Latihan Militer China di Dekat Taiwan Picut Kecaman dan Tudingan Munafik

- Kamis, 01 Januari 2026 | 07:10 WIB
Latihan Militer China di Dekat Taiwan Picut Kecaman dan Tudingan Munafik

Latihan militer China di perairan dekat Taiwan, yang digelar beberapa hari lalu, tak hanya memamerkan kekuatan. Latihan itu juga memantik reaksi keras dari sejumlah negara. Menanggapi kritikan tersebut, Beijing justru balik menuding pihak-pihak yang mengkritik sebagai 'munafik'.

Menurut informasi, latihan yang digelar pada Senin dan Selasa (29-30 Desember) itu melibatkan skala yang cukup besar. China meluncurkan rudal, mengerahkan puluhan jet tempur, serta menggelar kapal perang dan kapal penjaga pantai di sekitar Taiwan. Suasana di perairan itu pun tentu saja mencekam.

Di sisi lain, militer Beijing punya penjelasan sendiri. Mereka menyatakan latihan ini adalah simulasi blokade terhadap pelabuhan utama Taiwan dan serangan terhadap target maritim. Tujuannya jelas: sebagai respons terhadap apa yang mereka sebut sebagai ancaman separatis.

Namun begitu, langkah China ini langsung menuai kecaman. Jepang dan Australia termasuk yang bersuara lantang mengkritik.

Tanggapan China? Justru lebih keras lagi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian, tak tinggal diam. Dalam sebuah konferensi pers, ia menyampaikan kecaman balik dengan nada yang tegas.

"Negara-negara dan lembaga-lembaga ini menutup mata terhadap kekuatan separatis di Taiwan yang berupaya mewujudkan kemerdekaan melalui cara-cara militer,"
"Tapi, mereka malah melontarkan kritikan tidak bertanggung jawab terhadap langkah China yang diperlukan dan adil. Ini upaya mempertahankan kedaulatan nasional dan integritas wilayah kami. Tindakan mereka memutarbalikkan fakta, mencampuradukkan yang benar dan salah. Sangat munafik,"

Begitulah pernyataan Lin Jian, seperti yang dilaporkan kantor berita AFP. Kritik dan kecaman saling berbalas, memperlihatkan betapa panasnya situasi di kawasan itu. Latihan perang yang seharusnya jadi urusan internal militer, kini justru berubah menjadi perang kata-kata di panggung internasional.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar