Denmark Ancang-ancang Bubarkan NATO Jika AS Serius Rebut Greenland

- Rabu, 07 Januari 2026 | 08:10 WIB
Denmark Ancang-ancang Bubarkan NATO Jika AS Serius Rebut Greenland

Dunia internasional masih tercengang menyusul operasi militer AS di Caracas yang berhasil menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro. Belum reda kehebohan itu, Donald Trump sudah mengalihkan pandangannya ke arah yang lain: Greenland. Ya, wilayah otonom di bawah Denmark itu kini jadi bidikan sang mantan presiden yang baru saja kembali berkuasa.

Rupanya, ketertarikan Trump pada Greenland bukan hal baru. Sejak tahun lalu, ia sudah melontarkan wacana itu. Baginya, pulau es itu punya posisi strategis yang luar biasa, ditambah kekayaan mineralnya yang melimpah. Jadi, bukan sekadar angan-angan belaka.

Reaksi Denmark: Ancaman Bubarkan NATO

Namun begitu, rencana itu langsung ditolak mentah-mentah oleh Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen. Reaksinya keras dan tegas. Ia bahkan mengingatkan bahwa upaya pencaplokan Greenland oleh Amerika Serikat bisa berarti tamatnya aliansi NATO yang telah terjalin puluhan tahun.

Kekhawatiran di Kopenhagen sangat nyata. Greenland adalah bagian dari Kerajaan Denmark, dan oleh karenanya, dilindungi oleh pakta pertahanan NATO. Serangan terhadap satu anggota, adalah serangan terhadap semua.

"Kalau Amerika Serikat sampai memilih untuk menyerang negara NATO lain secara militer, ya sudah, semuanya berakhir," tegas Frederiksen dalam wawancara dengan TV2 Denmark, Senin (5/1) lalu.

"Itu artinya NATO kita juga berakhir. Begitu pula keamanan yang kita jaga sejak Perang Dunia Kedua usai," sambungnya.

Eropa Bersatu Mendukung Denmark

Di sisi lain, tekanan terhadap Trump tidak hanya datang dari Denmark. Sejumlah pemimpin Eropa terkemuka ikut angkat bicara. Mereka mengeluarkan pernyataan bersama yang isinya jelas: menentang rencana AS menguasai Greenland.

Dari Presiden Prancis Emmanuel Macron, Perdana Menteri Inggris Keir Starmer, hingga Kanselir Jerman Friedrich Merz, semuanya satu suara. Mereka didampingi oleh PM Italia Giorgia Meloni, PM Polandia Donald Tusk, dan PM Spanyol Pedro Sanchez. Mette Frederiksen sendiri juga menandatanganinya.

Intinya, mereka menegaskan bahwa keamanan di kawasan Arktik adalah prioritas utama Eropa. Dan itu harus dijaga bersama, dengan tetap menghormati kedaulatan.

"Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland yang berhak menentukan masa depan mereka sendiri," bunyi pernyataan tegas itu.

Mereka juga menekankan prinsip-prinsip universal seperti kedaulatan dan integritas teritorial yang tak boleh dilanggar. "Prinsip ini universal. Dan kami tak akan berhenti membelanya," tambah pernyataan tersebut, meski tetap menyebut AS sebagai sekutu penting.

Sejak kembali ke Gedung Putih, Trump memang bersikeras. Negeri Paman Sam 'butuh' Greenland demi alasan keamanan nasional. Ia bahkan tak menampik opsi militer untuk mewujudkannya. Langkah kontroversialnya memuncak ketika ia menunjuk Gubernur Louisiana, Jeff Landry, sebagai Utusan Khusus untuk Greenland. Tindakan inilah yang memicu Denmark memanggil duta besar AS untuk protes.

"Kita butuh Greenland untuk keamanan nasional. Bukan cuma untuk mineralnya," ujar Trump dalam sebuah konferensi pers di Palm Beach, Florida.

Dia menggambarkan kekhawatirannya melihat aktivitas kapal-kapal Rusia dan China di perairan sekitar Greenland. "Lihat saja ke sana, kapal-kapal mereka ada di mana-mana," katanya.

Dengan nada yang tak terbantahkan, presiden ke-47 AS itu menegaskan kembali, "Kita harus memilikinya."

Suasana memang semakin memanas. Dunia pun menunggu, apa langkah Trump selanjutnya setelah mendapat tentangan begitu solid dari sekutu-sekutu lamanya di Eropa.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar