Video itu beredar luas, menyebar cepat di linimasa media sosial. Memperlihatkan aksi kekerasan yang memilukan antar siswi di SMA Negeri 1 Kota Bengkulu. Korban, seorang anak kelas 10 berinisial AA, diduga menjadi sasaran pengeroyokan oleh kakak kelasnya sendiri.
Rekaman berdurasi pendek itu cukup jelas menggambarkan suasana yang mencekam. Seorang siswi terlihat dijambak hingga terjatuh. Begitu dia di tanah, tendangan dan pukulan berhamburan dari beberapa siswi lain. Suara teriakan dan tangis memenuhi audio. Di tengah keributan, beberapa siswa lain berupaya melerai, mencoba menahan, tapi suasana sempat tak terkendali. Aksi ini disaksikan oleh puluhan siswa lainnya di lokasi kejadian.
Ibu korban, Mayuniar, tak bisa menyembunyikan kesedihan dan kemarahannya. Dia menemukan banyak luka memar menghiasi tubuh anaknya setelah kejadian.
"Kejadiannya itu sudah lama berlangsung, sudah pingsan anak itu (korban) baru ada anak salah satu (pelajar lain) yang melapor ke guru, baru tahu guru," ujarnya.
Dia dengan tegas meminta video itu diviralkan. Bukan untuk sensasi, tapi demi satu hal: keadilan untuk buah hatinya.
Lantas, apa pemicu semua ini? Konon, akar masalahnya adalah persoalan pertemanan di sekolah yang kemudian merambat ke dunia digital. Ruang konflik berpindah ke media sosial, tepatnya di kolom komentar Instagram.
"Awalnya anak saya mengirim foto ke medsos, lalu dikomentari oleh para pelaku sampai mengechat langsung ke anak saya," jelas Mayuniar.
Di sisi lain, respons dari pihak sekolah datang dengan nada berbeda. Menurut mereka, persoalan ini sudah dituntaskan lewat jalur kekeluargaan. Kedua belah pihak dikatakan telah berdamai dan bahkan menandatangani surat pernyataan perdamaian.
Kepala SMAN 1 Bengkulu, Syahroni, mengonfirmasi penyelesaian ini.
"Kami pihak sekolah sudah melakukan penyelesaian dengan memanggil kedua belah pihak dan sudah melakukan perjanjian perdamaian antara kedua belah pihak. Pihak keluarga (pelaku) bersedia memberikan pengobatan hingga korban sembuh dan pulih," kata Syahroni.
Meski demikian, gema dari video viral itu masih terus bergulir. Meninggalkan tanda tanya besar tentang efektivitas penyelesaian yang diambil, dan tentu saja, luka mendalam yang mungkin butuh lebih dari sekadar surat pernyataan untuk sembuh.
Artikel Terkait
Relawan Penjaga Palang Pintu Terserempet KRL di Bogor
Polri Terima 15 Unit Kendaraan Operasional dari Jasa Marga untuk Persiapan Mudik Lebaran 2026
KPK Tangkap Tujuh Orang dalam OTT Terkait Sengketa Lahan PT KRB di Depok
Polri Kumpulkan Kementerian dan Himbara Kuatkan Swasembada Jagung Pakan Ternak