Keputusan STC Buka Pintu untuk Pasukan Saudi, Tapi Dua Provinsi Kunci Tetap Dipertahankan

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 09:30 WIB
Keputusan STC Buka Pintu untuk Pasukan Saudi, Tapi Dua Provinsi Kunci Tetap Dipertahankan

Suasana panas antara kedua sekutu Teluk ini meledak setelah sebuah insiden. Koalisi pimpinan Saudi mengebom apa yang mereka klaim sebagai kiriman senjata dari UEA untuk pasukan STC di pelabuhan Mukalla. Serangan itu terjadi Selasa lalu. Menurut Riyadh, pengiriman senjata itu ancaman langsung bagi perdamaian.

UEA membantah keras. Mereka malah meminta STC menarik diri dari wilayah yang baru direbut. Tak hanya itu, Kementerian Pertahanan UEA menyatakan akan menarik sisa pasukannya dari Yaman sebagian besar memang sudah ditarik sejak 2019.

Di sisi lain, Dewan Presidensial Yaman yang pro-Saudi mengambil langkah tegas. Mereka umumkan keadaan darurat, terapkan larangan 72 jam untuk semua perlintasan perbatasan, kecuali yang diizinkan Riyadh. Mereka juga minta pasukan UEA pergi dalam 24 jam dan membatalkan perjanjian keamanan dengan Abu Dhabi.

Juru bicara pemerintah UEA, Afra Al Hameli, bersikukuh. "Abu Dhabi menegaskan penolakan sepenuhnya terhadap tuduhan yang terkait dengan memicu konflik di Yaman," katanya. Meski membantah mengirim senjata, UEA mengakui ada transfer kendaraan militer ke STC. Hanya saja, mereka tidak menyebut kapan penarikan pasukan akan dilakukan.

Bayang-bayang Pemisahan Yaman Selatan

Ekspansi STC bulan lalu membuka kembali kemungkinan yang lama tertidur: pemisahan Yaman Selatan. Wilayah ini dulu negara merdeka antara 1967 dan 1990. Kini, dengan kendali yang makin kuat, mimpi kemerdekaan penuh itu terasa makin nyata.

Farea Al-Muslimi, peneliti di Chatham House, punya pandangan menarik. Ia menilai kesepakatan parsial soal penempatan pasukan Saudi ini "lebih bersifat simbolis daripada solusi nyata." Saat ini, STC menguasai hampir seluruh wilayah Yaman Selatan pra-1990. Mereka pegang Aden, pelabuhan strategis sekaligus pusat ekonomi, bahkan pulau Socotra di Samudra Hindia.

Kontrol yang hampir total ini memberi mereka peluang besar. Aden bukan cuma penting secara ekonomi, tapi juga punya nilai simbolis yang kuat. Para analis memperingatkan, koalisi melawan Houthi yang sudah rapuh dan stagnan ini berisiko tinggi runtuh sama sekali.

Peta kekuatan saat ini cukup gamblang: Houthi kuasai sepertiga wilayah di utara dan barat, termasuk ibu kota Sanaa. STC efektif kendalikan sekitar separuh wilayah Yaman. Sementara pemerintah resmi yang didukung Saudi hanya memegang kurang dari 15% wilayah. Yaman, dengan kata lain, berada di titik kritis. Risiko eskalasi perang sipil dan ketegangan geopolitik regional makin nyata dan mengkhawatirkan.

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris.
Diadaptasi oleh Rahka Susanto
Editor: Rizki Nugraha


Halaman:

Komentar