Di ruang retret Hambalang, Bogor, suasana pagi itu terasa cukup khidmat. Presiden Prabowo Subianto berdiri di hadapan para menteri, wakil menteri, dan sejumlah kepala lembaga. Inti pesannya jelas: ia ingin anak buahnya punya inisiatif sendiri. Jangan cuma menunggu perintah atasan.
Acara itu adalah taklimat awal tahun, bagian dari retret kabinet kedua, Selasa lalu. Prabowo membuka dengan apresiasi. Ia melihat kinerja jajarannya selama ini sudah menunjukkan keberanian dalam mengambil keputusan.
"Tidak terlalu sering saya kumpulkan Saudara-saudara," ujarnya.
"Saudara-saudara telah bekerja dengan penuh inisiatif, dengan penuh pemahaman, keberanian," tambah Prabowo.
Menurutnya, sikap itu sudah terlihat di berbagai kesempatan. Pemimpin sejati, begitu penekanannya, adalah orang yang mampu menangkap strategi besar yang digariskan. Bukan sekadar pelaksana pasif.
"Karena Saudara-saudara mengambil keputusan, mengambil inisiatif, itu membutuhkan keberanian," katanya.
"Yang paling aman, paling gampang, ya tidak berbuat apa-apa atau menunggu petunjuk."
Namun begitu, ia ingin filosofi itu betul-betul meresap. Arahannya, para pejabat harus bisa menentukan langkah strategis berdasarkan pemahaman akan tujuan besar. Intinya, kerja itu perlu nyali dan pemikiran mandiri.
"Tetapi pemimpin sejati, pemimpin sebenarnya, adalah mereka yang memahami strategi besar, memahami tujuan, memahami direktif pemimpin," tegas Prabowo.
Pesan penutupnya sederhana tapi tegas. Ia tak ingin setiap hal kecil harus menunggu lampu hijau dari atas. Yang penting, paham arah umum dan punya keberanian untuk maju.
"Sehingga yang dipahami adalah arah besar, adalah petunjuk umum. Bukan tiap keputusan harus menunggu petunjuk atasan," pungkasnya.
Artikel Terkait
KPK Periksa Bupati Muara Enim Nonaktif Edison sebagai Tersangka Suap Pengaturan Temuan BPK
AS Serang Target Militer Iran, CENTCOM Sebut sebagai Bentuk Bela Diri
Harga Emas di Pegadaian Turun Serentak, UBS Paling Dalam Rp54.000 per Gram
Dari Desa ke Kampus: Perjalanan Anak Pedesaan Menembus Batas Akses dan Budaya demi Pendidikan Tinggi