Khofifah Terima Satyalancana, Jatim Kembali Jadi Raja Beras Nasional

- Jumat, 09 Januari 2026 | 11:00 WIB
Khofifah Terima Satyalancana, Jatim Kembali Jadi Raja Beras Nasional

Di tengah terik matahari di Karawang, Jawa Barat, Rabu (7/1) lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menerima sebuah kehormatan. Presiden Prabowo Subianto menganugerahinya Satyalancana Wira Karya Swasembada Pangan 2025. Penghargaan ini bukan datang tiba-tiba, melainkan buah dari capaian konkret Jatim sebagai penyumbang padi dan beras terbesar sepanjang tahun lalu.

“Alhamdulillah kami haturkan terima kasih sebesar-besarnya pada Bapak Presiden Prabowo atas tanda kehormatan Satyalancana Wira Karya yang kami terima hari ini,” ujar Khofifah dalam keterangan tertulisnya, Jumat (9/1/2026).

Bagi Khofifah, piala ini milik bersama. Ia menegaskan, prestasi itu lahir dari kolaborasi ketat antara petani, kelompok tani, pemerintah daerah, hingga dukungan penuh dari Kementerian Pertanian. Tanpa sinergi itu, swasembada mungkin hanya sekadar wacana.

Angkanya sendiri cukup mencengangkan. Menurut catatan BPS per 5 Januari 2026, produksi padi Jatim menyentuh 12,7 juta ton gabah kering panen. Setelah digiling, hasil berasnya mencapai 6,1 juta ton. Angka ini melonjak signifikan dibanding tahun 2024, yang 'hanya' 5,35 juta ton beras. Dengan capaian itu, Jatim berhasil menggeser Jawa Barat dan Jawa Tengah dari posisi puncak.

“Sekali lagi ini adalah buah dari kerja keras dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, terutama para petani Jawa Timur yang menjadi tulang punggung produksi pangan,” tegasnya.

Di balik angka-angka statistik itu, ada serangkaian upaya keras. Mekanisasi pertanian digenjot, bibit unggul disebarluaskan, dan irigasi dikelola dengan lebih efisien lewat pompanisasi. Hasilnya, luas panen pun membengkak dari 1,6 juta hektar di 2024 menjadi 1,84 juta hektar setahun kemudian.

Khofifah dengan bangga menyebut, kenaikan produksi pada 2025 adalah yang tertinggi dalam kurun lima tahun terakhir. “Kenaikannya sangat signifikan, yaitu 13,89 persen sepanjang 2020 - 2025. Ini artinya komitmen dan kerja keras kita sangat berdampak,” ujarnya.

Namun begitu, bagi Khofifah, swasembada lebih dari sekadar deretan angka. Ia adalah simbol kedaulatan. Dan yang tak kalah penting, semua capaian ini harus berujung pada kesejahteraan para petani itu sendiri. Itulah komitmen yang ingin dipegangnya ke depan.


Halaman:

Komentar