Saksi Sidang Chromebook Buka Suara: Survei Harga Rp 5-8 Juta, di Marketplace Cuma Rp 3,3 Juta

- Selasa, 27 Januari 2026 | 17:40 WIB
Saksi Sidang Chromebook Buka Suara: Survei Harga Rp 5-8 Juta, di Marketplace Cuma Rp 3,3 Juta

Di ruang sidang Pengadilan Tipikor Jakarta Pusat, Selasa (27/1/2026), suasana terasa tegang. Jaksa kembali mengulik kasus pengadaan laptop Chromebook untuk Kemendikbudristek. Kali ini, mereka menghadirkan beberapa mantan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK). Fokus pertanyaannya cukup sederhana tapi menusuk: kenapa sih harga laptop di E-Katalog pemerintah beda jauh dengan harga di toko online biasa?

Yang hadir sebagai saksi ada Harnowo Susanto (dulu PPK untuk tingkat SMP), Dhani Khamidan Khoir (PPK SMA), dan Suhartono Arkham selaku kuasa pengguna anggaran SMA. Mereka dihadirkan untuk menjawab pertanyaan jaksa terkait terdakwa dalam perkara ini, yaitu Mulyatsyah, Sri Wahyuningsih, dan seorang konsultan bernama Ibrahim Arief atau Ibam.

Jaksa mulai menanyai Harnowo. Intinya, apakah dia dan timnya turun langsung survei harga sebelum memutuskan pembelian.

"Saya sudah membentuk tim teknis yang di situ tugasnya membantu pengadaan sampai selesai, maka yang melakukan tim teknis," kata Harnowo.

Jawabannya singkat. Ia seolah menyerahkan sepenuhnya proses survei itu kepada orang lain.

Lalu giliran Dhani, sang PPK untuk SMA. Berbeda dengan Harnowo, Dhani mengaku melakukan survei. Caranya? Melalui sistem pengadaan di E-Katalog pemerintah. Namun, jaksa tampaknya tak puas. Mereka mendesak Dhani untuk menyebutkan angka pastinya.

"Waktu itu berapa harga survei itu, berapa hasil survei itu?" tanya Jaksa.

"Waktu itu harga survei harganya dari Rp 5-8 juta," ucap Dhani.

Angka itu langsung disorot. Jaksa lantas membandingkannya dengan kesaksian saksi sebelumnya, Hamid Muhammad, mantan Dirjen Dikdasmen. Dalam sidang terdahulu, Hamid mengaku beli Chromebook 14 inci di "marketplace" pada April 2020. Harganya? Cuma Rp 3,3 juta. Selisihnya signifikan, bisa mencapai dua kali lipat lebih mahal.

Di bawah tekanan pertanyaan, Dhani berusaha menjelaskan. Katanya, laptop yang akan dibeli untuk Program Digitalisasi Pendidikan itu produk impor. Ia melihat jenisnya, salah satunya Acer, sekitar Februari 2020.

"Kemudian setelah itu, menjelang klik, kami bersama tim teknis melakukan survei secara menyeluruh, yaitu di mana penyedia dan "reseller" yang ada tayang di E-katalog," jelasnya.

Penjelasannya berusaha menggambarkan proses yang sudah berjalan. Tapi, tetap saja, pertanyaan besar tentang selisih harga yang fantastis itu masih menggantung di udara ruang pengadilan. Kenapa bisa semahal itu?

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar