik terkuat sepanjang sejarah," ujar Albanese di Jakarta.
Menurutnya, traktat tersebut merupakan perluasan yang sangat penting dari kerja sama pertahanan yang sudah terjalin. "Ini menunjukkan kekuatan kemitraan kami," sambungnya, "juga kedalaman rasa saling percaya dan kerja sama antara kita."
Dari Prinsip Bertetangga hingga Politik Bebas Aktif
Di sisi lain, Presiden Prabowo menekankan landasan filosofis dari kesepakatan ini. Bagi Indonesia, traktat ini dibangun di atas fondasi kepercayaan dan niat baik, yang sejalan dengan prinsip bertetangga baik dan politik luar negeri bebas aktif yang dianut selama ini.
"Indonesia dan Australia ditakdirkan untuk hidup berdampingan," papar Prabowo. "Dan kami memilih membangun hubungan itu di atas fondasi kepercayaan dan niat baik."
Dalam pernyataan persnya, Prabowo juga menegaskan bahwa Indonesia tidak ingin punya musuh dengan negara mana pun. Traktat ini, katanya, justru akan menjadi pilar penting bagi stabilitas kawasan Indo-Pasifik. Poin ini cukup krusial, mengingat Indonesia tetap berpegang pada kebijakan nonblok menjalin hubungan dengan banyak pihak tanpa terikat aliansi militer formal.
Lebih Dari Sekadar Keamanan
Pertemuan kedua pemimpin ternyata tidak hanya membahas isu keamanan. Mereka juga menjajaki peluang kerja sama di sektor-sektor strategis lain yang saling menguntungkan.
Prabowo, misalnya, secara khusus mengundang Australia untuk menggarap usaha patungan di bidang pertanian. Tujuannya jelas: mendukung ketahanan pangan Indonesia. Lalu di sektor industri, ada dorongan untuk investasi Australia dalam hilirisasi mineral kritis kita, seperti nikel, tembaga, dan bauksit. Gak cuma terima, Indonesia juga mendorong perusahaan nasionalnya untuk menanamkan modal di pertambangan mineral kritis Australia. "Danantara siap bekerja sama dengan para mitranya di Australia," sebut Prabowo soal kemungkinan co-investment ini.
Kerja sama pendidikan dan peningkatan kapasitas tenaga kerja terampil juga masuk dalam agenda. Prabowo mengapresiasi program beasiswa Australia Awards Garuda, sekaligus mengajak mitra dari selatan itu untuk turut memperkuat sistem pendidikan kita, termasuk melalui pelatihan guru.
Echoes dari Masa Lalu
Traktat yang baru saja diteken ini punya latar belakang sejarah yang menarik. Menurut Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong, seperti dilansir Reuters, perjanjian ini dimodelkan dari traktat keamanan serupa tahun 1995.
Namun begitu, perjanjian 1995 itu akhirnya dicabut pada 1999. Pemicunya adalah ketika Australia memimpin pasukan penjaga perdamaian PBB di Timor Timur sekarang Timor Leste yang saat itu sedang bergolak hebat dalam proses meraih kemerdekaan dari Indonesia. Jadi, penandatanganan Jumat lalu bisa dilihat sebagai upaya memulihkan dan memperbarui komitmen yang sempat terputus.
Prabowo sendiri, dalam sambutannya, menyoroti panjangnya sejarah hubungan kedua negara, termasuk dukungan Australia terhadap perjuangan kemerdekaan Indonesia sejak 1945.
Sebagai penutup pertemuan, Prabowo mengajak PM Albanese untuk hadir di Ocean Impact Summit di Bali pada Juni 2026 mendatang. "Saya yakin komitmen Perdana Menteri Albanese akan membantu memastikan KTT tersebut menghasilkan capaian nyata," pungkasnya, seraya menambahkan harapan untuk kerja sama kelautan yang lebih kuat.
Liputan dengan kontribusi dari Ausirio Sangga Ndolu. Disadur dan dikembangkan dari berbagai sumber.
Artikel Terkait
Prabowo Tegaskan Tak Akan Bela Kader Gerindra yang Terbukti Melanggar
Pemprov DKI Jakarta dan PLN Perkuat Ketersediaan Listrik di Kepulauan Seribu
Hasto Kritik Rencana Trump Masukkan Indonesia ke Dewan Perdamaian Gaza
KPK Tangkap Ketua dan Wakil Ketua PN Depok dalam OTT Sengketa Lahan