Trump Buka Suara Soal Memar Misterius di Tangannya: Efek Samping Aspirin

- Jumat, 02 Januari 2026 | 13:20 WIB
Trump Buka Suara Soal Memar Misterius di Tangannya: Efek Samping Aspirin

Donald Trump punya penjelasan sendiri soal memar besar yang kerap terlihat di tangannya. Mantan presiden AS itu menyalahkan aspirin. Dalam wawancara dengan The Wall Street Journal yang dirilis Kamis lalu, politikus berusia 79 tahun itu juga membantah keras kabar bahwa dirinya kerap tertidur di tengah pertemuan publik.

Menurut sejumlah saksi, tahun pertama masa jabatan keduanya ini justru memunculkan banyak tanda tanya. Tangan kanannya sering terlihat lebam, biasanya ditutupi riasan tebal atau bahkan perban. Pergelangan kakinya kadang tampak bengkak. Belum lagi, di beberapa kesempatan termasuk saat pertemuan di Ruang Oval November lalu yang disiarkan televisi Trump terlihat kesulitan menjaga matanya tetap terbuka.

Hal ini tentu sensitif secara politik. Bagaimana tidak, Trump sendiri kerap menyebut pendahulunya, Joe Biden dari Partai Demokrat, sebagai "tukang ngantuk". Kini, sorotan justru berbalik ke arahnya.

Soal memar itu, Trump punya cerita. Dia bilang itu efek samping dari aspirin yang rutin diminumnya setiap hari. "Saya tidak ingin darah kental mengalir melalui jantung saya," katanya kepada Journal.

Dia mengaku minum obat pengencer darah itu demi kesehatan. Kalau sampai terbentur, ya sudah, memarnya jadi gampang sekali muncul. Makanya kadang dia pakai riasan atau perban untuk menutupinya.

Ada satu insiden yang dia ceritakan. Memar di punggung tangannya itu, katanya, gara-gara Jaksa Agung AS Pam Bondi yang tanpa sengaja memukulnya dengan cincin saat memberi tos. "Kesehatan saya sempurna," tegas Trump, yang terlihat frustrasi dengan pengawasan ketat terhadap kondisi fisiknya.

Di sisi lain, gaya hidupnya juga jadi bahan perhatian. Trump jarang berolahraga, kecuali main golf di lapangannya sendiri. Dia juga tak pernah sungkan mengaku doyan makanan cepat saji yang tinggi lemak dan garam.

Citra politiknya selama ini memang dibangun dari penampilan penuh semangat. Lewat interaksi langsung dengan jurnalis, unggahan media sosial yang tiada henti, atau meme AI yang menggambarkannya seperti pahlawan super. Namun belakangan, ritme itu seperti mendapat ujian.

Dalam wawancara yang sama, Trump juga mengoreksi pernyataan sebelumnya. Soal pemindaian yang dijalaninya Oktober lalu, dia bilang itu bukan MRI, melainkan CT scan yang prosesnya lebih cepat. Detail kecil, tapi sekali lagi, jadi perhatian.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar