Video itu beredar luas, menyebar cepat di linimasa media sosial. Memperlihatkan aksi kekerasan yang memilukan antar siswi di SMA Negeri 1 Kota Bengkulu. Korban, seorang anak kelas 10 berinisial AA, diduga menjadi sasaran pengeroyokan oleh kakak kelasnya sendiri.
Rekaman berdurasi pendek itu cukup jelas menggambarkan suasana yang mencekam. Seorang siswi terlihat dijambak hingga terjatuh. Begitu dia di tanah, tendangan dan pukulan berhamburan dari beberapa siswi lain. Suara teriakan dan tangis memenuhi audio. Di tengah keributan, beberapa siswa lain berupaya melerai, mencoba menahan, tapi suasana sempat tak terkendali. Aksi ini disaksikan oleh puluhan siswa lainnya di lokasi kejadian.
Ibu korban, Mayuniar, tak bisa menyembunyikan kesedihan dan kemarahannya. Dia menemukan banyak luka memar menghiasi tubuh anaknya setelah kejadian.
"Kejadiannya itu sudah lama berlangsung, sudah pingsan anak itu (korban) baru ada anak salah satu (pelajar lain) yang melapor ke guru, baru tahu guru," ujarnya.
Dia dengan tegas meminta video itu diviralkan. Bukan untuk sensasi, tapi demi satu hal: keadilan untuk buah hatinya.
Lantas, apa pemicu semua ini? Konon, akar masalahnya adalah persoalan pertemanan di sekolah yang kemudian merambat ke dunia digital. Ruang konflik berpindah ke media sosial, tepatnya di kolom komentar Instagram.
Artikel Terkait
Tiga Naturalisasi Segera Perkuat Timnas Indonesia di FIFA Series 2026
Israel Klaim Tewaskan Komandan Angkatan Laut Garda Revolusi Iran di Bandar Abbas
Elf Penuh Pemudik Terjun ke Jurang di Banyumas Usai Hindari Motor, 10 Orang Terluka
Dua Anak Harimau Benggala di Kebun Binatang Bandung Mati Terinfeksi Virus Panleukopenia