Selama berbulan-bulan, mata-mata Amerika Serikat mengintai setiap gerak-gerik Nicolas Maduro. Mereka tahu segalanya tentang pria berusia 63 tahun itu. Di mana dia tidur, apa yang dimakannya, bahkan menurut klaim sejumlah perwira tinggi militer soal hewan peliharaannya. Semua informasi ini mengalir dari sebuah tim kecil yang menyusup, termasuk informan di dalam lingkaran pemerintahan Venezuela sendiri.
Lalu, di awal Desember, sebuah misi yang dijuluki "Operasi Absolute Resolve" akhirnya dinyatakan siap.
Persiapannya sangat matang. Butuh perencanaan dan latihan berbulan-bulan. Pasukan elit AS bahkan membangun replika persis rumah persembunyian Maduro di Caracas hanya untuk berlatih manuver penyergapan. Menurut sejumlah saksi, ketelitiannya luar biasa.
Rencana ini adalah intervensi militer AS paling dramatis di Amerika Latin sejak era Perang Dingin. Dan semuanya dirahasiakan dengan sangat ketat. Kongres sama sekali tidak dilibatkan atau diberi tahu sebelumnya.
Setelah semua rincian dipatok, para perwira tinggi tinggal menunggu momen yang tepat. Mereka butuh kondisi optimal.
"Kami ingin memaksimalkan unsur kejutan," ujar seorang pejabat militer, Sabtu (3/1/2026) itu. Sebenarnya, ada upaya yang gagal empat hari sebelumnya, tepat setelah Presiden Donald Trump memberi lampu hijau. Tapi mereka menunda, menunggu cuaca lebih bersahabat dengan tutupan awan yang minim.
Jenderal Dan Caine, perwira militer berpangkat tertinggi di AS, menggambarkan suasana menegangkan itu. "Selama beberapa pekan menjelang Natal dan Tahun Baru, para pria dan perempuan di militer Amerika Serikat duduk bersiap. Dengan sabar, mereka menunggu semua pemicu terpenuhi dan presiden memerintahkan kami untuk bertindak," katanya dalam konferensi pers Sabtu pagi.
'Semoga Berhasil dan Tuhan Memberkati'
Perintah itu akhirnya datang. Tepat pukul 22.46 waktu Timur AS, Jumat malam (09.46 WIB Sabtu).
"Kami akan melakukan ini empat hari yang lalu, tiga hari, dua hari," kata Trump sendiri kepada Fox & Friends beberapa jam setelah penyerbuan. "Lalu tiba-tiba kesempatan itu terbuka. Dan kami bilang: Lanjutkan."
Jenderal Caine mengutip ucapan presiden. "Dia mengatakan kepada kami, dan kami menghargainya: 'semoga berhasil dan Tuhan memberkati'."
Perintah itu memberi mereka jendela operasi di kegelapan malam Caracas. Yang terjadi selanjutnya adalah sebuah misi selama dua jam dua puluh menit yang melibatkan udara, darat, dan laut. Sebuah aksi yang mengejutkan Washington dan dunia.
Dari segi skala dan presisi, serangan ini hampir tak ada tandingannya. Reaksi keras pun langsung berdatangan dari sejumlah kekuatan regional.
Presiden Brasil, Lula da Silva, misalnya, menyebut penangkapan dengan kekerasan terhadap pemimpin Venezuela itu menciptakan "preseden yang sangat berbahaya."
Trump tidak memantau dari Ruang Situasi Gedung Putih. Ia justru menyaksikan siaran langsung operasi itu dari klub pribadinya, Mar-a-Lago di Palm Beach, Florida. Didampingi Direktur CIA John Ratcliffe dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
"Sungguh luar biasa untuk disaksikan," kata Trump di hari Sabtu. "Saya menontonnya seperti sedang menonton acara televisi. Kecepatan dan kekerasannya... sungguh menakjubkan. Pekerjaan luar biasa yang dilakukan orang-orang ini."
Ribuan pasukan AS telah dikerahkan di sekitar Venezuela dalam beberapa bulan terakhir. Mereka didukung sebuah kapal induk dan puluhan kapal perang pengerahan militer terbesar dalam beberapa dekade. Trump menuduh Maduro terlibat perdagangan narkoba dan terorisme narkoba.
Tapi tanda pertama Operasi Absolute Resolve justru terlihat di langit. Lebih dari 150 pesawat, mulai dari pembom, jet tempur, hingga pengintai, dikerahkan sepanjang malam. "Sangat kompleks, seluruh manuver, pendaratan, jumlah pesawat," ujar Trump. "Kami punya jet tempur untuk setiap kemungkinan."
Ledakan keras mengguncang Caracas sekitar pukul 02:00 dinihari waktu setempat. Asap mengepul.
"Saya mendengar suara yang sangat besar, dentuman keras," kata reporter Ana Vanessa Herrero kepada BBC. "Semua jendela bergetar. Lalu, awan asap besar hampir menghalangi seluruh pandangan."
"Pesawat dan helikopter beterbangan di seluruh kota," imbuhnya.
Video-video dari warga pun langsung membanjiri media sosial. Satu rekaman menunjukkan konvoi helikopter terbang rendah, sementara asap mengepul dari lokasi ledakan.
"Kami terbangun sekitar pukul 01:55 karena deru ledakan dan dengung pesawat," kata Daniela, seorang saksi mata. "Semuanya gelap gulita, hanya diterangi kilatan-ledakan di dekatnya. Para tetangga saling kirim pesan di grup obrolan, semua bingung dan ketakutan."
Analisis terhadap sejumlah video mengonfirmasi setidaknya lima lokasi sasaran. Termasuk Pangkalan Udara La Carlota dan Pelabuhan La Guaira jalur utama Caracas ke Laut Karibia.
Serangan AS difokuskan pada sistem pertahanan udara dan fasilitas militer lainnya. Trump juga menyebut AS mematikan aliran listrik di Caracas sebelum misi dimulai. "Lampu-lampu di Caracas sebagian besar padam karena keahlian tertentu yang kami miliki," katanya singkat. "Gelap dan mematikan."
'Mereka Tahu Kami Akan Datang'
Sementara serangan udara berkecamuk, pasukan darat AS mulai memasuki kota. Sumber kepada mitra BBC, CBS, menyebut pasukan itu melibatkan anggota Delta Force, unit khusus paling elite. Mereka membawa senjata berat dan pemotong logam untuk membongkar pintu baja rumah aman Maduro.
Pasukan tiba di lokasi Maduro tak lama setelah serangan dimulai, sekitar pukul 02:01. Trump menggambarkan tempat itu sebagai benteng militer yang kokoh di jantung kota. "Mereka sudah siap menunggu kami. Mereka tahu kami akan datang," ujarnya.
Salah satu helikopter AS dikabarkan terkena tembakan, tapi masih bisa terbang. "Pasukan penangkapan masuk ke kompleks dan bergerak dengan cepat, presisi, dan disiplin," kata Jenderal Caine.
"Mereka menerobos tempat-tempat yang sebenarnya tidak bisa diterobos," tambah Trump. "Pintu baja yang dipasang khusus untuk tujuan itu."
Operasi yang juga menangkap istri Maduro, Cilia Flores, ini berlangsung singkat. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Rubio mulai memberi tahu anggota kongres sebuah langkah yang kemudian memicu kemarahan.
"Biarkan saya jelaskan: Nicolas Maduro adalah diktator yang tidak sah. Tapi, melancarkan aksi militer tanpa persetujuan Kongres dan tanpa rencana yang kredibel adalah tindakan ceroboh," protes Chuck Schumer, pemimpin Demokrat di Senat.
Rubio membela keputusan itu. Memberi pemberitahuan lebih awal bisa membahayakan misi. "Kongres cenderung bocor," sela Trump. "Ini tidak akan baik."
Di dalam kediaman Maduro, saat pasukan AS membanjiri area, Trump mengatakan sang presiden berusaha lari ke ruang aman. "Dia berusaha mencapai tempat aman, yang sebenarnya tidak aman, karena kami akan menghancurkan pintunya dalam waktu sekitar 47 detik," katanya.
"Dia sampai ke pintu. Dia tidak bisa menutupnya. Diserbu begitu cepat."
Saat ditanya apakah AS bisa membunuh Maduro jika dia melawan, Trump menjawab singkat. "Itu bisa terjadi." Di pihak AS, beberapa orang terluka, tapi tidak ada yang tewas. Otoritas Venezuela belum mengonfirmasi korban di sisi mereka.
Pada pukul 04:20 waktu setempat, helikopter meninggalkan Venezuela. Maduro dan istrinya ada di dalamnya, menjadi tahanan Departemen Kehakiman AS dalam perjalanan ke New York untuk menghadapi tuntutan pidana.
Kira-kira satu jam kemudian, Trump mengumumkan penangkapan itu kepada dunia. "Maduro dan istrinya akan segera menghadapi kekuatan penuh keadilan Amerika," serunya.
PBB Prihatin
PBB bereaksi. Juru bicara Sekretaris Jenderal Antonio Guterres menyatakan "sangat prihatin" dengan operasi militer AS itu, yang dinilainya memiliki "implikasi mengkhawatirkan" bagi kawasan.
"Terlepas dari situasi di Venezuela, perkembangan ini merupakan preseden yang berbahaya," bunyi pernyataan itu. Guterres menekankan pentingnya penghormatan terhadap hukum internasional dan Piagam PBB, seraya menyerukan dialog inklusif di Venezuela.
Kolombia, dengan dukungan Rusia dan China, telah meminta pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB membahas situasi ini.
Tambahan reportase dari Cristobal Vasquez
Artikel Terkait
Polda Metro Jaya Tangkap Empat Pengedar Tramadol Ilegal di Tanah Abang
Tabrakan Dua Bus Transjakarta di Koridor 13 Pagi Ini, Lalu Lintas Tersendat
Harga Cabai di Jakarta Turun Alami Menjelang Ramadan
Warga Kalideres Tolak Pembangunan Rumah Duka dan Krematorium Tanpa Sosialisasi