Setelah Banjir Terus Menerjang, 200 Santri di Bali Bertahan Belajar Tanpa Meja dan Buku

- Senin, 05 Januari 2026 | 11:10 WIB
Setelah Banjir Terus Menerjang, 200 Santri di Bali Bertahan Belajar Tanpa Meja dan Buku

Berbagi dengan 200 Santri

Pesantren ini terletak di Jembrana, Bali daerah dengan populasi muslim minoritas. Tapi, lokasi itu sama sekali tak mengurangi minat calon santri. Justru, banyak yang datang dari Bali, Jakarta, dan berbagai daerah lain. Mereka tertarik oleh pendidikan formal dan agama yang ditawarkan, apalagi dengan fasilitas yang bisa diakses secara gratis.

Baik yang yatim piatu maupun yang masih memiliki orang tua, semua bisa fokus belajar tanpa dibebani biaya. Namun, di sisi lain, kemudahan ini justru menjadi tantangan besar bagi pengelola. Jumlah santri terus bertambah setiap tahun, dan pada 2025 ini sudah mencapai sekitar 200 orang.

"Kebutuhan harian ini bukan cuma makan ya," jelas Ali.

Untuk menutupi kebutuhan itu, pesantren sudah berusaha mandiri dengan membuka usaha air minum isi ulang dan penjualan tiket penyeberangan. Sayangnya, pendapatan dari sana belum sebanding dengan pengeluaran yang harus ditanggung.

Nah, di tengah semua keterbatasan dan cobaan beruntun ini, semangat mereka untuk belajar tetap menyala. Tapi, mereka butuh bantuan kita. Bantuan untuk menyediakan meja, buku, dan memenuhi kebutuhan harian mereka. Dengan dukungan yang tepat, mimpi para santri ini untuk meraih ilmu bisa tetap berjalan, bahkan melaju lebih kencang.


Halaman:

Komentar